Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 49 - Lantunan Suara Azam


__ADS_3

Atensi Meyra dan Adnan kini fokus ke arah panggung. Keduanya serius menonton pentas yang dilaksanakan. Mereka juga tak sabar melihat Azam beraksi.


Setelah banyak pertunjukkan, akhirnya tibalah giliran Azam. Meyra dan Adnan terpesona menyaksikan penampilan anak itu. Azam terlihat sangat tampan dengan setelan busana muslim yang dilengkapi peci.


"Dia tampan sekali," ungkap Meyra.


"Ya, persis seperti mendiang abinya," sahut Adnan. Dia dan Meyra bertukar pandang dan saling tersenyum.


Tak lama kemudian, Azam segera melantunkan ayat suci Al-Quran. Suaranya begitu merdu sampai membuat semua orang terdiam. Mendengarkan lantunan suara Azam dengan khusyuk. Termasuk Meyra dan Adnan sendiri. Terlebih Azam melantunkan Al-Quran dengan menghafal. Mata anak itu tampak berbinar-binar. Banyak yang terpesona akan sosok Azam.


Tak terasa lantunan Al-Quran dari Azam selesai. Semua orang langsung bertepuk tangan.


Saat itulah Azam berucap, "Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Om Adnan dan Mbak Meyra yang sudah bersedia datang. Mereka juga menjagaku dan Amena dengan baik. Kehadiran mereka membuatku seolah merasa seperti memiliki orang tua. Jadi hari ini aku ingin memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama,"

__ADS_1


Perkataan Azam membuat Meyra dan Adnan kaget. Keduanya kembali bertukar pandang. Mereka juga merasakan jantung yang berdetak lebih cepat. Apalagi lampu langsung menyorot mereka ketika Azam memberitahu.


Meyra dan Adnan hanya bisa tersenyum canggung. Keduanya bingung menanggapi pujian dari orang-orang sekitar.


Saat acara sudah selesai, semua orang dipersilahkan pulang. Kini Meyra baru saja masuk ke mobil. Dia jadi canggung karena apa yang terjadi hari ini. Termasuk mengenai pengakuan cinta Adnan.


Meyra tak berani sedikit pun menengok ke arah Adnan. Ia hanya menatap ke arah kaca jendela mobil sedari tadi.


Sementara Adnan, dia tersenyum menyaksikan Meyra. Baginya perempuan itu menggemaskan saat merasa malu. Senyuman miring terukir di wajah Adnan. Dia jadi ingin lebih banyak menggoda Meyra. Adnan juga berharap segala apa yang dilakukannya bisa menyembuhkan trauma Meyra akan masa lalu.


"A-apa?" Meyra bingung harus menanggapi bagaimana. Matanya mengerjap cepat. Wajahnya juga memerah bak tomat matang.


"Perlukah aku menyebutkan pertanyaanku dua kali?" tanya Adnan lagi.

__ADS_1


"Aku rasa Azam hanya terbawa suasana. Menurutku kedua orang tuanya tidak akan bisa tergantikan," tanggap Meyra cepat.


"Aku tahu. Mungkin karena itulah dia memanggil kita mama dan papa. Bukan abi dan umi. Itu jelas berbeda," tukas Adnan.


Meyra tertegun. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Dirinya tambah terkejut tatkala Adnan menggenggam tangannya.


"Ayo kita lupakan kontrak kita. Lalu bangun keluarga sungguhan," ajak Adnan.


Mata Meyra terbelalak. "Kau bicara apa? Jangan main-main!" timpalnya tak percaya.


"Aku bersungguh-sungguh, Mey. Pernyataanku saat pentas tadi juga sungguhan. Aku serius!" ungkap Adnan menegaskan.


Meyra menghempas tangan Adnan. Sampai genggaman lelaki itu akhirnya terlepas.

__ADS_1


"Sudah cukup, Ad!" Meyra tak percaya. Tanpa pikir panjang, dia keluar dari mobil. Kemudian berjalan tak tentu arah. Yang jelas dirinya bisa pergi jauh dari Adnan. Jujur saja, Meyra tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Sikap Adnan membuat perasaannya tidak karuan.


Melihat Meyra pergi, Adnan bergegas mengejar. Bertepatan dengan itu, gerimis turun. Adnan kembali meraih lengan Meyra. Menghentikan kepergian perempuan tersebut.


__ADS_2