
Setelah Azam mengaji, Ustadz Wahyu bicara dengan Adnan. Lelaki itu mendapat bimbingan untuk masuk agama islam.
Meyra turut hadir di sana. Mengingat dia dan Adnan akan segera menikah.
Hanya dengan mengucapkan kalimat syahadat, Adnan resmi masuk islam. Selanjutnya, Ustadz Wahyu juga tak lupa memberikan tausiah khusus. Ia bahkan memberikan buku untuk Adnan. Sebuah buku dimana Adnan bisa mempelajari islam lebih dalam.
Setelah memberikan bimbingan untuk Adnan, Ustadz Wahyu pamit pulang. Adnan lantas mengantarkannya ke depan.
"Bolehkah aku bertanya, Tuan Adnan?" imbuh Ustadz Wahyu sembari melangkah bersama menuju mobilnya.
"Iya?" tanggap Adnan.
"Apa alasanmu ingin masuk islam karena Mbak Meyra?" tanya Ustadz Wahyu.
"Tidak! Tentu saja tidak." Adnan langsung membantah. Dia segera menjelaskan kalau dirinya memang sudah lama ingin masuk islam. Adnan juga tak lupa menceritakan mendiang Ehsan. Sosok yang paling berjasa dalam mengenalkan islam kepadanya.
Selepas bicara panjang, Ustadz Wahyu pulang. Adnan berdiri mematung sambil menautkan dua tangannya dari balik punggung. Lalu memejamkan mata. Entah kenapa Adnan merasa hatinya tenang.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, pengurusan mengenai pernikahan akhirnya rampung. Adnan dan Meyra lantas menikah. Mereka hanya mengadakan pesta sederhana. Pernikahan itu dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat saja.
Setelah melakukan ijab kabul, Meyra mencium punggung tangan Adnan. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat matanya bertukar pandang dengan Adnan. Bagi Meyra segalanya terasa nyata.
Hal serupa juga dirasakan Adnan. Dia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Meyra juga terlihat lebih cantik dari biasanya. Mungkin balutan kebaya putih membuat tampilan perempuan itu lebih mempesona.
Adnan dan Meyra jadi salah tingkah saat fotografer menyuruh mereka melakukan pose mesra. Dari mulai bergandengan tangan hingga saling menempelkan dahi.
"Ekhem! Aku rasa foto seperti ini tidak perlu," keluh Adnan. Pada sang fotografer.
"Tapi, Tuan. Seharusnya--"
"Ad!" Meyra menegur Adnan. Menurutnya lelaki itu agak berlebihan.
Ketika acara sudah selesai, Adnan dan Meyra pulang. Namun saat sudah di rumah, mereka beristirahat di kamar masing-masing.
Azam yang mengetahui hal itu, merasa curiga. Dia mendatangi kamar Adnan. Lalu membangunkan lelaki tersebut.
__ADS_1
"Ugh... Ada apa, Zam?" tanya Adnan yang terpaksa bangun dari tidur.
"Kenapa kau dan Mbak Meyra tidur di kamar terpisah? Sikap kalian tidak seperti suami istri pada umumnya," cetus Azam.
Mata Adnan langsung terbuka lebar. Dia merubah posisi menjadi duduk. Dirinya berusaha menjawab pertanyaan Adnan dengan tenang.
"Zam, kami baru saja menikah. Aku dan Meyra masih belum terbiasa," ujar Adnan beralasan.
"Aku akan mengamati kalian," sahut Azam dengan raut wajah serius.
Adnan mendengus lega saat Azam pergi. Tingkah Azam benar-benar membuatnya sesak. Padahal dia hanyalah anak kecil.
Keesokan harinya, semua orang berada di meja makan. Kala itu Adnan dan Meyra masih bersikap seperti biasa.
"Kalian kenapa? Aneh sekali. Saat belum menikah kalian terlihat saling mencintai. Tapi setelah menikah sikapnya seperti orang asing," imbuh Azam.
Mata Adnan dan Meyra membelalak bersamaan. Awalnya mereka berpikir bisa lepas dari segala kecurigaan Azam. Namun ternyata mereka masih saja menerima kecurigaan dari anak itu.
__ADS_1
Adnan dan Meyra reflek bertukar pandang. Sepertinya mereka harus segera membicarakan cara untuk mengatasi kecurigaan Azam.