Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 50 - Musibah


__ADS_3

"Jangan ikuti aku! Aku sedang ingin sendiri." Meyra melepaskan genggaman Adnan. Ia berlari kecil meninggalkan lelaki itu.


Meyra benar-benar bingung menghadapi semuanya. Mengingat dia tidak pernah sekali pun menemui lelaki yang bersungguh-sungguh kepadanya seperti Adnan.


Meyra ingin percaya. Namun terasa sulit baginya ketika mengingat tentang masa lalu. Dia terus berjalan dalam keadaan pikiran yang berkecamuk. Meyra melakukannya tanpa melihat lurus ke depan. Sehingga dirinya tidak sadar sedang berjalan ke tengah jalan.


"Meyra!" Adnan berteriak saat melihat sebuah truk kecil melaju ke arah Meyra. Dia bergegas berlari dan berhasil menggapai perempuan tersebut.


Adnan memeluk erat Meyra. Sayangnya saat mereka berhasil menghindar dari truk kecil, sebuah mobil lain justru datang dari lain arah. Adnan dan Meyra sontak jatuh bersamaan. Di saat itulah Adnan berusaha keras untuk melindungi Meyra.


Upaya Adnan dalam melindungi Meyra sukses besar. Perempuan yang ditolongnya hanya mengalami goresan kecil di lengan. Tetapi sayangnya Adnan harus tak sadarkan diri karena kepalanya menghantam aspal.


"Adnan!" Kini Meyra yang dibuat khawatir. Orang-orang sekitar langsung berdatangan untuk menolong. Adnan segera dibawa ke rumah sakit terdekat.


...***...

__ADS_1


Meyra dan Azam sekarang sudah berada di rumah sakit. Mereka menunggu di depan ruang operasi. Kebetulan luka Adnan cukup parah sehingga harus mendapatkan penanganan serius. Terlebih lelaki itu mengalami luka di kepala.


Karena merasa cemas dan juga bersalah, Meyra terus menangis. Air matanya tak berhenti mengalir.


"Mama... Papa akan baik-baik saja kan?" tanya Azam. Air matanya juga berlinang. Perasaan Azam pasti lebih terpukul dibandingkan Meyra. Mengingat baru beberapa bulan dia kehilangan kedua orang tuanya.


Meyra tak menjawab pertanyaan Azam. Dia hanya membawa anak itu masuk ke dalam pelukan.


"Padahal baru hari ini aku memanggilnya papa..." isak Azam.


Ketika mengingat momen kebahagiaan bersama Adnan, jantung Meyra berdegup kencang. Dia juga merasa terenyuh pada apa yang dilakukan Adnan untuk menyelamatkannya.


Nurani Meyra tersentuh. Dia sadar bahwa perasaan Adnan terhadapnya bukanlah main-main.


"Ayo kita ke mushola. Kita doakan agar operasi papa Adnan lancar," ajak Azam.

__ADS_1


Meyra sempat ragu. Sebab selama ini dia bukanlah insan yang patuh beribadah. Tetapi karena tak mau menolak keinginan Azam serta membutuhkan harapannya terkabul, dia ikut saja.


Dengan khusyuk Meyra ambil air wudhu yang mengalir. Selesai berwudhu, dia mengenakan mukena yang tersedia di musholla.


Dalam sholatnya, Meyra menangis. Entah kenapa batinnya terasa tersentuh. Rasanya dia sudah terlalu lama tidak sholat. Meyra bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya sholat lima waktu.


Selepas sholat, air mata Meyra semakin berlinang. Dia berharap Allah melancarkan operasi Adnan. Hingga lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu dapat sembuh.


Beberapa jam berlalu. Dokter yang menangani Adnan akhirnya keluar. Dia memberitahu kalau keadaan Adnan sepenuhnya baik. Lelaki itu hanya perlu istirahat.


Senyuman mengembang di wajah Meyra. Dia sangat senang mendengar kabar baik tersebut.


Buru-buru Meyra dan Azam segera melihat keadaan Adnan. Mereka menyaksikan lelaki tersebut masih tidak sadarkan diri.


Meyra perlahan menggenggam tangan Adnan. Dia dan Azam akan menungggu sampai lelaki itu sadar.

__ADS_1


'Aku sepertinya mencintaimu juga...' batin Meyra sambil menatap lekat Adnan yang masih terpejam. Musibah terkadang tidak selalu memberikan kerugian, tetapi juga kesadaran akan batin yang terluka. Mungkin begitulah cara Allah menyadarkan Meyra.


__ADS_2