Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 14 - Kopi Lagi


__ADS_3

Meyra mencoba mengumpulkan susunya untuk Amena. Lalu memberikan susu itu saat Amena terbangun dan ingin menyusu. Untungnya bayi tersebut mau meminum susu dari dalam dot.


Senyuman mengembang di wajah Meyra. Dia jadi teringat dengan anaknya.


"Andai bayiku bisa bertahan, mungkin kita tidak akan bertemu, Amena..." lirih Meyra. Dia merawat Amena dengan penuh kasih sayang. Dirinya juga selalu menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri.


Selepas menidurkan Amena, Meyra pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dia menggunakan beberapa bahan makanan yang tersedia. Setelah makanan telah siap di meja, Meyra memanggil semua orang untuk bergabung.


Azam dan Adnan datang bersama-sama. Azam terlihat berlari lebih dulu memilih tempat duduk. Lalu dilanjutkan oleh Adnan.


Sementara Meyra memilih beranjak ke dapur. Mengingat dia hanya dianggap Adnan sebagai pekerja di rumahnya. Namun berbeda dengan Azam yang menganggap Meyra sebagai orang spesial Adnan.


"Mbak Meyra kok nggak ikut makan?" Azam bertanya pada Adnan.


"Mungkin dia kenyang," jawab Adnan. Dia mencicipi masakan Meyra. Matanya seketika membulat. Karena masakan Meyra enak dan sangat sesuai dengan seleranya. Selain itu, entah kenapa masakan Meyra mengingatkan Adnan dengan masakan mendiang ibunya.


"Kalian masih bertengkar?" selidik Azam curiga.


"Apa maksudmu? Tentu saja tidak!" bantah Adnan.


"Kalau begitu biarkan Mbak Meyra makan bersama kita!" pinta Azam.

__ADS_1


Adnan tak punya pilihan lain selain setuju. Dia lantas memanggil Meyra. Perempuan itu segera datang.


"Iya, Kenapa? Tidak ada yang aneh dengan makanannya kan?" tanya Meyra.


"Bukan begitu. Makanlah bersama kami. Duduklah!" suruh Adnan yang enggan menatap Meyra.


"Iya, Mbak! Ayo kita makan bareng!" ajak Azam dengan senyuman lebar.


Meyra balas tersenyum. Sambil menarik kursi, dia mendelik ke arah Adnan. Karena Meyra yakin pasti Adnan membiarkannya makan di meja hanya karena keinginan Azam.


Ketika makan, diam-diam Azam menatap Adnan dan Meyra secara bergantian. Dia bertanya, "Kapan Om Adnan dan Mbak Meyra menikah?"


Mendengar pertanyaan Azam, Meyra dan Adnan kaget. Adnan bahkan sampai tersedak. Lelaki itu buru-buru minum air putih.


"Azam, kau tidak mengerti. Aku dan Om Adnan nggak memiliki hubungan seperti yang kau pikirkan." Meyra segera angkat suara. Dia sigap menyenggol kaki Adnan sambil mendelik.


"Mbak Meyra benar, Zam! Hubungan kami hanya seperti rekan kerja!" Adnan merasa harus menjelaskan pada Azam. Dia sepertinya memutuskan untuk tidak jadi membohongi anak lelaki itu.


"Benarkah? Bukannya tadi siang kau mengakui hubunganmu dengan Mbak Meyra?" Azam memastikan.


"Bukan itu maksudku. Aku dan Mbak Meyra tadi siang membicarakan hal serius. Aku terpaksa bicara begitu agar kau bersedia pergi," jelas Adnan. Tak mau Azam salah paham lagi.

__ADS_1


Azam terdiam. Dahinya berkerut sembari menatap penuh curiga pada Adnan dan Meyra. Jujur saja, dia tidak bisa langsung percaya. Namun karena Adnan dan Meyra terkesan begitu serius, Azam memutuskan untuk berpura-pura percaya saja.


"Baiklah. Maaf kalau begitu. Aku sudah salah paham," ungkap Azam.


"Tidak apa-apa. Sekarang ayo habiskan makananmu," tanggap Adnan. Dia dan Meyra merasa lega.


Usai makanan habis, Azam sengaja pergi lebih dulu. Lalu bersembunyi ke balik dinding. Dimana dia bisa melihat Adnan dan Meyra. Kedua orang itu nampak langsung bicara saat Azam pergi. Walaupun begitu, Azam tak bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.


"Lihat! Jujur lebih baik bukan? Untung saja tadi kau memutuskan untuk menjelaskan hubungan kita yang sebenarnya," cetus Meyra.


"Azam sepertinya sangat mencurigai kita. Mulai sekarang aku ingin kau jaga jarak dariku. Apalagi saat ada Azam di rumah ini!" balas Adnan.


"Lagi pula siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu? Justru kau yang terus membuatku terikat denganmu! Kau juga mengajakku pergi ke resepsi pernikahan temanmu minggu ini."


"Aku terpaksa. Oke? Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan mantan kekasihku yang berkhianat itu!" ujar Adnan.


"Oh jadi karena itu kau memaksaku untuk menemanimu. Kenapa kau tidak bilang dari awal? Kau malu?"


Adnan memilih tak menjawab. Karena sebenarnya dia memang malu. "Sudah! Bereskan semua ini. Buatkan aku kopi dan antarkan ke kamar," titahnya. Merubah topik pembicaraan.


"Lagi? Berapa banyak kopi yang kau minum dalam sehari?" tanya Meyra.

__ADS_1


"Apa itu penting untukmu?" sahut Adnan sembari beranjak pergi.


__ADS_2