Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 7 - Tawaran Kesepakatan


__ADS_3

Adnan kembali melangkah keluar pintu. Dia terpikirkan sesuatu hal. Yaitu keinginan untuk bekerjasama dengan Meyra. Adnan berpikir begitu karena merasa tidak percaya diri merawat Azam dan Amena. Terlebih Amena yang masih bayi dan pastinya membutuhkan seorang ibu.


Adnan juga ingat kalau di rumah dirinya hanya memiliki satu pembantu rumah tangga. Itu pun khusus untuk memasak dan bersih-bersih. Apalagi pembantunya yang bernama Yeni tersebut sudah berumur dan seorang perawan tua. Jelas Yeni tak tahu apapun terkait menjaga anak.


"Aku harus bicara pada perempuan itu," gumam Adnan sambil memegangi dagunya. Dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk bicara.


Adnan memanggil seorang perawat untuk memindahkan Amena. Sementara Azam, dia menyuruh sekretaris pribadinya bernama Fendi untuk menggendong dan memindahkannya ke tempat lebih nyaman.


Bersamaan dengan itu, Meyra terbangun. Atensinya segera tertuju pada Adnan yang tampak sudah duduk menunggu.


"Kau?" Meyra merasa tidak asing dengan Adnan. Mengingat lelaki itu sudah membantunya pergi ke rumah sakit. Meskipun begitu, sosok Adnan tentu masih terasa asing bagi Meyra.


"Kedua anak itu dibawa kemana?" tanya Meyra seraya merubah posisi menjadi duduk.


"Mereka dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman. Lagi pula kau akan merasa terganggu jika tidur dalam keadaan diapit oleh mereka begitu," tukas Adnan. Dia menarik kursinya lebih dekat.

__ADS_1


"Kau siapa? Apa kau ayahnya Amena dan Azam?" selidik Meyra dengan dahi yang berkerut samar.


"Bukan. Aku teman orang tua mereka. Akulah orang yang akan bertanggung jawab untuk merawat Azam dan Amena sekarang," jelas Adnan.


Meyra mengangguk pelan. "Aku harap kau bisa menjaga mereka dengan baik," tanggapnya.


"Ya, aku juga maunya begitu. Tapi sepertinya aku tidak bisa," ungkap Adnan.


"Kenapa?" Meyra menuntut jawaban.


"Mungkin karena aku tidak ada pengalaman mengurus anak. Karena itulah aku ingin bicara padamu sekarang."


"Aku butuh perempuan sepertimu untuk menjadi ibu susu Amena sampai waktunya tiba. Aku janji akan membayarmu berapapun itu," ujar Adnan. Memberi penawaran. "Lagi pula kata perawat, akan bahaya jika kau tidak menggunakan ASI-mu itu," lanjutnya yang reflek menatap ke dada Meyra.


"Apa-apaan kau!" Meyra merasa tersinggung. Dia memang menjadi begitu sensitif dengan pria setelah mengalami pemerkosaan.

__ADS_1


"Ma-maaf, aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membuat kesepakatan!" Adnan membantah tegas. Wajahnya tampak memerah karena merasa malu sendiri.


"Bagaimana aku bisa percaya? Aku bahkan tidak tahu siapa kau!" timpal Meyra sambil melindungi diri dengan cara memeluk tubuhnya sendiri.


"Ah benar. Aku belum menyebutkan namaku. Kenalkan, aku Adnan Wardana. Kau pasti ingat aku kan? Aku orang yang membantumu pergi ke rumah sakit ini," terang Adnan panjang lebar.


"Aku tahu," tanggap Meyra.


"Lalu? Apa kau setuju untuk bekerjasama denganku?" tukas Adnan.


"Kau bisa mencari ibu susu lain selain diriku. Sepertinya aku butuh waktu untuk--"


"Apa? Melupakan kematian bayimu?" tebak Adnan. "Bukankah dengan adanya keberadaan Amena akan mengobati rasa sakit hatimu itu?"


"Kau tidak tahu rasanya kehilangan anak yang telah lama diperjuangkan!" sahut Meyra.

__ADS_1


Adnan bangkit dari tempat duduknya. Dia kembali bicara, "Dengar! Aku sudah membayar separuh biaya rumah sakitmu. Kalau kau menolak tawaranku, maka aku akan menganggap semua itu hutang. Dan satu hal yang harus kau tahu, semuanya berjumlah lima puluh juta!"


Pupil mata Meyra membesar. Dia terperangah mendengar jumlah uang tersebut. Sebagai orang yang kesulitan ekonomi, Meyra tentu tak punya uang sebanyak itu.


__ADS_2