
Garis waktu yang bergeser mendekati senja membiaskan sinar kemerahan, menyusup melalui celah-celah lubang di sepanjang dinding bangunan, menciptakan latar gelap tentang sebuah kemarahan. Urat kebiruan yang melintang di sepanjang punggung tangan Neta bertonjolan saat ia mengepal sementara rahangnya mengetat. Matanya berkabut oleh emosi negatif, gelap seperti malam yang siap menelan apapun
Di sebelahnya Adrian terdiam kehilangan semua pikiran setelah pengakuan mengejutkan itu. Ia berdiri tegang dengan pikiran berkecamuk. Kania? Dalang utamanya? Sulit baginya untuk percaya bahwa perempuan yang ia sayangi mampu merencanakan hal sekeji itu.
Dante maupun Rayden di belakang sana tak kalah terkejut dan memasang ekpresi tak percaya serupa. Pikiran keduanya kira-kira sama seperti Adrian.
Di posisinya Neta melepaskan napas kasar. Memanfaatkan Jedah keterkejutan Adrian dan melepaskan diri. Ia merendahkan tubuh tepat di hadapan pria yang baru saja membuat pengakuan, tersenyum cerah, sedangkan matanya menyorotkan rasa kasihan.
"Kau sangat tidak beruntung," katanya rendah.
Bangkit berbalik menatap Adrian yang masih belum bergerak dari fase statisnya. Seluruh tubuh pria itu seperti sedang menerima sengatan listrik. Adrian malang, pikir Neta prihatin, tapi situasinya tidak mengizinkan dirinya untuk bersimpati pada pria itu.
"Kau tahu ini." Adrian melirik Neta yang menatapnya tajam dengan sorot menuduh. "Itukah alasan mengapa kau menolak keras mempertemukan kami?"
Adrian merasa paru-parunya menyempit sementara di depannya ada pedang tak kasat mata yang sedang teracung, siap menggores lehernya kapan saja. Adrian menarik napas dalam, berbicara dengan nada lemah.
"Kau tetap tidak akan percaya walaupun aku mengatakan tidak."
Adrian membalas sendu, merasa pijakan kakinya mulai meluruh dalam serpihan debu, tubuhnya nyaris goyah. Rasanya ia sedang berdiri pinggiran tebing curam dengan hewan buas cantik yang siap menerkam kapanpun di depannya dan batuan runcing di bawah sana yang menyambutnya dengan lengan terbuka lebar. Pilihan apapun yang diambil akan tetap membawanya pada rasa sakit.
"Aku akan menghormati apapun keputusanmu."
__ADS_1
Meskipun itu artinya ia harus membiarkan Kania berkubang dalam hukuman.
Di sudut belakang Rayden yang menyaksikan itu memandang cemas pada Adrian. Simalakama, sang buah terlarang yang hanya akan mengantar pada satu hal yaitu kematian. Sahabatnya itu sedang menerima efek racunnya sekarang. Adrian tidak bisa mengulurkan tangannya sekarang, tidak ketika ia menggantungkan hidup pada akar yang mendorong Kania jatuh.
"Haruskah aku membuka jalur negosiasi? Dan menganggap ini murni pelecehan semata?"
Meneruskan ini sama artinya dengan berhadapan melawan Adrian. Neta cukup percaya diri bahwa kakek dan ayahnya akan membelanya tapi itu akan membuat semua menjadi lebih rumit. Selain itu Neta ingin Kania menerima balasan lebih menyakitkan dari apa yang menimpa dirinya tapi dengan keberadaan Adrian, itu tidak akan berjalan lancar.
Dari matanya yang menolak mati-matian kenyataan Neta tahu Adrian akan menggunakan segala cara untuk membuat Kania terselamatkan. Jadi ia akan memberikan opsi lain untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
"Tenanglah, Adrian." Neta meraih kepalan tangan Adrian yang kaku. "Aku tidak akan memperpanjang masalah ini dan melupakan semuanya. Aku juga tidak akan melaporkannya pada keluargaku, tapi ..."
Kata-kata Neta menggantung menatap Adrian dalam. "Kau harus menggantikan mereka menjadi pedang hakim dan menghukum Kania dengan tanganmu sendiri."
"Putuskan pilihanmu Adrian."
Bibir Adrian berkedut dalam rasa sakit yang menyayat-nyayat. Matanya memandang getir pada tangan kurus Neta yang menggenggam tangannya. Sadarkah gadis ini betapa dalam permintaan itu melukainya? Meminta Adrian untuk menjadi eksekutor bagi Kania sama saja menyuruhnya menguliti diri sendiri.
Terkadang Adrian merasa dunia benar-benar memperlakukannya bak anak tiri. Ia hanya ingin hidup normal layaknya pria lain, membangun keluarga, dan meninggalkan dunia saat sudah tua nanti. Namun sepertinya keinginan itu terlalu baik bagi dirinya yang penuh noda kotor. Mungkin ini hukuman untuknya karena sudah serakah.
"Aku akan melakukannya jika itu membuatmu senang. Sebagai gantinya tutup masalah ini dan jangan singgung Kania lagi."
__ADS_1
Senyum tipis mengembang di bibir Neta. "Deal."
Merasa tidak ada alasan untuk berada di sana lebih lama Neta memutuskan pergi. Ia mengetik pesan pada Deandra meminta gadis itu menjemputnya di sekitar lokasi.
Dalam posisi diamnya Dante menyaksikan kejadian itu dengan mulut menganga. Belum pernah ada yang seberani itu pada Adrian sebelum ini pun yang berhasil membuat sahabatnya itu mati langka. Sebesar itukah cinta Adrian pada Kania? Bahkan rela menceburkan diri ke dalam api.
Di sisi lain, Rayden memandang itu semua dengan perasaan marah. Adrian masih belum bergerak dan mungkin tak akan membuat langkah. Jadi ia memutuskan untuk mengambil inisiatif. Rayden keluar mengejar Neta, untungnya gadis itu belum jauh.
Rayden menarik lengan Neta dalam satu sentakan kasar, memaksa gadis itu berbalik menatapnya bingung.
"Aku tahu bukan ranaku untuk ikut campur di sini." Napas Rayden berat menahan emosi yang meluap-luap. "Tapi, tolong tarik permintaanmu pada Adrian."
Rayden tidak mau hanya duduk diam menyaksikan Adrian menghancurkan dirinya perlahan-lahan. Tidak peduli bahwa itu keinginan Adrian sendiri. Rayden tidak akan membiarkan Adrian terpuruk untuk kesekian kalinya lagi.
"Aku tidak bisa." Neta balas menatap tajam Rayden. "Sampai saat ini, tidak pernah sedetikpun memori menakutkan itu pergi dari kepalaku. Mengetahui itu semua di sengaja oleh seseorang, jika ada di posisiku, apa kau akan diam saja?"
Neta tersenyum pahit." Aku sangat iri pada Kania karena memiliki orang seperti Adrian. Seseorang yang rela mengorbankan diri untuknya, tapi ... Aku tetap tidak akan memaafkan perempuan itu."
Rayden mendesah dalam memejamkan mata erat. Semua ini membuatnya pening. Ia tidak bisa gegabah dalam berbuat sesuatu dan menghancurkan rencana Adrian tapi hatinya menolak untuk tetap diam. Ia tidak mau hanya menonton Adrian tanpa melakukan apapun.
"Bagaimana jika posisinya di balik? Bagaimana jika Kania itu dirimu?" Rayden meringis mendengar kata-katanya yang kacau dan ambigu. Gadis itu semakin akan tidak mengerti tapi berbicara secara gamblang juga berbahaya. Adrian bilang Neta sangat peka segala sesuatunya jadi ia harus berhati-hati di dekat gadis itu. "Tolong pikirkan lagi pemintaanmu."
__ADS_1
Neta menghela napas lelah. "Kau seharusnya mengatakan itu pada Adrian. Dia sendiri yang memilih setuju." Lantas berlalu melambaikan tangan pada mobil Deandra yang muncul di ujung gang.
Dia tidak akan mendengarkan, pikir Rayden muram, tidak akan pernah.