
Hari minggu akhirnya tiba. Sekarang Meyra sedang sibuk menyapu rumah. Saat itulah Adnan muncul sambil menuruni tangga.
"Ayo kita pergi!" ajak Adnan. Membuat mata Meyra membulat. Perempuan itu kaget karena merasa belum siap untuk pergi.
"Sekarang?" Meyra memastikan.
"Iya. Letakkan sapumu itu dan ikut denganku!" perintah Adnan.
"Tapi aku perlu ganti baju dulu!" sahut Meyra yang bingung.
"Kita tidak punya waktu! Ayo! Kita sekalian mengantar Azam untuk belajar mengaji. Nanti dia terlambat!" desak Adnan.
"Kau yakin ingin aku pergi dengan penampilan begini?" tanya Meyra.
"Itu bisa di atasi," tanggap Adnan santai.
Tak lama kemudian Azam muncul. Ia juga terlihat siap untuk pergi. Meyra lantas segera bersiap. Meski Adnan begitu mendesak, dia berusaha menyempatkan diri untuk berganti pakaian. Lagi pula pakaian yang dikenakannya terlalu lusuh. Akan memalukan jika nekat dipakai untuk ke acara pernikahan.
Sebelum pergi, Meyra tak lupa melihat keadaan Amena. Bayi itu sudah mendapat penjagaan dari baby sitter bernama Agni. Selanjutnya, Meyra benar-benar beranjak.
Azam terlihat sudah menunggu di depan mobil. Dia melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat!" ajak Meyra. Dia menggenggam tangan Azam.
"Iya, Mbak. Duduklah di depan bersama Om Adnan. Aku akan mengawasi di belakang," ujar Azam.
"Apa?" Meyra agak terkejut. Namun dia tak bisa menolak. Hingga memilih duduk ke depan.
Mobil dijalankan oleh Adnan. Dia berhenti untuk mengantar Azam terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Adnan dan Meyra berangkat.
Adnan mengajak Meyra ke sebuah salon kecantikan. Dia tentu ingin membuat perempuan itu tampil cantik sebagai pacarnya.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Meyra.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan dandanan begitu? Tentu tidak!" jawab Adnan. Dia keluar lebih dulu dari mobil. Lalu di ikuti oleh Meyra setelahnya.
Selang sekian menit, akhirnya Meyra selesai dirias. Dia segera menemui Adnan.
"Ayo kita pergi!" seru Meyra.
Adnan segera menoleh. Dia terpaku sepersekian detik. Bagaimana tidak? Meyra sangat cantik dengan rambut yang tergerai serta make up tipis.
"Adnan?" panggil Meyra. Sebab Adnan masih saja membeku di tempat.
__ADS_1
"Eh, iya. Ayo!" Adnan langsung tersadar. Dia mengajak Meyra pergi usai melakukan pembayaran.
Kini Adnan dan Meyra berjalan keluar salon. Keduanya berjalan bersama.
"Sekarang kita hanya perlu mencari gaun," cetus Adnan.
"Gaun?" mata Meyra membola. "Aku rasa ini sudah cukup," ujarnya. Tak mau repot-repot. Tetapi Adnan sama sekali tak acuh.
"Itu bagimu. Tapi bagiku tidak!" ungkap Adnan. Dia dan Meyra pergi ke butik terdekat.
Berbagai macam gaun dicoba oleh Meyra. Sampai akhirnya dia menemukan yang cocok. Meyra menemui Adnan setelah selesai memilih. Ia melihat lelaki itu sibuk melihat-lihat sepatu.
"Ayo! Nanti kita terlambat. Aku juga takut persediaan susu Amena habis," kata Meyra. Membuat Adnan menoleh. Lelaki tersebut berjongkok dan meletakkan sepasang sepatu ke lantai untuk Meyra.
"Pakailah!" suruh Adnan.
Meyra terkesiap. Jantungnya berdebar tidak karuan karena sikap tak terduga Adnan itu. Dia lantas mengenakan sepatu yang diberikan Adnan.
"Aku rasa ini terlalu tinggi. Aku tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi," ucap Meyra yang sudah memakai sepatu pilihan Adnan.
"Tapi sepatu itu terlihat cantik di kakimu. Sangat cocok!" sahut Adnan.
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi kalau aku terjatuh saat berjalan kan tidak cantik?" tanggap Meyra.
Adnan memutar bola mata jengah sambil mendesah. Dia akhirnya menyuruh Meyra memilih sepatu sendiri yang sesuai dengan kenyamanannya.