
Ririn datang menghampiri Azam dan Amena. Dia segera membawa Amena ke kamar Meyra. Ririn juga tak lupa mengajak Azam untuk ikut bersamanya.
Dalam perjalanan, Amena tak berhenti menangis. Tangisannya begitu histeris sampai membuat beberapa orang merasa kasihan melihatnya. Terutama Azam.
"Mena, Kakak ada di sini bersamamu. Sudah jangan menangis..." tutur Azam sambil mengekori Ririn. Matanya tampak berkaca-kaca. Menatap penuh belas kasih kepada sang adik yang wajahnya tengah memerah dan berlinang air mata.
"Kak, kau mau membawa Amena kemana?" tanya Azam yang masih cemas.
"Kepada seseorang yang mau membantunya. Kau akan tahu nanti," jawab Ririn seraya terus melangkah maju. Hingga akhirnya dia dan Azam tiba di kamar Meyra.
Meyra yang tak henti melamun, langsung menoleh ke arah Ririn. Tatapannya tertuju pada bayi Amena yang menangis.
"Ini Amena, Mbak..." ujar Ririn yang sudah berdiri di hadapan Meyra. Ia perlahan menyerahkan Amena ke dalam gendongan perempuan itu.
Buru-buru Meyra membuka kancing bajunya. Lalu menyusui Amena. Dalam sekejap, Amena berhenti menangis. Dia menghisap susu begitu lahap karena sangat kehausan.
"Ya ampun, dia sepertinya sangat kehausan," ucap Meyra. Seorang bayi seperti Amena sukses membuat Meyra mengukir senyuman di tengah penderitaannya.
__ADS_1
"Iya, aku rasa begitu," sahut Ririn sembari mengelus pelan kepala Amena.
"Pelan-pelan ya, Amena... Nanti tersedak," kata Azam.
Dahi Meyra mengerut samar. Atensinya tertuju pada Azam. Dia penasaran pada sosok anak lelaki itu.
"Ah benar. Ini adalah Azam. Kakaknya Amena." Mengerti dengan tatapan Meyra, Ririn memperkenalkan Azam.
Meyra hanya mengangguk dan tersenyum untuk menyapa Azam. Berbeda dengan anak lelaki itu yang berjalan lebih dekat ke arah Meyra.
Meyra setuju saja. Terlebih Azam terkesan seperti anak pintar yang mudah di atur.
Benar saja, Azam terus diam. Namun ada satu hal yang membuat Meyra terganggu. Yaitu tatapan sedih anak itu.
Azam tak berhenti menatap Meyra dengan penuh kasih sayang. Perlahan matanya berkaca-kaca. Hingga akhirnya anak itu memecahkan tangis.
Meyra sontak khawatir. Dia berusaha menenangkan Azam.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa? Kenapa menangis?" tanya Meyra.
"A-aku teringat dengan Umi... Rasanya baru kemarin dia bersamaku dan Amena," ucap Azam sambil terisak. Dia menutupi matanya dengan dua tangan.
"Kemarilah..." Meyra jadi ikut menangis. Ketika Azam mendekat, dia memeluk anak itu dengan satu tangannya.
"Sekarang kau bukan satu-satunya orang yang kehilangan..." kata Meyra. Saat bicara begitu, hatinya menyadari satu hal. Bahwasanya dia harus bisa tegar. Persis seperti yang diharapkannya pada Azam sekarang.
"Umi dan abi selalu bilang kalau aku harus kuat saat menghadapi masalah apapun. Tapi masalah ini rasanya terlalu.. Terlalu..." tangisan Azam menjadi-jadi. Dia tak bisa meneruskan lagi. Azam juga tak tahu kenapa dirinya bisa mengungkapkan kesedihan ketika bersama Meyra. Mungkin perempuan itu sudah membuatnya teringat dengan sang ibu.
"Menangislah sepuasnya. Katanya itu bisa membuatmu lebih baik. Kau tidak perlu terus berpura-pura baik-baik saja," tutur Meyra. Ia mengelus pelan pundak Azam. Tanpa sadar anak itu menyandar ke bahunya. Azam tak sengaja tertidur.
Sedangkan Amena, sejak tadi dia begitu menikmati susunya. Sampai akhirnya bayi itu memejamkan mata dan tertidur juga.
Dengan hati-hati, Meyra meletakkan Amena ke sebelahnya. Dia juga tak lupa menjadikan tangannya sebagai penopang badan Amena agar tidak jatuh. Setelah itu, Meyra memandangi Azam dan Amena secara bergantian. Entah kenapa kedua anak tersebut bisa memberikannya sepercik kebahagiaan. Perlahan Meyra menyandar ke bantal dan ikut tertidur.
Beberapa saat kemudian Adnan datang. Dia yang awalnya tergesa-gesa, segera berhenti melangkah saat melihat pemandangan di dalam kamar. Adnan bisa melihat betapa nyenyaknya Meyra, Azam, dan Amena tidur.
__ADS_1