
Adnan sangat berusaha keras untuk tidur. Dia berbalik ke sana kemari agar bisa menemukan posisi nyaman. Akan tetapi matanya sama sekali tak mampu terpejam.
"Arrgh! Sialan!" Adnan jadi marah sendiri. Pergerakannya cukup menimbulkan suara yang berisik.
Sementara itu, sejak tadi Meyra belum tertidur. Dia semakin sulit tidur saat mendengar suara berisik dari Adnan.
"Apa kau baik-baik saja? Kau sangat berisik." Meyra bangun dan langsung menegur Adnan.
"Maaf. Aku sedang berusaha untuk tidur sekarang!" sahut Adnan tanpa menatap Meyra.
"Aku juga! Tapi setidaknya jangan keluarkan suara berisik," sahut Meyra.
"Cukup! Bisakah kau diam? Aku kehabisan obatku, oke! Tanpa obat itu aku kesulitan untuk tidur." Adnan akhirnya mengungkapkan kesulitannya.
"Obat?" dahi Meyra berkerut. Dia penasaran.
"Lupakan!" Adnan membalikkan badan membelakangi Meyra. Dia masih enggan memberitahukan gangguan tidur yang dialaminya.
Meyra merasa cemas. Dia beranjak dari kasur dan mendatangi Adnan.
"Apa kau sakit?" tanya Meyra.
"Apa aku terlihat seperti orang sakit?" balas Adnan.
__ADS_1
"Mungkin. Kau selalu marah-marah tidak jelas," ucap Meyra.
Adnan mendengus kasar. Dia merubah posisi menjadi duduk. Lalu memutar tubuhnya menghadap Meyra.
"Memang begitulah kepribadianku, oke?" tukas Adnan.
"Maksudmu kau mengalami gangguan temperamen?" tebak Meyra.
"Enak saja. Tentu tidak!" Adnan membantah tegas. Dia menghela nafas panjang dan meneruskan, "aku menderita insomnia sejak remaja. Aku terbiasa tidur menggunakan obat."
"Benarkah?" Meyra terkejut.
"Iya! Lalu kau mau apa? Sekarang kembalilah ke kasurmu dan tidur!" suruh Adnan.
"Kau percaya diri sekali. Psikiater saja kesulitan untuk menyembuhkan gangguan insomniaku ini," ungkap Adnan sambil meremehkan Meyra.
Meyra terlihat berjalan menghampiri kasurnya. Kemudian memindahkan kasur itu ke dekat ranjang Adnan. Dia segera telentang ke sana.
"Kemungkinan besar alasan kau tak bisa tidur itu karena sedang ada masalah. Apa hari ini ada masalah yang sangat mengganggumu?" tanya Meyra.
Adnan mengerutkan dahi samar. Perlahan dia merebahkan diri ke ranjang.
"Ya, ada masalah pekerjaan yang cukup serius. Itulah alasanku pulang larut dibanding hari biasanya," jelas Adnan.
__ADS_1
"Apa masalah itu sudah kau atasi?" Meyra kembali bertanya.
"Ya, semuanya sudah di atasi hari ini juga. Tapi aku tidak yakin semuanya bisa kembali membaik dengan cepat."
"Aku yakin bisa. Kenapa tidak?"
"Kenapa kau yakin sekali? Kau bahkan tidak tahu kesulitan apa yang kuhadapi."
"Karena aku tahu kau pekerja keras. Kau pasti bisa. Bisnismu akan maju seperti yang kau harapkan."
Adnan seketika terdiam. Dia tak pernah mendengar seseorang mendukungnya dengan serius seperti itu. Bahkan mantan kekasihnya sekali pun. Mengingat Riani merupakan wanita karir dan lebih fokus dengan pekerjaan.
"Terima kasih. Aku harap semuanya akan begitu," kata Adnan. Perlahan matanya mulai mengantuk.
"Ya sudah. Makanya jangan terlalu dipikirkan. Percayalah semuanya akan baik-baik saja, Ad..." tutur Meyra. Nada bicaranya mulai memelan. Ia bicara begitu karena diserang rasa kantuk juga.
Hening menyelimuti suasana. Adnan dan Meyra akhirnya terlelap bersamaan.
Ketika waktu menunjukkan jam enam pagi, Adnan menjadi orang pertama yang terbangun. Dia meregangkan tubuhnya sambil merubah posisi menjadi duduk. Saat itulah atensinya tertuju pada Meyra.
Adnan baru sadar kalau tadi malam dirinya berhasil tertidur tanpa mengkonsumsi obat. Semua itu terjadi karena Meyra.
'Bagaimana bisa dengan hanya mengajakku bicara, dia dapat membuatku tertidur?' batin Adnan.
__ADS_1