
Adnan yang paham dengan ketakutan Meyra, sigap melepas jasnya. Dia menggunakan jas itu untuk menutupi bagian gaun Meyra yang sobek.
"Berpeganglah padaku," ujar Adnan. Meyra lantas berpegangan padanya. Perlahan perempuan tersebut berdiri.
Wajah Meyra meringis karena merasakan sakit di bagian bokong dan pergelangan kaki. Dia mencoba berjalan, akan tetapi rasa sakit di kakinya jadi semakin parah.
"Aaa!" Meyra mengerang kesakitan.
"Apa kau sulit untuk berjalan?" tanya Adnan.
"Aku akan mencobanya," jawab Meyra. Dia menggerakkan kakinya lagi. Hal itu terus Meyra lakukan beberapa kali karena tak mau membiarkan Adnan repot membantunya.
"Aaah!" Karena terlalu memaksakan, Meyra nyaris terjatuh ke tanah. Untung saja Adnan bisa memeganginya. Hingga Meyra tidak jatuh ke tanah untuk kali kedua.
"Jangan dipaksakan! Sakitnya akan tambah parah," ucap Adnan memperingatkan.
Kali ini Meyra hanya diam. Ia juga berhenti memaksakan diri.
"Kau harus digendong!" kata Adnan. "Kau tidak masalah kan?" tanyanya.
Meyra tetap membisu. Dia sepertinya sedang berpikir untuk membuat keputusan. Namun suara tangisan Amena yang terdengar lantang, membuat Meyra ingin cepat-cepat menemui bayi tersebut.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku tak punya pilihan," ujar Meyra.
Adnan segera bergerak. Dia menggendong Meyra dengan gaya bridal. Saat itulah wajah keduanya tak sengaja mendekat satu sama lain. Baik Meyra maupun Adnan, mereka sama-sama terkejut. Wajah keduanya seketika memerah. Buru-buru mereka saling mengalihkan pandangan.
Setelah itu, Adnan membawa Meyra berjalan menuju pintu. Keduanya saling terdiam. Sesekali Adnan menenggak salivanya sendiri. Entah kenapa ada perasaan gugup yang menyelimuti.
Hal serupa juga dirasakan Meyra. Ia tidak hanya merasa salah tingkah, tetapi juga waspada. Meski sudah mengenal bagaimana Adnan, dirinya berusaha tetap waspada. Mengingat Meyra pernah dikhianati oleh temannya sendiri.
Adnan langsung mengantar Meyra ke kamar. Namun perempuan itu justru heran.
"Kenapa kau membawaku ke sini? Aku harus menyusui Amena!" seru Meyra.
"Adnan!" panggil Meyra. Membuat langkah Adnan sontak terhenti. Lelaki itu menoleh.
"Terima kasih..." ungkap Meyra. Perlahan kepalanya tertunduk karena malu.
"Akulah yang harus berterima kasih," sahut Adnan sambil tersenyum tipis. Dia segera pergi.
Ketika Adnan sudah beranjak, Meyra memegangi dadanya. Ia merasakan jantungnya berdebaran. Meskipun begitu, dia berusaha tenang.
Tak lama kemudian Agni datang. Dia membawakan Amena. Tanpa berlama-lama, Meyra segera menyusui bayi cantik itu. Tangisan Amena langsung berhenti.
__ADS_1
"Kau bisa beristirahat, Ni. Biar aku yang menjaga Amena. Dia akan tidur bersamaku di sini," kata Meyra.
"Baik, Mbak." Agni mengangguk. Ia keluar dari kamar Meyra.
Sementara itu, Meyra masih dalam keadaan menggendong Amena. Sesekali dia ayunkan tangannya dengan pelan agar Amena tertidur.
Dari arah pintu, Adnan muncul. Dia kaget tatkala menyaksikan Meyra yang sibuk menyusui Amena. Lelaki tersebut tak sengaja menyaksikan dada Meyra yang terbuka.
"Maaf!" Adnan langsung memutar tubuhnya. Dia dalam posisi membelakangi Meyra.
Meyra yang mengerti, bergegas mengambil selimut kecil Amena untuk menutupi dadanya.
"Kalau mau ke kamarku, seharusnya kau ketuk dulu pintunya. Tidak peduli apakah ini rumahmu atau tidak," tukas Meyra. Dia merasa malu karena dadanya tak sengaja dilihat oleh Adnan.
"Aku tak sengaja. Oke? Aku janji ini tidak akan terulang lagi. Aku hanya mau mengobati luka di kakimu," kata Adnan seraya berbalik menghadap Meyra. Lalu memperlihatkan kotak P3K yang dibawanya.
"Kau tidak perlu repot-repot. Nanti juga sembuh sendiri," tanggap Meyra.
"Sembuh sendiri tapi butuh waktu yang lama." Adnan berjongkok ke depan kaki Meyra. Kebetulan memang perempuan itu duduk di tepi ranjang.
Meyra terkesiap. Dia tak punya pilihan selain membiarkan Adnan mengobati kakinya.
__ADS_1