
Pagi-pagi sekali Meyra sudah ada di dapur. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia memasak dengan penuh semangat. Meyra bahkan membuat hidangan yang spesial hari itu.
Ketika semua makanan telah tersaji di meja, Meyra merekahkan senyum sambil menyatukan dua tangan ke depan dada. 'Semoga dia suka dengan makanan yang kuhidangkan sekarang,' pikirnya. Orang yang dimaksud Meyra tentu adalah Adnan.
"Eh tidak! Aku membuat semua makanan ini bukan hanya untuk dia." Meyra memperingatkan dirinya sendiri. Ia juga menggeleng tegas. Meyra tak mau buru-buru mengambil keputusan.
"Wow, makanan ini terlihat sangat berbeda dibanding sebelumnya." Adnan mendadak datang. Ia langsung memberi komentar.
Meyra segera menatap Adnan. Ia segera menyapa dengan senyuman.
"Aku yakin ini bisa menjadi awal pertemanan kita. Kau harus pastikan kalau kau adalah lelaki yang bisa kupercaya," tukas Meyra.
"Ayolah. Kau tahu aku bukan lelaki kurang ajar," tanggap Adnan. "Tunggu dulu. Biar aku panggil Azam untuk bergabung dengan--"
"Aku sudah di sini!" potong Azam yang perlahan muncul dari belakang tangga. Entah sejak kapan dia berdiam diri di sana.
"Azam! Kenapa kau datang dari balik tangga? Kau tidur di sana?" tanya Meyra.
__ADS_1
"Tidak." Azam menjawab singkat sambil menggeleng. Ia segera bergabung ke meja makan.
Saat semua orang sudah duduk, Azam menatap Meyra dan Adnan secara bergantian. Memang sejak kemarin, dia terus mengamati mereka. Itu semua karena Azam sangat curiga kalau Meyra dan Adnan memiliki hubungan khusus.
"Azam, cepat makan!" tegur Adnan yang bisa melihat gelagat aneh Azam.
"Mbak Mey, menurut Mbak, Om Adnan gimana?" tukas Azam.
Mendengar hal itu, Meyra tersedak dengan makanannya. Dia terkejut Azam mendadak bertanya begitu.
"Mey, jangan dengarkan. Azam sepertinya masih belum percaya kalau kita hanya teman," ucap Adnan menjelaskan. Dia juga bergegas menyodorkan minuman untuk Meyra. Perempuan itu lantas menerima minuman yang diberikan Adnan. Lalu meminumnya.
"Jadi kau masih curiga kalau aku dan Om Adnan adalah..." Meyra tak mengakhiri perkataannya.
"Begitulah. Aku hanya menilai dengan fakta. Tunggu saja, nanti aku akan temukan bukti," ujar Azam. Dia segera menikmati sarapannya.
Meyra dan Adnan saling bertukar tatapan. Keduanya menggeleng dan tersenyum. Berusaha memaklumi sikap Azam.
__ADS_1
Ketika sudah menghabiskan makanan, Azam pergi ke ruang tamu. Dia sudah sepenuhnya siap ke sekolah. Azam hanya perlu menunggu Adnan untuk mengantarnya.
"Azam, ini bekalmu." Meyra datang membawakan bekal untuk Azam.
"Mbak Mey belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana menurutmu Om Adnan?" Azam mencoba kembali melayangkan pertanyaan itu.
Meyra tersenyum geli. Dia balas bertanya, "Maksud tujuanmu menanyakan itu untuk apa?"
"Untuk memastikan. Kau dan Om Adnan cocok. Misalnya hubungan kalian awalnya memang hanya teman, aku yakin sekarang sudah berubah. Aku bisa melihat perubahannya dengan jelas," ujar Azam.
"Zam, kenapa kau sangat memikirkannya? Aku di sini hanya bekerja untuk menggantikan pembantu di rumah Om Adnan. Selain itu pekerjaanku adalah menyusui Amena," tanggap Meyra.
"Mungkin begitu. Tapi kalau nanti terjadi apa-apa di antaramu dan Om Adnan, maka aku tidak akan tinggal diam." Azam bicara dengan serius.
"Astaga, Azam... Kau lucu sekali. Aku pastikan tidak akan ada apa-apa yang terjadi di antaraku dan Adnan." Meyra mengusap puncak kepala Azam karena gemas.
"Mbak Mey benar. Tidak akan terjadi apa-apa di antara kami." Adnan datang dan membetulkan. Ia tergelak kecil bersama Meyra. Mentertawakan Azam. Anak itu lantas kembali memasang tatapan curiga.
__ADS_1