
Kepanikan berkobar dalam nyala besar saat langit-langit asing tertangkap pandangannya. Neta bangun dalam sentakan cepat, mengeluh pusing setelahnya.
Ia mengerjapkan mata berulang-ulang, meyakinkan diri bahwa yang tampak adalah kenyataan. Ia tidak sedang dalam dunia mimpi ataupun halusinasi.
Di mana ini? Pikirnya berkeliaran secara acak mengenai segala macam kemungkinan. Jiwanya belum sepenuhnya pulih untuk mencari tahu dari memori sebelum kegelapan ngantuk mengambil alih.
Apakah ini kamar di dunia lain? Neta mulai bergidik ngeri pada pemikiran absurd kelewat cerita fantasy itu. Ia tidak ingat ada moment ajaib semacam tersedot ke lubang spiral semalam. Satu-satunya yang terjadi setelah pernikahan paksa adalah ... Satu, dua, otaknya memproses lambat.
Pernikahan? Insident. Ia terlonjak cepat memeriksa semua anggota tubuhku. Oke, lengkap tanpa ada kekurangan. Satu-satunya pembeda adalah baju kaos kebesaran yang membalut tubuhnya.
Milik siapa ini? Otaknya masih lambat dalam mencerna segala sesuatunya hingga melewatkan point' penting lain. Sang pemilik baju, tapi Dewi kebijaksanaan tampaknya sedang berbaik hati.
Neta tak perlu mencari tahu siapa sebab orangnya sudah memunculkan diri secara mengagumkan dari pintu yang berlatarkan cahaya jingga dibelakangnya.
"Kau sudah bangun?"
Suaranya mengalun tenang, menyapa hangat dalam keremangan. Neta masih berusaha menajamkan mata guna melihat jelas sang pemilik suara.
"Siapa kau? Mengapa kau membawaku ke sini? Hei, aku menolak kalau diminta jadi pahlawan dan membunuh makhluk semacam ratu jadis."
Ia memang sering berangan-angan saat bersama Deandra. Memikirkan bagaimana sekiranya jika hidup dalam dunia cerita yang mana membuat dirinya harus terlempar ke dunia asing, menjadi makhluk suci, dan ditakdirkan mengalahkan kegelapan. Neta kira itu akan menyenangkan tapi saat semua ada di depan mata ternyata rasanya mengerikan.
Lalu pria ini? Dia di pihak mana?
Di lain pihak. Kata-kata kelewat melantur itu mau tak mau membuat Adrian menggeleng. Kelelahan tampaknya telah membengkokkan sistem saraf sang istri makanya jadi aneh seperti itu.
"Satu-satunya hal yang harus kamu kalahkan itu adalah pemikiran absurd dan sikap konyol itu."
Adrian menyibakkan tirai menampilkan pemandangan taman hijau dan sebuah rumah Mega berdiri di seberangnya.
Neta mengerjap melemparkan pandangan pada luar jendela. Ia masih perlu menyesuaikan diri tapi rumah di seberang taman itu terasa tidak asing. Itu kan ...
Neta menepuk dahi sendiri menyadari tingkah konyolnya beberapa menit lalu. Tentu saja, ia mengangguk kecil saat semua ingatan mengenai tadi malam mengalir sempurna.
__ADS_1
Ia menikah menggantikan sang kakak. Dipukuli secara dramatis lalu tertidur dalam perjalanan.
"Kau seharusnya mengantarku ke rumah. Bukan menculikku."
Adrian di seberang tempat tidur bersidekap menatap istrinya yang masih kacau dalam artian segala hal.
"Ini rumahmu mulai sekarang. Kita sudah menikah kamu tidak lupa kan?"
"Aku malah berharap akan lupa."
Neta secara aktif bergerak dari fase linglungnya. Memindai ruangan sekali lagi.
"Ini kamarmu? Atau kamar tamu?"
Pada pernikahan kontrak biasanya pasangan yang menikah tidak tinggal dalam satu kamar. Si suami yang sok dingin dan si istri yang sok jaim biasanya sudah menetapkan aturan tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Neta sudah siap dengan pengaturan semacam itu dan tidak berniat untuk memprotes apapun. Mereka menikah di atas kepentingan umum jadi masalah pribadi harus dikesampingkan.
"Tidak, ini kamar kita."
"Hanya ada satu kamar di rumah ini." Adrian menambahkan sebagai penjelasan. "Omong-omong kamu tidak berencana bangun? Kamu bisa terlambat Lo."
Terlambat? Oh benar. Kesadaran Neta mengambil alih sepenuhnya. Ia melompat turun dari ranjang dengan panik berlari keluar kamar. Tak lupa ia menyempatkan melirik jam yang tertempel di dinding. Jam enam empat puluh menit.
"Sial, aku akan terlambat."
Ia melintasi jalanan kompleks menuju rumah Mega yang tadi diliatnya. Satpam yang bertugas buru-buru membuka pintu saat dilihatnya sang nona berlari panik.
Di tempatnya, Adrian menyaksikan pemandangan konyol itu dari jendela. Istrinya berlari tanpa peduli penampilan menuju sayap kiri bangunan rumah besar keluarga Baskoro.
Sejak pertama kali melihatnya sepuluh tahun lalu. Adrian sangat penasaran dengan kehidupan tetangganya itu. Di zaman di mana sikap individual lebih menonjol ini. Bagaimana bisa keluarga Baskoro tetap mempertahankan keutuhan anggota keluarga dalam satu kompleks yang sama. Keluarga lain jelas akan memisahkan diri dan membangun istana masing-masing.
Mereka aneh, begitulah kesan pertama yang didapat Adrian. Setelahnya ia berjanji untuk tidak terlibat jauh. Mereka sebatas tetangga yang berada dalam kompleks yang sama dan kebetulan rumahnya saling berhadapan.
__ADS_1
Tidak lebih, tapi rupanya takdir menariknya dalam alur berbeda. Setelah setiap hari dipaksa melihat sikap genit dari para perempuan muda di dalamnya. Sekarang ia malah menjadi menantu dalam keluarga itu.
Kalau bukan karena orang itu, Adrian mana Sudi berhubungan dengan keluarga aneh itu.
Suara gadgetnya yang berbunyi membuyarkan Adrian dari pengamatan mengenai keluarga istirnya. Ia membukanya dan mengerenyit. Informasi dari tulisan yang tertera bukanlah harapannya. Ia melihat jam ditangannya sebentar melirik ranjang yang berantakan.
"Tidak punya waktu," gumamnya.
Mengabaikan begitu saja kekacauan yang ada. Ia sudah siap dari tadi jika saja tidak berniat membangunkan sang istri yang sleeping beauty. Adrian sudah berada dalam perjalanan menuju kantornya sekarang.
Ia menuju mobilnya yang terparkir setia menunggu. Menyalahkan mesin dan mulai memutar roda kemudi.
Di dalam rumahnya, Neta menerobos masuk tak peduli pandangan aneh dari para pelayannya. Ia sempat menabrak adiknya saat berlarian di koridor.
"Sorry," katanya dengan suara mengecil.
Sesampainya di kamar Neta melempar asal baju kaos sang suami dan mandi dengan kecepatan kincir angin. Sepuluh menit kemudian dia sudah siap dengan seragam kebanggaannya.
Meja makan besar yang bisanya ramai itu tampak kosong. Entah kemana para penghuninya, Neta tak punya waktu untuk mencari tahu. Ia harus mempercepat lari atau akan terlambat.
"Nona enggak sarapan dulu?"
Sang pelayang bertanya saat Neta melewatinya. Neta menjawab seadanya berlari melintasi taman. Ia harus buru-buru.
"Pak, buka gerbangnya."
Ia berteriak pada satpam yang berjaga. Berlalu begitu saja tak menyadari mobil metalik merah yang terparkir.
Suara klakson menghentikan langkahnya cepat. Ia menoleh dan menemukan Adrian sang suami.
"Masuklah, aku akan mengantarmu."
Neta tidak segera menjawab hanya menatap mobil metalik merah itu. Kemarin ia menyumpahi mobil itu dan sekarang ia harus duduk di dalamnya?
__ADS_1
Takdir yang benar-benar konyol.
TBC.