
"Tidak, Yah! Kau salah paham!" Adnan membantah tegas.
"Adnan, semuanya sudah jelas. Wanita itu, seorang bayi, terus mengenai gosip kalau kau sudah punya pendamping!" Naura menimpali.
"Tapi anehnya, kenapa kau tidak mengakui wanita itu sebagai istrimu? Kenapa kau bilang dia pacarmu?" tukas Steven. Menuntut penjelasan.
Adnan sudah mengangakan mulut karena ingin bicara. Namun urung dilakukannya karena suara anak kecil yang lebih dulu bicara.
"Itu karena mereka memang belum menikah!" Anak yang bicara tidak lain adalah Azam. Ia muncul begitu saja. Lalu bergabung bersama yang lain. Sebenarnya sejak tadi Azam mendengar pembicaraan orang dewasa yang ada di sana.
"Apa?!" Steven terkejut. Begitu pun Naura.
Steven segera menatap Adnan. "Apa benar yang dikatakan anak ini? Dan siapa anak ini? Apa dia juga anakmu?" tanyanya.
"Yah, kau sebaiknya duduk dulu. Tenangkan dirimu dan aku akan jelaskan semuanya. Oke?" ucap Adnan. Berusaha menenangkan sang ayah.
__ADS_1
Steven dan istrinya lantas duduk. Sementara Adnan segera mengurus Azam yang mendadak ikut bergabung dalam pembicaraan orang dewasa.
"Zam, kau sebaiknya ke kamar ya. Biarkan Om menyelesaikan semua masalah ini sendiri," ujar Adnan.
"Enggak! Aku melakukan ini karena ingin kau dan Mbak Meyra menikah!" tolak Azam sambil menghentakkan sebelah kaki.
"Azam!!! Kenapa kau sangat keras kepala!" Adnan kelepasan. Dia yang sedang lelah sekaligus kesal karena kesalahpahaman yang menimpanya seharian, jadi memarahi Azam.
Azam tercengang. Dia kaget sampai berjengit. Matanya juga langsung berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat Adnan marah. Apalagi sampai marah kepadanya.
Naura segera menghampiri Azam. Mencoba menenangkan anak itu. Azam terlihat berusaha menahan tangis. Namun tidak bisa. Air mata tampak bercucuran di wajahnya.
"Azam... Maafkan aku..." Adnan menyesal. Dia segera berjongkok ke hadapan Azam.
Mendengar keributan itu, Meyra merasa cemas. Untung saja Amena sudah tertidur dalam gendongannya. Karena penasaran, Meyra meletakkan Amena ke tempat tidur. Lalu beranjak ke ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Meyra melihat semua orang duduk berkumpul di sofa. Steven yang melihat kedatangannya, segera menyuruh mendekat.
Meyra lantas mendekat. Ia segera ikut bergabung bersama Adnan dan yang lain. Semua pasang mata tertuju kepadanya.
"Karena semuanya sudah di sini, sekarang sebaiknya kalian mengaku," tukas Steven.
"Ayah, aku dan Meyra hanya teman. Azam dan bayi itu adalah anak temanku, Yah. Aku bertanggung jawab mengurus mereka karena temanku dan istrinya sudah meninggal. Kehadiran Meyra di sini adalah untuk menjadi ibu susu dari Amena." Adnan menjelaskan panjang lebar.
"Benarkah?" Steven memicing penuh selidik. Dia merogoh saku jasnya. Lalu mengambil ponsel dari sana.
Steven memperlihatkan sebuah foto pada Adnan dan Meyra. Dia berucap, "Lalu apa ini?"
Mata Adnan dan Meyra membulat bersamaan. Sebab foto yang diperlihatkan Steven adalah foto Adnan dan Meyra saat menghadiri acara pernikahan Ardy. Tampak dalam foto tersebut Adnan dan Meyra bergandengan mesra. Persis seperti pasangan kekasih.
"Hari ini aku juga mendengar gosip hangat yang sedang beredar di perusahaan. Dan itu tentangmu, Ad. Karena penasaran, aku menghubungi kenalanku yang tinggal dekat sini. Katanya selama beberapa hari dia sering melihat wanita dan mendengar tangisan bayi di rumah ini." Steven mengatakan apa yang dia ketahui.
__ADS_1
Adnan dan Meyra bertukar pandang. Keduanya tak menyangka kebohongan kecil mereka bisa jadi berbuntut panjang begini.