Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 31 - Nikah Kontrak Selamanya?


__ADS_3

Perlahan senyuman mengembang di wajah Azam. Dia senang mendengar kabar tentang rencana pernikahan Adnan dan Meyra.


"Itu bagus! Akhirnya doaku terkabul. Aku senang kalian sudah menyadari perasaan masing-masing," ungkap Azam.


"Sebelumnya selamat ya, Tuan Adnan dan Mbak Meyra," ujar Agni yang merasa ikut senang.


"Terima kasih, Ni." Meyra menanggapi dengan tenang. Dia dan Adnan sekali lagi bertukar pandang.


Sebelum pulang, Adnan mengajak Meyra dan yang lain untuk makan siang. Selanjutnya, barulah mereka pulang.


Kini Adnan sedang berada di kamar. Dia menemani Azam belajar.


"Om sama Mbak Mey cocok banget loh. Kapan pernikahannya akan dilakukan?" tanya Azam.


"Secepatnya. Banyak hal yang harus di urus terlebih dahulu," tanggap Adnan.


"Kalau kalian mau, aku dan Amena bisa menjadi anak kalian. Kita memang sudah seperti keluarga kan?" kata Azam.


"Kau itu selalu kuanggap seperti anakku sendiri, Zam..." Adnan mengusap pelan puncak kepala Azam. Ia tersenyum lembut.

__ADS_1


Puas saling bicara, Azam kembali melanjutkan kegiatan belajar. Dengan ditemani oleh Adnan tentu saja. Karena lelah, mereka telentang bersama di ranjang. Kemudian tertidur.


Di sisi lain, Meyra baru saja selesai menyusui Amena. Bayi itu juga tertidur dalam gendongannya. Sekarang Meyra beranjak dari kamar Amena. Sejak tadi dirinya terpikir ingin membicarakan banyak hal dengan Adnan.


Meyra lantas mencari Adnan. Dia tidak menemukan pria itu ada di kamar. Hingga akhirnya Meyra memutuskan menelepon Adnan.


Ponsel Adnan berdering. Hal itu membuatnya terbangun dari tidur. Dia bergegas mematikan dering telepon agar Azam tidak bangun dari tidurnya.


Dengan pelan, Adnan beranjak dari ranjang Azam. Lalu keluar dari kamar anak tersebut. Saat itulah dia bertemu dengan Meyra. Perempuan itu duduk di sofa ruang tengah.


"Ternyata kau di sana," ujar Meyra.


"Kau pikir aku peramal? Bisa tahu dimana pun kau berada?" tanggap Meyra. "Aku hanya ingin membicarakan rencana pernikahan kita dengan serius," sambungnya.


"Tentu saja. Tapi kita harus membicarakannya ke tempat aman!" usul Adnan. Dia memilih balkon untuk dijadikan tempat dirinya dan Meyra akan mengobrol.


...***...


Kini Adnan dan Meyra sudah berada di balkon. Keduanya duduk saling berhadapan. Mereka juga memegangi selembar kertas dan pulpen di tangan masing-masing.

__ADS_1


"Oke, kita buat terlebih dahulu perjanjian pernikahan kontrak kita," kata Adnan. Dia terlihat sudah menulis di kertas.


"Menurutku yang terpenting adalah sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung. Kau perlu berapa lama?" tanya Meyra.


"Entahlah. Aku tak terlalu memikirkan itu. Selamanya juga tidak apa-apa," balas Adnan.


"Apa? Kau pasti bercanda. Nikah kontrak tanpa batas waktu itu namanya bukan nikah kontrak!" komentar Meyra tak percaya.


"Ya memang begitulah kenyataannya. Lagi pula aku memang butuh sosok ibu untuk menjaga Azam dan Amena. Dan aku yakin kau orang yang cocok untuk itu."


"Tapi selamanya itu adalah waktu yang lama? Apa kau tidak mau menikahi wanita yang kau cintai?"


"Aku tidak punya. Aku sudah tidak tertarik menjalin hubungan seperti itu lagi." Adnan langsung membuang muka. Menyembunyikan rasa patah hatinya akibat hubungan masa lalu.


"Lalu kau? Mau sampai kapan kau akan menjalani pernikahan kontrak ini?" sekarang Adnan yang bertanya pada Meyra.


"Aku berniat akan mengakhirinya setelah Amena berhenti menyusu. Aku masih punya impian yang ingin kucapai," ungkap Meyra.


"Impian? Apa itu?" Adnan penasaran.

__ADS_1


Meyra tersenyum tipis. "Maaf, aku tak bisa mengatakannya. Kau pasti akan mentertawakanku. Aku pastikan kau akan tahu kalau nanti aku sudah berhasil," jelasnya.


__ADS_2