
Di sepanjang jalan menuju rumahnya Neta terdiam memikirkan kejadian barusan. Pertukaran mereka sangat tidak sepadan. Siapa yang bisa memastikan jika Adrian akan memegang janji? Tidak ada jaminan tapi Neta sudah muak berurusan dengan pria itu dan orang-orang disekitarnya.
Di sebelahnya Deandra memandang sikap diam Neta dengan cemas. Ia tidak tahu persis bagaimana kejadiannya tapi itu jelas buruk. Terakhir kali Neta bersikap seperti itu adalah saat pertemuan pertama mereka. Itu sudah bertahun-tahun lalu.
"Gue minta Adrian buat ngehukum Kania dengan tangannya sendiri." Menyesal sekarang sama sekali tidak berguna tapi Neta butuh orang untuk meyakinkannya bahwa keputusannya benar. "Sebagai gantinya gue enggak boleh ungkit masalah ini lagi terutama sama keluarga gue."
Dari pantulan jendela samping. Deandra bisa melihat betapa sendu eskpresi sahabatnya sekarang. Namun ketuk palu sudah berbunyi dan perjanjian itu sudah berlangsung. Neta tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mengubahnya.
"Gue enggak bakal bilang itu keputusan tepat tapi gue tau Lo enggak bakal mutusin sesuatu tanpa pertimbangan matang." Deandra menghela napas lemah. "Boleh gue tau kenapa Lo mutusin milih ngubur semuanya?"
"Karena betapapun gue yakinin diri pelakunya adalah mbak Kania, entah mengapa hati Gue menolak keras. Rasanya kebetulannya terlalu dibuat-buat."
Neta tahu ia bodoh karena mengikuti insting tapi ada sesuatu yang mengganjal dari itu semua. Jika Kania memang pelaku utamanya mengapa ia harus repot-repot menyewa preman? Jelas-jelas perempuan itu mendatanginya di sekolah beberapa jam sebelumnya.
"Lo mundur cuma gara-gara itu?"
Pandangannya fokus pada ke luar, sejauh apa yang tampak matanya hanya seperti garis buram, kecepatan mobil membuatnya demikian. Seperti perasaanku, pikir Neta. Ia tidak tahu bagaimana perasaanya sendiri sekarang dan terus bertanya-tanya mengapa semua terasa hambar. Orang bilang semua emosi entah itu rasa marah, sedih, senang, adalah bukti bahwa seseorang itu hidup. Namun Neta rasanya tidak memiliki semua itu.
Dirinya marah pada Kania sebagai otak rencana dan ingin memukulnya, tapi di menit berikutnya Neta kehilangan minat itu. Sudut dalam hatinya berkata bahkan jika ia benar-benar mendatangi Kania memukulinya menggunakan tangan sendiri atau menyeretnya ke kantor polisi, kenyataanya tidak berubah. Para b*jingan itu tetap sudah meletakkan tangan pada dirinya dan ketika pikiran itu muncul Neta merasa sia-sia saja menghukum Kania. Neta tidak melihat kepuasan dari melakukan itu.
Pikirannya bergeser pada Adrian selagi otaknya memvisualisasikan wajah rupawan pria itu. Berinteraksi lebih banyak akhir-akhir ini menambah pengetahuannya mengenai pria itu terutama sifatnya dan Neta berani simpulkan bahwa Adrian terlahir dengan bakat mengerikan dalam semua bidang.
"Adrian itu jeli, De, enggak mungkin dia enggak sadar kalo ada yang janggal."
B*jingan itu bebas berkata bahwa ia dibayar seseorang untuk melakukannya, itu bukan kebohongan. Namun mengetahui nama panjang dari klienya jelas mencurigakan, tidak ada seorang teman yang memanggil temannya menggunakan nama panjang. Preman atau siapapun yang merencanakan itu jelas gagal pada bagian itu dan Adrian tidak mungkin melewatkan poinnya.
__ADS_1
Di dunia ini tidak ada yang bisa menyembunyikan sesuatu secara rapi termasuk jejak kejahatan. Namun jika itu sudah direncanakan bukankah terlalu ceroboh dengan memberi petunjuk kecil mengenai kejanggalan? Neta tercenung. Seolah itu di sengaja. Namun siapa? Dan apa tujuannya?
"Tapi gue masih enggak mau ngerelain begitu saja. Kania berhak dapat ganjaran."
Deandra berapi-api saat berbicara. Serangkaian rencana gelap mengenai pembalasan berseliweran di otaknya. Deandra gatal ingin segera mempraktekan itu semua.
"Gue juga enggak bilang bener-bener ngerelain."
Mereka hanya membuat perjanjian mengenai para preman yang menyerang Neta. Masalah insident pelabrakan itu beda lagi, tapi prioritas utama sekarang adalah menyingkirkan kecurigaan itu dari benak Adrian. Adrian itu bukan hanya b*jingan ia maniac mengerikan jika menyangkut Kania. Neta tidak ingin berurusan sebagai musuh dengan Adrian.
"Ya, terserah yang penting jangan sedih lagi oke? Lo masih harus ngadepin Bu Maria tau."
Alis Neta bertaut mendengar nama wali kelas mereka yang tak ada sangkutan dengan topik dibawa-bawa. Apa yang sudah dirinya lewatkan?
Ah! Sial! Neta praktisnya mengerang frustasi mendengar informasi tambahan itu.
*
*
Rayden kembali tak lama setelah mobil yang membawa Neta lenyap dari pandangan dan disuguhi adegan Adrian yang baru saja menerima pukulan cinta dari Dante. Adrian terkapar di lantai sedangkan Dante menjulang di atasnya. Kedua sahabatnya itu bertatapan sengit dengan Dante yang seperti hewan buas.
"Sebaiknya kau punya alasan bagus untuk pukulan itu."
Pipi Adrian berdenyut pun belakang kepalanya. Pikirannya sedang kusut sekarang dan menolak menambahnya dengan kemarahan Dante. Dante beruntung karena Adrian sedang malas adu pukul dengan siapapun kalau tidak pria itu pasti sudah babak belur juga.
__ADS_1
"Aku sedang memperbaiki otakmu mungkin saja ketika dipukul pikiranmu jadi jernih." Dante mengepalkan tangan lagi dan akan meluncurkannya segera kalau tidak di tahan Rayden.
"Oi, Dante, tenang dulu." Rayden berhasil memaksakan jarak dengan menarik Dante meski teman itu masih berontak.
Namun kata-kata Rayden tidak sampai ke telinga Dante pria itu sangat emosi.
"Sebegitu cintanya kau pada Kania sampai kehilangan nurani? Apa kau sadar betapa para kerusakan mental yang diterima Neta? Apa kau pernah sedikit saja memikirkan bagaimana gadis itu akan menjalani hidupnya kedepannya? Kau dengar kan dia bilang apa tadi, dia bahkan tak pernah sedetikpun melupakan kejadian itu dan kau malah ..."
Dante mengeluarkan semua pikiran kemarahannya menyemburkan rasa jijik dari sikap Adrian. Bagaimana seseorang bisa begitu buta jika menyangkut cinta? Adrian benar-benar tak terselamatkan lagi.
"Kalau kau sebegitu cintanya pada Kania setidaknya berilah keadilan bagi Neta. Jangan jadi pengecut Adrian, kaulah yang menyeret gadis itu ke dalam kubangan ini."
Adrian mengusap darah dari sudut bibirnya menanggapi ledakan emosi Dante dengan dengusan. "Apa kau sudah puas?"
Ia mendecak kecil melemparkan pandangan kesal sebelum keluar dari bangunan terbengkalai itu. Rayden memandangi punggung Adrian selagi menahan Dante agar tak membuat keributan lainnya.
"Tenanglah Dante, itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Rayden mengumpat, menyesalkan keputusan Adrian yang melarangnya mengatakan apapun. Menahan Dante yang masih mode petasan itu. "Adrian tidak sedangkal itu.
"Tidak ada yang bisa dipercaya dari pria yang gelap mata gara-gara cinta." Dante menyangkal. "Kau seharusnya membantu menyadarkan Adrian, bukan cuma diam dan mendukung. Ada kalanya kau harus membuatnya sadar."
Rayden mengerenyit kewalahan menghadapi Dante yang kepanasan.
Andai saja semua orang tahu pikirnya pening.
TBC.
__ADS_1