
"Meyra... Kau baik-baik saja?" tanya Adnan seraya memegang lembut tangan Meyra. Perbuatannya berhasil membuat perempuan itu terkejut.
"Ya?" tanggap Meyra reflek.
"Kalau kau tidak bisa menghadapi keluargamu tak masalah. Biar aku saja yang menggantikanmu," tutur Adnan.
"Tidak! Jangan begitu. Mereka adalah keluargaku, jadi aku akan menemui mereka. Tapi aku membutuhkanmu untuk berada di sisiku," pinta Meyra yang tampak memancarkan binar mata getir.
"Tentu saja aku akan ada di sisimu. Aku suamimu," imbuh Adnan.
Azam yang mendengar mengulas senyum bahagia. Dia lantas berucap, "Aku juga akan ada di sisi Mbak Mey! Kalau perlu aku akan memanggilmu dan Om Adnan dengan sebutan Papa dan Mama!"
Adnan dan Meyra bertukar pandang. Keduanya saling tersenyum saat mendengar Azam berucap begitu. Alhasil mereka semua segera pergi menemui keluarga Meyra yang telah menunggu di ruang tamu.
Seorang lelaki paruh baya langsung berdiri setelah menyaksikan kemunculan Meyra. Dia tidak lain adalah ayah kandung Meyra. Namanya Jamal.
Risa yang merupakan kakak kandung Meyra ikut berdiri. Di sana juga ada paman dan tantenya Meyra yang ikut datang.
__ADS_1
"Meyra... Kau kah itu..." ujar Jamal. Menatap ke arah Meyra dengan nanar. Ia mengulurkan tangan ke depan. Berharap Meyra menghampiri dan memeluknya.
Bukannya mendekat, Meyra justru berhenti di tempat. Ia ragu untuk bergabung bersama keluarganya. Sungguh, bayangan saat Meyra dimarahi dan ditatap jijik keluarganya sendiri kembali menghantui.
Adnan menatap Meyra yang tampak mematung. Dia lantas berinisiatif untuk menyapa keluarga Meyra terlebih dahulu.
"Halo, Om." Adnan menuntun Meyra berjalan lebih dekat pada Jamal dan yang lain. Lalu duduk ke sofa. Jamal dan keluarganya lantas ikut duduk.
"Kebetulan Meyra baru saja sembuh dari sakit. Aku rasa dia masih tidak enak badan," ucap Adnan.
Meyra terlihat membuang muka. Masih terlalu ragu untuk mempercayai keluarganya. Mengingat keluarganya datang di saat dirinya sudah menikah dengan Adnan. Lelaki tampan dan juga kaya raya. Meyra berpikir, keluarganya datang pasti karena ada maunya.
"Kau tidak tahu betapa susahnya kami mencari tempat tinggalmu ini. Kakakmu sampai harus bertanya ke toko tempat dia bertemu denganmu tempo hari," kata Nizwan menjelaskan. Ia merupakan pamannya Meyra.
"Begitukah? Bagaimana bisa pemilik toko itu tahu?" Meyra sontak heran.
"Mereka adalah toko langgananku. Kau tahu selain menjual pakaian, mereka juga menjual barang furniture," jelas Adnan.
__ADS_1
Meyra diam sejenak. Dia menatap Jamal dan berkata, "Kalian mau apa ke sini?"
"Meyra..." Jamal terlihat menunjukkan raut wajah memelas. Dia meneruskan, "aku dan yang lain menyesali segala perbuatan kami kepadamu..."
Mendengar itu, Meyra kembali membuang muka. Matanya seketika berkaca-kaca.
"Kami sebagai keluargamu tidak seharusnya memperlakukanmu dengan buruk. Kami benar-benar menyesal," ungkap Jamal.
"Aneh sekali melihat kalian merasa menyesal di saat sekarang. Apa ini karena aku sudah menikahi pria terpandang dan kaya raya? Begitukah?" Meyra menimpali dengan derai air mata.
"Meyra... Maafkan Ayah..." Jamal hanya bisa memanggil lirih. Dia berusaha menyentuh Meyra.
Sementara Adnan, keningnya mengernyit samar. Dia berusaha menenangkan Meyra dengan mengusap pelan pundak perempuan tersebut.
Meyra tak hirau. Dia berdiri dan beranjak begitu saja meninggalkan ruang tamu.
"Aku rasa Meyra belum siap menerima permintaan maaf kalian. Maaf sebelumnya, tapi sebaiknya kalian pergi saja. Aku akan mencoba bicara kepadanya," kata Adnan. Dia sebenarnya juga ragu untuk mempercayai keluarganya Meyra. Meski terlihat tulus, terasa aneh saja melihat mereka tiba-tiba datang.
__ADS_1