
Adnan dan Meyra sama-sama tersenyum pada Azam. Mereka segera sarapan.
Bersamaan dengan itu, Amena menangis. Meyra sontak buru-buru mendatanginya. Lalu mengambil alih Amena dari gendongan Agni. Ia segera menyusui bayi tersebut.
Sekian menit kemudian, Adnan dan Azam baru selesai makan. Selanjutnya, mereka pergi dari rumah seperti biasa.
"Aku belum berpamitan pada Mbak Meyra. Om juga kan?" tukas Azam saat hampir menaiki mobil. Menatap lelaki yang sekarang sedang memegang tangannya.
"Sudahlah, Mbak Meyra sedang sibuk," tanggap Adnan tak peduli.
"Tidak, Om! Aku pernah mendengar ceramah Ustadz Wahyu bahwa kebaikan sekecil apapun yang kau lakukan untuk seseorang itu akan mendapat pahala. Apalagi kan sekarang Om Adnan udah menikah sama Mbak Meyra. Pahalanya pasti besar kalau bisa membahagiakan istri," ujar Azam. Lagaknya sudah seperti orang dewasa yang menasihati.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita berpamitan padanya." Adnan tak bisa menolak. Dia dan Azam segera menemui Meyra ke kamar Amena.
Setibanya di kamar, Azam langsung mencium punggung tangan Meyra. Setelah itu dia menatap Adnan. Seakan mempersilahkan pria tersebut untuk berpamitan pada Meyra.
Adnan yang mengerti, segera menghampiri Meyra. Pupil perempuan itu membesar. Bingung dengan tindakan Adnan.
"Aku pergi juga. Baik-baiklah di rumah dengan Amena," ujar Adnan seraya menyentuh pundak Meyra.
"Hanya itu? Bukankah Om seharusnya mencium kening Mbak Meyra," cetus Azam. Wajah Meyra dan Adnan sontak memerah.
__ADS_1
"Azam, Om Adnan tidak perlu-"
Cup!
Ucapan Meyra terjeda tatkala Adnan tiba-tiba mencium keningnya. Jantung Meyra seketika berdegup kencang. Ia terpana menatap lelaki yang baru saja menyentuh keningnya dengan bibir.
"Yeay! Itu baru suami istri," ucap Azam. Tersenyum puas.
Usai mengecup kening Meyra, Adnan dan Azam benar-benar pergi. Meninggalkan Meyra yang berdiri dalam keadaan mematung. Dalam hitungan detik, Adnan dan Azam menghilang dari pandangannya.
Perlahan Meyra memegangi keningnya sendiri. Jujur saja, selain merasakan jantung yang berdebaran, Meyra juga merasakan sengatan aneh disekujur tubuhnya. Getaran yang bisa dibilang terasa candu. Sulit untuk dijelaskan.
Meyra merebahkan diri ke sofa. Ia memejamkan mata dan berusaha menenangkan diri. Meyra terus kepikiran dengan ciuman Adnan tadi.
Ponsel Meyra tiba-tiba berdering. Dia mendapatkan telepon dari Adnan.
Tidak seperti biasanya, jantung Meyra berdetak lebih cepat walau hanya membaca nama Adnan di layar ponsel. Meskipun begitu, dia berusaha tenang dan menjawab telepon itu.
"Ada apa? Tumben sekali siang-siang begini menelepon," sambut Meyra.
"Ya, itu karena aku ingin meluangkan waktu untukmu. Ini berkaitan dengan hal yang kita bicarakan tadi pagi," terang Adnan dari seberang telepon.
__ADS_1
"Maksudmu tentang traumaku," tebak Meyra.
"Ya. Ayo kita pergi ke psikiater," ajak Adnan.
"Aku tidak gila." Meyra awalnya menolak.
"Siapa yang bilang kau gila? Semua orang yang berurusan dengan psikiater tidak selalu gila!" tanggap Adnan. Berusaha meyakinkan Meyra.
"Begitukah? Aku hanya merasa malu..." Meyra mendengus kasar.
"Kau tidak perlu merasa malu. Apa kau lebih memilih memegang harga dirimu atau menderita karena traumamu itu selamanya?"
Pertanyaan Adnan itu membuat Meyra terdiam. Perempuan tersebut mulai goyah.
"Ayolah. Kalau kau sembuh dari traumamu, maka aku juga tidak akan repot." Adnan mencoba terus membujuk Meyra.
"Jadi itu tujuanmu? Tidak mau repot?" Meyra memutar bola mata jengah. "Ya sudah kalau begitu. Kapan kita kan pergi?" tanyanya yang akhirnya setuju.
"Sekarang! Bersiaplah!" ujar Adnan.
"Sekarang? Tapi--" perkataan Meyra terpotong saat Adnan memutuskan panggilan telepon lebih dulu. Dia segera berganti pakaian dan bersiap.
__ADS_1