Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 25 - Kedatangan Keluarga Adnan


__ADS_3

Meyra tersenyum mendengar penuturan Azam. Anak lelaki itu segera pergi ke kamar.


Meyra mendengus kasar. Dia memandangi benda pemberian Azam. Benda itu tidak lain adalah sebuah jilbab. Meyra jadi termenung sendiri.


Bertepatan dengan itu, Meyra melihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Dahinya otomatis berkerut.


Meyra tetap diam di tempat, sampai pemilik mobil yang baru datang tersebut keluar. Meyra melihat sepasang pria bule tua dan wanita muda.


Tak lama kemudian, terdengar suara bel pintu. Meyra yang penasaran segera mendatangi lantai satu. Dia menuruni tangga dengan pelan.


Meyra melihat tukang kebun sudah membukakan pintu. Dia melihat pria bule tua dan wanita muda yang datang sudah masuk.


Ada yang menarik perhatian Meyra kala itu. Yaitu kemiripan sang pria bule tua dengan Adnan. Meyra jadi berpikir, apakah pria tersebut adalah ayahnya Adnan?


"Silahkan duduk. Apa kalian mencari Adnan?" Meyra segera angkat suara.


Pria bule tua itu saling menatap dengan wanita muda yang datang bersamanya. Lalu barulah menjawab pertanyaan Meyra.

__ADS_1


"Ya, aku mencari Adnan. Aku adalah ayah kandungnya. Namaku Steven. Dan wanita yang bersamaku adalah istriku. Namanya Naura. Ngomong-ngomong kau siapa?" tanya pria bule tua tersebut.


"Aku Meyra. Kebetulan keberadaanku di sini karena menggantikan pembantu rumah yang sedang pulang kampung," tutur Meyra.


Steven dan Naura lagi-lagi bertukar pandang. Seolah keduanya bicara lewat tatapan tersebut.


"Tapi sayangnya bukan itu kabar yang kami dengar dari tetangga di sini. Apalagi dengan berita yang beredar tentang putraku sekarang," ujar Steven. Meski berwajah bule, bahasa Indonesianya sangat lancar. Dari sana jelas sudah kalau Steven sudah lama tinggal di Indonesia.


"Maksudmu?" Meyra tak mengerti.


"Duduklah. Ayo kita bicarakan semuanya. Kebetulan saat di mobil tadi aku sudah menghubungi Adnan. Aku rasa dia sedang dalam perjalanan ke sini," kata Steven.


"Maaf sebelumnya. Sambil menunggu Adnan, lebih baik aku buatkan minuman untuk kalian," ucap Meyra. Mencoba berkilah.


"Lupakan itu. Kami tadi sudah makan sebelum ke sini. Santai saja," sergah Naura lembut.


Meyra tak bisa menolak. Dengan senyuman kecut, dia duduk kembali ke sofa.

__ADS_1


Dari arah belakang, terdengar suara tangisan bayi. Suara itu lama-kelamaan semakin dekat. Meyra yakin bayi yang menangis adalah Amena.


"Tunggu sebentar." Meyra beranjak ketika Agni muncul sambil menggendong Amena.


"Amena sepertinya sudah lelah. Aku yakin dia sekarang kehausan," imbuh Agni. Ia menyerahkan Amena ke dalam gendongan Meyra.


"Aku yakin begitu," sahut Meyra. Sebelum menyusui Amena, dia meminta Agni membuatkan minuman untuk Steven dan Naura. Meyra juga tak lupa pamit pergi dengan alasan ingin menyusui Amena.


Steven dan Naura sama sekali tak masalah. Ketika Meyra sudah pergi, keduanya terlihat memasang tatapan tak percaya.


"Benar kata mereka. Adnan sudah menikah. Dia bahkan punya anak!" seru Steven.


"Ya, bisa-bisanya dia tidak memberitahumu tentang ini," tanggap Naura yang merasa ikut kesal.


"Aku akan mengomelinya saat datang!" Steven bertekad.


Di waktu yang sama, Adnan baru menghentikan mobil. Dia bergegas masuk ke rumah. Penglihatannya langsung disambut dengan kehadiran Steven dan ibu tirinya.

__ADS_1


"Ayah!" Adnan tersengal-sengal.


"Adnan! Apa-apaan ini? Apa kau menikah tanpa sepengetahuanku? Kau bahkan sudah punya anak!" timpal Steven.


__ADS_2