
Di antara celah kecil pintu yang tak rapat Rayden berdiri. Ia sudah cukup lama di sana menyaksikan semua yang terjadi antara Neta dan Adrian dengan sorot tak percaya. Ekspresinya mirip manusia modern saat bertemu makhluk langka dan semacamnya. Beruntung Rayden punya fisik rupawan jadi walaupun sedang menampilkan wajah absurd ia tetap terlihat bagus dalam pandangan.
Sesuatu telah terjadi di belakang punggungnya dan itu jelas mengarah ke jalur yang tak di sangkanya. Terutama karena itu datang dari Adrian adjama yang ia pikir sampai mati akan tetap bertahan pada Kania.
"Hmmm!"
Deheman kecil yang Rayden tahu pasti disengaja itu membuatnya berbalik, melemparkan pandangan tajam pada si pelaku. Syukur-syukur kalau itu bisa mencederainya.
Berdiri dengan lengan terlipat Dante menyeringai melihat kelakuan Rayden.
"Kau hobi mengintip ya sekarang."
Rayden melepas napas lelah berjuang membuang keinginan untuk memukul Dante dan berjalan melewatinya begitu saja menuju ruang tamu apartemen.
"Aku cuma berniat memeriksa Adrian tapi ternyata ia sudah lebih dari sekedar sembuh."
"Niat memeriksa lalu jadi mengintip." Dante menolak menyerah menggoda Rayden. "Bagaimana? Apa ada sesuatu yang hot tadi?"
Rayden menggeleng lelah membaca niat Dante yang terlampau jelas itu. Apakah pria ini tidak punya pikiran lain kecuali mencari kesempatan untuk mengusili Adrian? Mengapa membuat Adrian berada di situasi memalukan sangat membahagiakan baginya? Rayden sedikit tertarik untuk mengulik isi otak Dante bila ada kesempatan.
Sayangnya dia bukan seorang ilmuan pun bahkan jika iya dirinya tidak akan bisa melakukannya. Nuraninya sebagai Sahabat menolak bersikap kejam pada temannya.
"Sebaliknya, sejak kapan mereka jadi serapat itu? Bagaimana cara gadis kecil itu menangani Adrian yang seluruh otaknya di program untuk membahagiakan Kania?"
Rayden benar-benar penasaran mengenai itu. Ini adalah pertemuan kedua yang sebenarnya tidak bisa disebut demikian. Mereka belum bicara sama sekali hanya kebetulan berada di tempat yang sama. Sementara pertemuan pertama mereka tidak memiliki kesan apapun. Rayden hanya memandangnya sebagai istri terpaksa itu saja tapi sepertinya ada lebih dari jiwa seorang gadis di dalamnya.
"Kau harusnya lebih banyak bersama Adrian sekarang. Ia sedang dalam puncak fase membakar diri sendiri dan membawa orang lain terpanggang bersamanya."
Dante memilih sofa single berwarna hitam di dekat pintu masuk duduk dengan nyaman sebelum melanjutkan. Ia memasang wajah sombong karena berhasil meninggalkan Rayden satu langka di belakang. Selama ini Dante selalu dan selalu jadi urutan terakhir dalam strata persahabatan mereka. Leo tidak masuk hitungan karena praktisnya dia orang luar, baru bergabung karena Kania tapi mereka bertiga tidak.
Mereka hanya berbeda bulan saat lahir tumbuh dan besar di lingkungan sama bertahun-tahun. Jelas lebih memiliki hubungan yang sangat, sangat erat, tapi bahkan dari yang erat selalu ada yang paling dalam. Itulah jenis hubungan Rayden dan Adrian mereka sangat dekat sampai bisa membaca hati masing-masing dari pandangan sekilas saja. Selain itu mereka juga masih memiliki kekerabatan darah hal yang selalu membuat Dante iri di beberapa kesempatan.
Namun saat ini Rayden ketinggalan dan Dante berniat membusungkan dada sebentar sebagai rasa kemenangan.
"Bom akhirnya meledak ya," bisiknya kecil.
Cepat atau lambat itu pasti terjadi selama ego tinggi masih memenuhi pikiran ketiganya. Rayden sudah menduga sejak lama tapi yang membuatnya kurang senang adalah keterlibatan orang lain di dalamnya. Gadis itu sangat baru dalam kehidupan mereka tapi sudah harus menerima percikan api, sangat memalukan pikir Rayden.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Dante."
"Hmmm!"
Rayden mengerutkan kening menunggu bersama kesabaran yang perlahan menguap melihat kerutan dalam di dahi Dante. Temannya itu sengaja mengulur waktu untuk membuatnya kesal. Tangan Rayden meraih bantal sofa terdekat memasang mode siap melayangkannya pada Dante saat suara gebrakan kasar terdengar di belakangnya.
Kania baru saja membuka pintu kasar berjalan terburu-buru dengan tangan mengusap pipi. Siapapun tahu bahwa ia sedang menghapus jejak tangisan. Dante dan Rayden saling melirik memikirkan hal sama. Pintu dari kamar satunya menyusul terbuka satu menit setelahnya. Pasangan lainnya keluar sebagai tanggapan suara berisik.
"Kania!"
Adrian memanggil gadis yang baru saja melewati pintu utama. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikiran saat mengejar Kania sampai suara di balik punggungnya terdengar.
"Adrian!" Datar dan dingin. "Mau berapa kali lagi kau menjadi keledai?"
Pengucapan dan perumpaan kata yang dipilih sangat menyinggung bahkan bagi Rayden yang hanya mendengarnya. Apalagi Adrian sebagai seseorang yang dikatai. Rayden tahu Adrian memiliki kesabaran minim dan lebih suka meledakkan semuanya dalam kekacauan saat marah terutama berhubungan dengan Kania. Namun melihat Adrian hanya berdiam dengan tubuh yang gemetar karena menahan emosi membuat Rayden takjub luar biasa.
Sebesar itukah efek yang ditimbulkan?
Tangan Adrian mengepal erat oleh amarah pikirannya dipenuhi rasa ingin mengamuk, tapi tetap saja tubuhnya berhenti. Melihat sikap patuh itu Dante buru-buru berdiri. "Biar aku saja. Akan kupastikan Kania pulang dengan selamat."
Di posisinya Rayden masih menatap moment itu dengan alis bertaut.
"Aku tidak akan menghalangi kalau kau ingin menghajar Leo, tapi apa itu benar-benar menyelesaikan masalah?"
Rahang Adrian mengetat balas menatap marah. "Kania menangis," katanya lamat dengan nada dalam. Si brengsek itu pasti melakukan hal bodoh lagi.
"Kau ingin aku diam saja?"
Senyum sinis bermain di bibir Neta, mencemooh pikiran Adrian yang sangat buruk dalam membaca situasi. Sorot matanya di penuhi rasa jijik besar. Sekarang Neta tahu dari mana karakter utama pria dalam novel-novel romance picisan itu diilhami. Jelas dari orang seperti Adrian ini yang plin-plan dan kehilangan akal sehat kalau sudah menyangkut wanita.
"Menggenggam tangannya juga bukan pilihan benar." Neta mendorong rasa muaknya menjauh. "Bahkan obat terbaik pun akan jadi racun jika berikan pada luka yang salah."
Memanfaatkan moment di mana Adrian kehilangan kata-kata Neta melanjutkan. "Itulah kenapa aku tidak menyukaimu. Kau tahu kau salah tapi kau tetap melakukannya."
Neta belum mengenal perasaan pada lawan jenis jadi tidak seharusnya ia mengomentari Adrian. Namun bahkan dengan dirinya yang masih minim pengalaman mengenai lawan jenis tahu bahwa Adrian bersalah dan Leo lah yang terluka di sini.
Di tempatnya Rayden yang sedari tadi diam menyimak akhirnya ikut berbicara.
__ADS_1
"Istrimu benar Adrian. Sesekali kau harus membiarkan Kania menangani sendiri. Kau tidak ingin dia bergantung selamanya padamu kan?"
Diserang dari berbagai sudut secara bertubi-tubi membuat Adrian terpaksa mengalah. Ia bisa membantah Neta tapi bahkan Rayden pun sepakat.
"Aku mengerti."
Adrian mundur dari perdebatan melangkah menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Ia melirik diam pada istrinya yang masuk ke dalam kamar dan keluar semenit kemudian dengan keadaan rapi.
"Kau ingin pulang?"
Neta meliriknya sesaat menarik napas dalam. Ia punya tujuan lain mengapa bersedia datang ke sini.
"Ya, kau sudah tidak membutuhkanku lagi." Ia melangkah mendekat ke tempat di mana Adrian duduk setengah berbaring, meraih sesuatu. "Ini, kakek memintaku menyerahkan ini padamu."
Adrian mengerenyit, sisa-sisa kemarahan masih tertinggal di dalam dirinya terbukti dari sikapnya yang sangat dingin saat berbicara. Adrian meraih kertas itu cepat dan menjadikannya bola dalam hitungan detik lalu melemparnya ke tempat sampah. Ia tidak peduli dengan apapun yang diinginkan Baskoro tua itu.
"Apa?" Tanyanya sengit pada Neta yang terdiam dengan wajah mengerut.
Gadis itu membuatnya marah tadi dan kenapa Adrian tidak boleh melakukan hal yang sama. Di arah diagonalnya Rayden mendengus melihat sikap kekanakan Adrian.
"Tidak," Neta menggeleng kecil. Ia menatap kotak sampah tempat kertas itu berdiam sekarang. "Terima kasih sudah mengakhirinya dengan baik. Aku tidak perlu merasa bersalah karena sudah bersikap buruk tadi."
Cara bicara yang kelewat santai dan penuhi rasa lega itu tak pelak membuat Adrian bangkit. Gadis itu memang punya sikap acuh pada segala sesuatunya tapi Adrian pikir setidaknya ia akan minimal jengkel. Adrian sangat kasar saat membuang kertas barusan.
"Apa maksudmu?"
Neta yang barusan memutar haluan hendak balik jadi kembali menoleh. "Kau tidak lupa kan hari ini?"
Melihat kerutan dalam di kening Adrian, Neta menghela napas. Pria itu lupa sudah pasti.
"Hari ini tepat satu bulan Adrian. Besok kita secara resmi bukan lagi pasangan."
Lebih tepatnya beberapa jam lagi. Neta melirik jam yang menggantung di dinding. Kurang lima menit dari jam dua belas. Tanpa sadar senyumnya mengembang.
Waktu yang sama dengan Cinderella ketika ia kembali menjadi babu dan kehilangan sepatu kaca. Namun berbeda dengan Cinderella setelah jam dua belas Neta resmi menjadi janda.
Neta geli dengan pikirannya melemparkan satu pandangan dingin terakhir pada Adrian yang membeku sebelum keluar dari apartemen.
__ADS_1
TBC.