
Entah tingkat kepeduliannya telah menurun sangat drastis atau kemuakan berlebihan pada kenyataan semacam ini. Neta tak yakin yang mana ia rasakan karena sama sekali tidak terkejut mendengarkan fakta memprihatinkan itu.
Ia ingin heran seperti layaknya orang normal tapi tidak bisa. Sepasang saudara yang saling menjatuhkan? Itu bukan sesuatu yang mengejutkan seharusnya mengingat kematian pertama di muka bumi disebabkan oleh keirian antar saudara.
"Apa? Aku tidak salah dengar, kan, kek?"
Ah, sayang sekali, pikir Neta geli, menyaksikan Vita terkena serangan shock. Wajahnya menyiratkan rasa tidak percaya akan penghianatan yang dilakukan sang sepupu.
Nah, sekarang Neta jadi mempertanyakan kecerdasan Vita. Menurutnya itu sudah sangat jelas, selama ini mereka bersaing dalam segala hal, Adrian hanya seperti dourprise dalam satu perlombaan itu. Bagaimana bisa ia masih merasa shock?
"Gita, itu enggak bener kan? Kamu enggak mungkin ngelakuin hal yang begitu kejam."
Isakan kencang Gita terdengar sebagai respon. Tidak perlu dipertanyakan lagi seharusnya. Buang-buang waktu.
"Kenapa?" Telapak tangan Vita yang mengepal tertangkap penglihatan Neta. Ia berani bertaruh itu akan segera menyambangi pipi mulus Gita.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Satu tamparan terdengar menyusul teriakan kemarahan lainnya. "Kamu hampir membunuhku, membuat keluarga Baskoro kehilangan muka, dan yang paling fatal. Kamu bikin Neta terjebak pernikahan yang bahkan belum layak untuk dirinya."
Semua orang terdiam, membiarkan Vita meluapkan emosinya. Tidak ada satupun dari mereka yang tampak akan menyelamatkan Gita dari amukan amarah Vita. Semua orang kecuali ibunya Gita tampak sepakat untuk mengizinkan Vita yang memegang kendali. Beberapa bahkan tampak menyeringai senang.
Keluarganya ini sedang melakukan adegan syuting drama industan rupanya. Neta mengusir pikiran melantur itu cepat-cepat. Ini buka situasi yang tepat untuk memikirkan hal lain.
Di tempatnya Gita terduduk memegang pipinya sendiri, balas menatap Vita dengan kemarahan yang meluap. Ia tidak tampak menyesal akan apa yang diperbuatnya.
"Itu enggak akan terjadi kalau saja aku yang dijodohkan." Gita menatap Vita tajam.
__ADS_1
Oke, Neta sekarang percaya bukan dirinya satu-satunya yang berotak bengkok di keluarga ini. Gita nyatanya lebih parah. Bahkan dalam kondisi terpojok ia masih saja keras kepala tidak merasa bersalah.
Sepupunya satu itu tampaknya perlu dibawa ke paranormal, ia sepertinya telah menjadi tempat bersemayam jin pecinta ceo. Bahkan sampai rela mencelakai keluarganya sendiri demi seorang lelaki. Apa definisi yang pas untuk dirinya? Oh benar, maniak cinta.
"Mengapa selalu kamu? Mengapa?"
Gita tidak lagi menahan diri meluapkan kekesalan yang selama ini terpendam. Ia membenci saudarinya itu sampai ketulang-tulangnya dan selalu berharap suatu hari nanti Vita menghilang saja dari dunia ini. Jika Vita tidak ada maka dirinya lah yang akan jadi kesayangan sang kakek.
"Apa hebatnya dirimu dibanding aku? Semua orang tahu bagaimana kau menjadi dokter bukan kerena kepintaranmu tapi ..."
Bunyi tamparan lain terdengar, kali ini Linda, ibunya Vita yang melakukan.
"Sungguh picik," Linda ibu Vita murka, menutup kesempatan bagi Gita untuk membuka aib yang selama ini disembunyikannya. "Bagaimana bisa kau bahkan tidak merasa bersalah atas kelakuan burukmu itu? Dan malah melemparkannya pada putriku. Bagaimana sebenarnya kau mengajari anakmu Santi? Mengapa dia begitu bejat begini."
Santi, ibunya Gita tidak bisa berkata apapun. Ia tidak punya senjata untuk melawan dan melindungi putrinya. Bukti-bukti sudah terpampang jelas dan putrinya tak bisa mengelak. Satu-satunya harapan sekarang adalah Baskoro tidak memberikan hukuman berat pada Gita.
Bukannya Gita tidak tahu bagaimana piciknya Linda itu. Dia merupakan versi tua dari Vita sendiri. Orang yang akan melakukan segala hal curang agar keinginannya terpenuhi. Bukan sekali dua kali Gita mendapati bagaimana Linda menggunakan uang untuk meluluskan putrinya saat kuliah dulu.
Vita bisa saja beranggapan dia yang terbaik, tapi nyatanya dia tidak lebih dari gadis manja yang tidak berarti apapun tanpa dukungan curang ibunya.
"Cukup, tidak perlu bertengkar. Gita bukan kakek yang menjodohkan Vita. Adrian sendiri yang memilihnya."
Baskoro memijit dahi berkerutnya, pusing akan permasalahan yang sedang terjadi. Bisa-bisanya para cucunya ini berseteru gara-gara seorang pria. Ini benar-benar memalukan, bagaimana bisa ia teledor mengenai masalah ini?
Ditempatnya Vita berdiri dengan senyum kecil mendengar pengakuan sang kakek. Hatinya meledak dalam kepakan kupu-kupu berwarna-warni. Adrian sendiri yang memilihnya, apakah itu berarti dia masih diperbolehkan untuk berharap?
__ADS_1
"Tapi mengapa, Kek? Mengapa Vita? Gita yang lebih dulu deket sama Adrian. Gita lebih akrab sama dia."
Wah, Neta tak kuasa menahan perasaan prihatin sekaligus kagum mendengar pernyataan narsis Gita. Lebih akrab? Adrian bahkan selalu menganggap Gita itu pengganggu tak tahu malu. Bagaimana bisa usiran dan perlakuan kasar yang dia dapat dianggap sebagai bentuk keakraban? Saraf penyusun otak Gita sepertinya bukan lagi bengkok melainkan sudah terpintal, terjerat, hingga tak bisa melihat kenyataan dengan benar. Bahkan, di antara mereka berempat, Gitalah, yang paling dihindari Adrian.
"Masalah itu, kakek tidak tahu. Adrian punya pertimbangan sendiri."
Terlepas dari sifat picik yang ia punya, Vita memang memenuhi kriteria perempuan idaman untuk kalangan atas. Dia cantik, berkelas, dari latar belakang keluarga baik-baik, dan seorang dokter, siapa yang tidak akan tertarik. Vita sangat cocok untuk seseorang seperti Adrian.
"Sudah jelas bukan?" Linda berbicara lagi, nadanya pongah mengundang kemarahan Gita semakin berkobar. "Vita lebih baik segalanya dibanding dirimu."
Menyadari situasi semakin memansa. Baskoro mengambil inisiatif menghentikan perdebatan. Kepalanya sudah berasap dan ia tidak ingin tensi darahnya naik lagi. Ada banyak permasalahan lain yang harus dirinya urus.
"Sudah, tidak perlu diperpanjang lagi. Vita, kau punya usulan mengenai hukuman buat Gita?" Baskoro bertanya tanpa seincipun bergerak dari singgasananya.
"Vita udah maafin Gita kek, mengenai hukuman sebaiknya kakek tanya itu pada Neta. Dialah yang paling dirugikan di sini."
Jawaban bijaksana Vita tak pelak membuat semua orang terkejut. Linda yang mendengar itu tersenyum bangga, betapa baiknya hati sang putri.
"Neta? Kemarilah, kakek ingin dengar keputusanmu."
Neta yang sedari tadi berdiri diam sekarang mengarahkan pandangan pada Vita yang menarik sudut bibirnya. Ia mendesah lelah, betapa hebatnya Vita dalam mencari muka, memanfaatkan celah untuk menjatuhkan orang lain tanpa harus mengotori reputasinya.
Neta menatap Gita yang balas memandangnya dalam. Kobaran kemarahan masih mewarnai sorot matanya. Selangkah saja Neta salah mengambil keputusan dia pasti akan jadi target Gita berikutnya.
"Neta serahin sama kakek aja. Kakek lebih berpengalaman dalam menentukan hukuman. Neta percaya kakek bisa memberikan hukuman yang tepat."
__ADS_1
TBC.