Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 48 - Pengakuan Adnan


__ADS_3

Meyra memegangi bibirnya. Lalu buru-buru beranjak dari ranjang.


"Meyra!" panggil Adnan. Membuat langkah Meyra sontak terhenti.


"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud ingin--"


"Tidak! Kumohon jangan membahasnya!" potong Meyra yang merasa malu setengah mati. Bagaimana tidak malu? Meyra tentu sadar kalau dirinya juga menikmati sentuhan yang terjadi tadi.


Meyra sekarang berada di kamar mandi. Dia menepuk-nepuk pipinya secara bergantian. Dirinya ingin menyesali apa yang terjadi. Akan tetapi rasanya tak begitu. Meyra bahkan terus mengulang momen saat wajah Adnan begitu dekat dengannya.


Sementara itu, Adnan tak berhenti senyum-senyum sendiri. Setelah apa yang terjadi, dia yakin bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada istri sendiri. Satu hal lagi yang membuat Adnan tambah bahagia, Meyra sepertinya juga menyukainya. Hal tersebut terbukti dari reaksi Meyra saat menerima sentuhannya tadi.


"Mungkin mulai sekarang aku akan berubah menjadi lelaki penggoda. Lagi pula dalam kontrak kami tidak ada larangan menyentuh. Oh iya, apa perlu aku bakar saja semua surat kontrak itu?" gumam Adnan antusias.


Saat jam menunjukkan jam delapan pagi, Adnan dan Meyra berangkat ikut Azam ke sekolah. Mengingat hari pentas pertunjukkan yang disebutkan Azam telah tiba.


Di sepanjang perjalanan Meyra hanya diam. Dia bahkan terlalu malu untuk sekedar menatap Adnan.

__ADS_1


"Meyra?" panggil Adnan sambil menyunggingkan senyuman.


"A-apa?" sahut Meyra terbata. Dia hanya berani menatap Adnan selintas.


"Kau cantik sekali hari ini," puji Adnan.


Mata Meyra langsung terbelalak. Jantungnya berdetak kencang tak terkendali. Wajah Meyra juga memerah bak kepiting rebus.


"Ka-kau bicara apa? Apa itu sindiran?" balas Meyra yang lagi-lagi tergagap.


Meyra menoleh ke belakang. "Azam! Apa kau hari ini bersekongkol dengan Om Adnan? Dia menyogokmu dengan apa?" tukasnya.


Adnab terkekeh melihat sikap judes Meyra. Dia segera berkata, "Enak saja sekongkol. Apa nggak boleh seorang suami memuji istrinya sendiri?"


Meyra kian terperangah mendengar ucapan Adnan. Sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki itu? Apa kepalanya sudah terbentur dengan benda keras tadi malam?


"Adnan!" Meyra mencoba menegur Adnan tanpa suara. Matanya mendelik tajam. Namun lelaki itu hanya sibuk tergelak.

__ADS_1


Setibanya di tempat tujuan, Meyra dan Adnan dipersilahkan duduk bersebelahan di kursi penonton. Mereka akan menanti Azam tampil di panggung.


"Apa-apaan tadi itu? Apa kau main-main denganku?" timpal Meyra dengan dahi berkerut. Membahas perihal yang diucapkan Adnan tadi di mobil.


"Aku tidak main-main!" ungkap Adnan. Perlahan dia menggenggam tangan Meyra. Perempuan itu lantas tertegun. Apalagi saat melihat tatapan lekat Adnan.


"Aku rasa... Aku sudah jatuh cinta padamu," ucap Adnan.


Deg!


Jantung Meyra kembali berdegup kencang. Dia tentu kaget mendengar pengakuan Adnan tersebut. Apalagi dari raut wajahnya, lelaki itu tampak serius.


"Ka-kau pasti bercanda!" Meyra tak mau percaya begitu saja.


"Apa wajahku sekarang terlihat bercanda?" tanggap Adnan. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Meyra. "Kau tidak harus menjawabnya sekarang, Mey... Aku hanya mengungkapkan apa yang kurasakan sekarang. Perasaan yang baru saja bisa kupastikan tadi pagi," sambungnya.


Meyra tak bisa berkata-kata. Pembicaraannya berakhir saat acara pentas sudah di mulai. Satu per satu murid menunjukkan aksinya di panggung.

__ADS_1


__ADS_2