
Ruangan beraroma steril berwarna mint pucat itu ramai oleh para anggota keluarga yang datang menjenguk. Neta menatap satu persatu dari mereka, yang hadir belum semuanya karena memang beberapa di antara mereka sibuk, terutama para laki-laki. Selain itu kapasitas ruangan tidak mencukupi untuk banyak penghuni.
"Jadi, kau menang duel melawan Kania tapi mendapat kerusakan gara-gara serangan mendadak Vita."
Wita berbicara sembari menggigit buah apel. Ia entah bagaimana tahu kronologi yang terjadi walaupun para orang tua mereka sudah sepakat menutupi.
"Khas, Vita sekali," Gita menimpali, menyeringai. "Mana berani orang itu menyerang secara langsung."
Sekitar sebelas tahun atau lebih lalu, ketika Neta masuk ke keluarga Baskoro. Ia tidak diterima dengan baik dan mendapat sambutan hangat dalam artian sebaliknya dari para sepupunya. Gita waktu itu bertubuh bongsor bertindak sebagai panglima sementara Vita ratu. Wita sendiri hanya menonton tanpa peduli keadaan. Ketiga cucu Baskoro itu memberikan 'katanya' pelatihan pada Neta sebagai anggota baru.
Awalnya Neta cuma diam menerima tapi ketika ia berumur sepuluh tahun, kemuakan atas tindakan semena-mena itu mencapai batas. Neta mulai melakukan perlawan yang selalu berujung pada lebam di tubuh. Satu lawan tiga bagaimanapun sangat tidak adil tapi Neta menolak terus-terusan ditindas. Pada satu titik ketika Vita sedang fokus dalam studinya dan Wita yang memang cuma menonton. Gita harus menerima kenyataan pahit bahwa ia kalah beradu Jambak dari Neta. Itu sore yang menyakitkan bagi Gita dan ia berhenti mengusik cucu perempuan bungsu itu secara fisik sejak saat itu.
"Sama pengecutnya dengan orang yang cuma berani keroyokan." Nino, satu-satunya laki-laki di sana berkomentar dengan sinis walau wajahnya nyaris tak berekspresi.
Menyadari kata-kata itu ditujukan pada siapa, Gita dan Wita kompak mendelik ganas pada bungsu keluarga Baskoro itu. Neta dengan segala kemampuannya memang menyebalkan tapi dibanding itu Nino sang adik jauh lebih lebih dari menyebalkan. Ia mungkin masih sepuluh tahun tapi mulut pedas dan tindakannya yang sudah menunjukkan bagaimana cerdas bocah itu. Ia bukan orang yang bisa diremehkan bahkan pada kakak mereka saja enggan berurusan dengan cucu laki-laki favorite Baskoro itu.
"Ayolah, Neta baru bangun, jangan bangkitkan memori buruk di otaknya. Itu tidak baik bagi kesehatan."
Santi menengahi, menarik putri dan keponakannya pamit undur diri di ikuti yang lainnya. Ia mengangguk pelan pada Aluna yang duduk di sofa sebelum keluar.
Neta menatap pintu yang tertutup itu sejenak lalu mengalihkan pandangan pada sang ibu yang juga menatapnya.
"Apa yang terjadi pada mereka?" Ia bangun dua hari setelahnya dan mendengar cerita lengkap dari sang adik. "Kania, Vita?"
Aluna angkat bahu. "Mama hanya diberitahu kalau kau masuk rumah sakit, selebihnya ... Adrian."
Benar, pikir Neta muram. Ia belum bertemu sang suami, Neta geli sendiri menyebut kata itu. Adrian belum menampakkan diri sama sekali sejak ia sadar entah apa alasannya. Seolah-olah pria itu menghindar dari dirinya.
Menyadari raut suram di wajah putrinya Aluna tersenyum kecil. "Nino, ayo pulang. Besok kamu ada ulangan."
Bocah yang sedari awal cuma mengamati itu mengangguk. Mengecup pipi Neta cepat lalu melambaikan tangan. "Sampai jumpa besok, kak."
__ADS_1
"Maaf, ya sayang. Mama enggak bisa nemenin kamu malam ini." Aluna mencium kening Neta sebentar lalu beranjak pergi.
Di balik pintu, Nino mendongak pada sang ibu, ragu-ragu untuk bicara. "Ma, tunggu di mobil ya, Nino mau ke toilet sebentar."
Tanpa menunggu respon, Nino berlari melintasi lorong rumah sakit, nyaris menabrak seorang suster yang kebetulan lewat. Aluna yang menyaksikan itu hanya menggelengkan kepala pelan. Ia berjalan menuju parkiran yang sedikit sepi.
Di lorong Nino berbelok cepat begitu tak lagi menangkap sosok sang ibu. Ia berjalan pelan dan berhenti di depan sebuah pintu, mengetuk sebentar ia kemudian membukanya.
Empat pasang mata dari para penghuni di sana segera beralih kepadanya. Nino balas menatap semuanya sesaat sebelum mengunci pandangan pada sosok yang berdiri di sudut.
"Kak Neta, sendirian malam ini." Ia mengumumkan singkat. "Kakak bisa nemuin dia, sekarang."
Melemparkan satu pandangan bosan ia kembali memutar haluan, berjalan agak cepat di koridor. Ia tidak boleh membuat sang ibu curiga.
"Mata-mata yang bagus, Adrian." Leo bersiul mengomentari yang disambut seringai jahil dari Dante dan Rayden.
Mereka ada di ruang rawat Leo yang mengalami nasib sama buruk dengan Neta. Meski Adrian benar- benar enggan berada di sana tapi ia tak punya pilihan, terlepas dari permasalahan Kania, Leo adalah anggota gengnya. Selain itu Adrian juga butuh tempat untuk mengawasi situasi Neta setelah keluarganya mati-matian mengusir dirinya menjauh.
Dante melancarkan serangan dalam satu detik, mengejek sikap Adrian yang menjadi lemah itu.
Sesaat mata Adrian menyipit menatap Dante tak suka lalu terdiam dengan kening berkerut, hal yang membuat ketiga pria lainnya jadi saling pandang. Itu dia, mulai lagi Adrian yang pemuram. Sejak insident berdarah di apartemennya beberapa hari lalu, Adrian jadi sangat pendiam dan terus-terusan memasang wajah tersiksa. Seolah ada dosa besar yang sedang ia pikul.
Dante sampai kewalahan menghadapinya, tidak peduli bagaimana ia memprovokasi. Adrian akan tetap bungkam seribu bahasa hal yang mana sangat melenceng dari dugaan awal mereka. Dante kira Adrian akan mengamuk parah.
"Melihatmu menderita itu memiliki kesenangan tersendiri bagiku," Leo berbicara menyadari Adrian setengah melamun. "Tapi Neta perlu dirimu sekarang. Bagaimanapun ia baru saja selamat dari moment kematian. Kau harus bersamanya."
Adrian melirik Leo, bahkan tanpa rival menyebabkannya itu mengatakan. Ia tahu perbuatannya menghindar dari Neta itu tindakan pengecut tapi Adrian masih belum berani melihatnya. Wajah memar dengan napas lemah yang digendongnya waktu itu masih terus membayangi kepalanya dan menyadari dirinya sebagai penyebab itu semua. Adria merasa ia tidak layak bersama gadis itu.
Hal-hal buruk terus saja berdatangan pada Neta setelah pernikahan mereka. Jika ia tidak bersikeras mempertahankan hubungan mereka Neta mungkin tidak perlu mengalami kejadian mengenaskan itu. Padahal ia sudah berjanji pada sang ibu mertua bahwa Adrian akan membuat moment manis di masa depan Neta.
"Kau jadi cerewet ya, Leo." Adrian mendengus bangun dari posisi menyendernya. Ia harus menghargai usaha adik iparnya yang dengan baik sudah memberi informasi pada dirinya.
__ADS_1
"Adrian!" Kaki Adrian berhenti di ambang pintu, menoleh merespon panggilan Leo dari balik bahu. "Tolong beritahu aku di mana kau menghukum Vita."
"Tidak."
Dengan itu Adrian melangkah keluar. Ia tidak akan menyerahkan Vita pada siapapun. Perempuan itu harus menerima neraka dunianya karena sudah berani melukai Neta.
Melihat sikap dingin itu Leo menarik napas berat. Ini akan sulit pikirnya.
"Mengapa kau bersikeras ingin menemui Vita? Kau benar-benar jatuh cinta padanya?"
Rayden bertanya heran pada tingkah tak biasa Leo. Temannya itu baru saja ditusuk tapi ia bahkan masih mengkhawatirkan keadaan Vita yang Rayden saja ingin melemparnya ke laut itu.
"Aku punya alasan yang tak bisa kuberitahu."
Tidak peduli betapa bersalahnya Vita, Leo masih ingin menyelamatkannya dari hukuman Adrian. Di sebelahnya Dante mendesah lelah, tidak Adrian, tidak Leo, keduanya sama-sama jadi aneh gara-gara perempuan.
Pintu rumah sakit yang dibuka menarik perhatian Neta yang diam melamun sejak di tinggal sang ibu pergi. Ia mengerjap bingung pada tamu asing yang berkunjung malam-malam begini. Mungkinkah salah kamar? Pikirnya, menatap pasangan suami istri itu.
"Maaf, jika kami datangnya tiba-tiba." Tamu prianya itu berkata pelan dengan wajah kusut. "Kami tidak menggangu kan?"
Neta menggeleng. "Kalian siapa?"
Sang perempuan tiba-tiba saja menangis yang langsung di peluk oleh sang pria. "Kami orang tua Kania. Kami datang karena ingin meminta sesuatu dari dirimu."
Monica, ibu Kania tiba-tiba saja berlutut di hadapan Neta.
"Aku tahu ini tidak pantas, tapi kumohon tolong bujuk Adrian untuk membatalkan tuntutannya. Kania ... Dia sudah mendapat hukuman dengan wajahnya yang rusak. "Isakan pilu terdengar dari perempuan itu. "Tolong bujuk Adrian, dia tidak mau mendengarkan kami. Hanya kau yang bisa membuatnya membuka hati untuk memaafkan Kania."
Neta membuka mulut hendak menjawab tapi suara dari ambang pintu mendahului.
"Tidak." Adrian berdiri dengan wajah marah. "Kania harus menerima resiko perbuatannya."
__ADS_1
TBC.