Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 46 - Perubahan Adnan


__ADS_3

Adnan tersenyum miring. Dia berniat akan merubah sikapnya sekarang. Mungkin akan menjadi penggoda yang menyebalkan.


"Om Adnan tahu nggak tanggal lahir Mbak Meyra?" tanya Azam.


"Ulang tahunnya ya? Aku akan mencoba memeriksa di buku nikah kami," ujar Adnan sembari beranjak dari ranjang. Lalu memeriksa buku nikah yang disimpan dalam lemari. Dari sana Adnan tahu tanggal lahir Meyra. Kebetulan ulang tahun Meyra akan terjadi sekitar satu minggu lagi. Adnan segera memberitahukan Azam. Keduanya sepakat akan membuat acara spesial untuk Meyra nanti.


Hari itu Adnan sengaja tidak pergi bekerja karena ingin menjaga Meyra. Dia menyuruh sekretaris pribadinya untuk mengurus semuanya.


Adnan hanya duduk di sebelah Meyra sambil sibuk membaca buku. Ketika jam satu siang, Meyra terbangun. Ia melebarkan kelopak matanya saat melihat Adnan yang ada di sebelah.


"Kau sudah bangun?" tanya Adnan.


"Bu-bukankah sudah jelas? Jam berapa ini? Bukankah harusnya kau pergi bekerja?" cecar Meyra seraya merubah posisi menjadi duduk.


"Aku harus memastikan istriku baik-baik saja," kata Adnan. Dia memangkas jarak di antaranya dan Meyra. Wajah keduanya kini hanya berhelatkan beberapa senti.


"A-adnan... Apa yang kau lakukan?" gagap Meyra.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang, mulai sekarang aku akan menjadi teman yang perhatian," tutur Adnan dengan tatapan berbeda dari biasanya.


Meyra mendorong Adnan menjauh dan berdiri. "Dengar! Kau tidak perlu melakukan itu untuk mengasihaniku!" tukasnya. Lalu beranjak keluar dari kamar.


Usai menyusui Amena, Meyra menyibukkan diri membersihkan rumah. Ia sengaja begitu karena tak mau larut memikirkan masalahnya. Meyra bahkan enggan bertanya pada Adnan mengenai bagaimana keluarganya pergi.


Meyra sekarang sedang sibuk mengepel lantai di teras belakang. Dia tidak sendiri. Ada juga pembantu rumah yang menemaninya.


Adnan tiba-tiba datang. Dia menyuruh pembantunya berhenti bersih-bersih karena dirinya berniat menggantikan.


Dahi Meyra berkerut saat menyaksikan Adnan mengepel. "Apa kau bangkrut? Kenapa kau lebih memilih mengepel lantai di rumah dari pada mengurus pekerjaan pentingmu?" timpalnya yang merasa heran.


"Kebetulan hari ini tidak ada pekerjaan yang penting. Sekali-kali aku ingin menikmati momen di rumah. Ternyata begini pekerjaanmu sehari-hari," tanggap Adnan sembari tersenyum. Menampakkan lesung pipit di kedua pipinya. Sungguh, lelaki itu sangat tampan.


Meyra tak bicara lagi. Dia juga tak mau menyimpulkan perbuatan Adnan sekarang itu dikarenakan dirinya.


Waktu menunjukkan jam tiga sore. Azam pulang seperti biasa. Dia langsung mengajak Meyra dan Adnan bermain bersama halaman belakang. Mereka memilih bermain bola.

__ADS_1


Kala itu Meyra terlihat beberapa kali tertawa. Azam dan Adnan merasa senang saat melihatnya.


Selepas menemani Azam bermain, Meyra memasak hidangan di dapur. Ia menyiapkan makanan untuk makan malam.


Adnan datang lagi. Meyra benar-benar bingung dengan sikap lelaki tersebut hari ini.


"Biarkan aku membantumu. Apa yang harus kukerjakan?" tanya Adnan.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Meyra tak acuh. Dia sebenarnya terlihat melakukan tiga hal berbeda sendirian secara sekaligus.


"Biarkan aku memotong wortelnya." Adnan bersikeras. Ia segera memotong wortel dengan pisau.


Meyra hanya bisa mendelik dan mendengus. Ia tak bisa menghentikan betapa keras kepalanya Adnan. Mereka lantas memasak makan malam berdua. Layaknya pasutri baru pada umumnya.


"Aaa!" Meyra reflek memekik karena terkena percikan minyak goreng panas. Ia langsung memegangi punggung tangannya yang terkena minyak.


"Meyra!" Adnan segera mendekat. Dia segera menuntun Meyra ke wastafel. Lalu mencucikan tangan Meyra di sana.

__ADS_1


__ADS_2