Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An

Menikah Karena Anak Tahfiz Qur'An
Chapter 20 - Jatuh


__ADS_3

Adnan membisu saat mengetahui fakta tentang Meyra. Ternyata perempuan itu memiliki masa lalu begitu kelam.


"Aku pergi meninggalkan keluargaku dan hidup seorang diri di kota. Aku memilih mempertahankan bayiku. Aku pikir hidupku pasti akan bahagia saat bayiku lahir. Tapi sepertinya takdir berkata lain." Tanpa sadar, Meyra terus bercerita.


"Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi aku yakin lelaki yang sudah menghamilimu itu mendapat karma," sahut Adnan. Berharap apa yang diucapkannya mampu menghibur Meyra.


"Entahlah. Aku bahkan tidak tahu dia ada dimana. Padahal aku juga sudah melaporkannya ke polisi."


"Polisi?" Adnan menuntut jawaban.


"Ya. Karena lelaki itu melakukannya secara paksa padaku," terang Meyra.


Adnan tercengang. Mendengar cerita Meyra saja dia emosi. Apalagi jika harus mengalaminya sendiri. Salah satu tangan Adnan bahkan mengepal erat.


"Beritahu aku namanya. Aku akan hukum orang itu untukmu!" ujar Adnan bertekad.


Meyra menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. "Biarkan saja. Seperti yang kau bilang tadi, aku yakin dia pasti akan mendapat karma," tanggapnya.

__ADS_1


Adnan memasang tatapan penuh empati untuk Meyra. "Maaf, kalau sebelumnya aku sudah berbuat tidak sopan padamu," ungkapnya.


"Ya, kau memang agak arogan. Tapi aku bisa memakluminya," sahut Meyra.


"Ayolah." Wajah Adnan memerah. Ia jadi malu sendiri sudah bersikap seperti majikan pada Meyra. Perempuan itu terkekeh saat melihat tingkah Adnan.


Tidak terasa, hujan reda. Adnan mulai menjalankan mobilnya kembali.


"Sekarang aku tahu kenapa sikapmu begitu berlebihan saat kusentuh," ujar Adnan.


"Ya, aku rasa kejadian itu membuatku sedikit trauma. Aku tidak yakin apakah aku bisa menjalin hubungan dengan seorang lelaki," ungkap Meyra sambil mendengus kasar. Ia tampak mengelus lengannya sendiri beberapa kali. Meyra merasa cukup kedinginan karena cuaca dan juga mesin pendingin mobil.


"Tidak! Aku baik-baik saja," jawab Meyra. "Kau jadi berlebihan setelah mendengar cerita tentangku," sambungnya berkomentar.


"Kau tidak suka? Perlukah aku tetap bersikap arogan di hadapanmu?" balas Adnan sambil fokus menyetir. Secara alami, dia dan Meyra menjadi semakin akrab.


"Aku tadi sudah bercerita tentangku. Tapi aku tidak begitu tahu tentangmu." Meyra melirik Adnan.

__ADS_1


"Tidak ada yang menarik tentangku selain fakta kalau aku seorang ateis."


"Benarkah?" Meyra membulatkan mata.


"Ya, aku tinggal di London sejak kecil. Saat lulus SMA aku pindah ke Indonesia dan melanjutkan kuliah di sini." Adnan bercerita. "Awalnya aku menolak mentah-mentah tinggal di sini, tapi saat kuliah dan bertemu dengan Ehsan, semuanya berubah," tambahnya.


"Kau aneh. Kebanyakan orang di sini keluar negeri untuk kuliah. Tapi kau malah melakukan hal sebaliknya."


"Itu terjadi karena keadaan."


Pembicaraan Adnan dan Meyra berakhir saat mereka sudah tiba di rumah. Adnan segera memarkirkan mobil dengan hati-hati. Selanjutnya dia dan Meyra keluar secara bersamaan.


Baru saja datang, tangisan Amena langsung menyambut. Meyra juga mendapat telepon dari baby sitter yang menjaga Amena. Baby sitter itu memberitahu kalau susu persediaan untuk Amena sudah habis.


Akibatnya, Meyra buru-buru berderap. Dia bahkan sampai tidak melihat lagi jalan berlumut yang licin. Alhasil kejadian nahas menimpanya.


Meyra terpeleset dan jatuh. Gaun selutut berwarna peach yang dikenakannya jadi sobek.

__ADS_1


"Meyra!" melihat Meyra jatuh, Adnan buru-buru membantu. Namun dia justru salah tingkah saat melihat pangkal paha Meyra yang terlihat jelas karena sobeknya gaun.


Meyra merasa tidak nyaman. Dia kesakitan sekaligus kebingungan menutupi pangkal pahanya yang tak sengaja terlihat.


__ADS_2