
Adrian menghela napas panjang membuka kancing kemeja teratasnya kasar. Matanya memandang marah pada pintu besar yang baru saja menutup. Setumpuk file beserta miniatur taman cantik menggeletak diam di atas meja. Ruang rapat bernuansa silver mengkilat itu hening ditinggal koleganya beberapa menit lalu.
Presentasi proyek rancangan selalu jadi satu moment utama yang disukai Adrian selama menjadi seorang arsitek. Saat di mana ia memamerkan mahakarya hasil pemikirannya. Adrian tak pernah lebih bahagia dari apapun kecuali mendapati mata-mata para koleganya yang bersinar saat melihat betapa menakjubkannya miniatur rancangannya atau saat jabat tangan sebagai penanda resminya kerja sama. Namun barusan ... Dasar tua Bangka sialan.
Adrian tak habis pikir apa mau dari pria tua itu. Ini salah, itu kurang, lainnya terlalu biasa, selalu saja ada kecacatan dalam ide rancangannya. Rasanya seolah mereka sengaja mempersulit dirinya. Padahal Adrian sudah mencurahkan waktu sampai rela mengurangi jam tidurnya, mengumpulkan informasi setiap taman bermain unik nan indah di seluruh penjuru dunia. Meneliti satu persatu sampai ke hal terkecilnya agar memenuhi kriteria yang diinginkan keluarga mertuanya itu. Namun tetap saja tidak diterima.
Haruskah ia membuat model taman gantung Babilonia agar Baskoro sialan itu puas? Adrian mendengus melempar miniatur taman bermain itu hingga hancur berserakan. Ia berjalan jengkel mendekati jendela menatap ke jalanan di bawahnya. Mobil-mobil yang berlalu lalang tampak seperti semut bercahaya yang sedang mengangkut makanan.
"Wah, apa ini?"
Dante menyembul dari balik pintu, bersiul pelan menatap miniatur yang hancur berserakan di lantai. Pandangannya lantas beralih pada Adrian yang berdiri di dekat jendela. Temannya itu tak menjawab tapi Dante tahu ia mendengarkan.
"Ditolak lagi ya?"
Ia terkekeh, memungut sala bangku kayu mini yang di desain sangat cantik. Matanya menyusuri bagian kaki yang diukir sebegitu niat. Begitu halus, elegan, dan mengagumkan, Dante bisa merasakan betapa besar perasaan yang tercurah di dalamnya. Sampai sekarang ia masih kesulitan untuk percaya kalau tangan kreatif sahabatnya itu yang menciptakannya.
"Mereka berniat sekali membuatmu pusing."
Dante bukan tak tahu kalau permasalahan utamanya ketidakpuasan Baskoro bukan datang dari desain rancangan Adrian yang jelek melainkan persoalan pribadi. Baskoro sekeluarga sengaja memperumit situasi guna membuat Adrian susah.
"Mereka rupanya masih dendam perihal tanah di blok Z."
Dante tertawa pelan, yang benar saja pikirnya. Itu sudah lama sekali, selain itu bukankah sekarang mereka keluarga? Bagaimana bisa mereka memperlakukan menantu sendiri dengan begitu kejam?
"Jadi, bagaimana rencananya sekarang?"
Adrian berbalik menatap Dante yang duduk santai di sala satu kursi. Wajahnya masih dipenuhi kerutan tapi matanya menunjukkan sebaliknya. Adrian sedang benar-benar jengkel.
__ADS_1
"Membuat ulang, tentu saja."
Dante menggeleng kecil setulus hati merasa prihatin pada sahabatnya itu. Ini adalah kali ketiga rancangan tamannya di tolak oleh pihak Baskoro Grub dan akan jadi yang ke empat bila berikutnya juga ditolak. Padahal kolega lain biasanya selalu puas hanya dengan satu desain dan Baskoro sudah menolak tiga. Wah, itu rekor yang benar-benar menakjubkan. Konsep seperti apalagi yang diinginkan keluarga itu.
"Kenapa tidak mundur saja?"
Adrian mengangkat alis mendengar pertanyaan Dante yang menurutnya konyol. Seorang Adrian tidak akan pernah mundur apalagi hanya gara-gara keluarga aneh itu.
"Sudahlah, aku ingin cari makan. Kau mau ikut?"
Dante berpura-pura berpikir. "Tempat biasa?"
"Memang ada tempat lain yang lebih baik?"
Dante menyeringai, tahu dengan benar apa alasan yang sebenarnya. Bahkan setelah bertahun-tahun Adrian masih saja belum mau melepaskan Kania.
Keduanya kemudian menuju meja pojok yang jadi spot makan favorit mereka. Selagi menunggu para waiters yang masih sibuk bersama pelanggan lain Adrian melemparkan pandangan pada pintu dapur berharap seseorang yang ia ingin lihat akan muncul. Namun alih-alih gadis itu yang muncul malah seseorang yang tak diduga sama sekali.
Sedang apa dia di sini? Adrian mengerenyit berniat mendekati sosok tak yang seharusnya ada di sini itu sampai suara lembut pelayan lain menyapa telinganya. Ia mendongak menyadari suara sang pelayan tak asing baginya.
"Mau pesan apa, tuan?"
Sang pelayan mendengus mendapati reaksi heran dari kedua pelanggannya. Sudah ia duga akan jadi begini. Seharusnya tadi aku menolak saja, pikirnya menyesal. Masih mempertahankan senyum sopan menunggu dengan sabar. Ia harus bisa semaksimal mungkin bersikap profesional.
"Neta?"
Dante yang pertama bereaksi. Ia mengerjap beberapa kali guna memastikan penglihatannya tak salah. Apa yang terjadi? Pertanyaan itu melintas dengan cepat. Mengapa istri sahabatnya itu bisa ada di sini? Terlebih sebagai pelayan?
__ADS_1
"Kamu? Bagaimana bisa?"
Dante melirik Adrian dari sudut mata menanti bagaimana reaksinya. Sahabatnya itu memandangi istrinya dengan sorot mata heran sesaat sebelum menjadi jengkel. Ekpresinya kecut seolah sedang menelan makanan basi.
"Bukannya seharusnya kau sudah pulang?"
Mata Adrian memicing, memandangi penampilan sang istri dari ujung kaki hingga kepala sebelum berdecak. Gadis itu terlihat sangat cocok dengan pakaian pelayan. Terlebih dengan gaya rambut kuncir kuda yang mana memperlihatkan leher jenjangnya. Tidak akan ada yang mengira kalau mereka masih SMA. Pantas pelanggan malam ini jadi bertambah tiga kali lipat.
Di belakang sang istri, Adrian menangkap keberadaan Deandra yang berpakaian serupa. Gadis itu tampak semangat bergerak lincah dari meja satu ke berikutnya saat mencatat pesanan para tamu. Senyum ramah yang hangat tak henti-hentinya menghiasi bibirnya pun tutur lembut ketika berbicara. Sulit dipercaya bahwa ia adalah gadis yang sama dengan yang tadi siang.
"Kami sedang mengambil kerja magang di sini. Hitung-hitung sebagai latihan."
Neta meringis pelan sebisa mungkin mengabaikan tatapan tajam dari Adrian yang serasa membakar pipinya. Mendadak Neta merasa paru-parunya menyempit dan ia kesulitan bernapas.
"Jadi kalian mau memesan apa, tuan?"
Pegangan Neta pada pena mengerat, menahan napas selagi menunggu jawaban keduanya. Berharap kedua pria ini tidak mempersulit dirinya. Ia tidak mau berlama-lama terjebak dengan situasi canggung ini. Deandra sialan umpatnya kesal.
Bisa-bisanya pula tadi Deandra kepikiran mengajukan diri sebagai pelayan pengganti karena yang asli berhalangan hadir.
"Katakan saja, meja nomor delapan, pesanan biasanya."
Nada suara Adrian tajam hingga membuat Neta agak bergidik. "Baik, mohon di tunggu."
Neta baru akan menarik napas lega saat lengannya dicengkeram erat. Pelakunya sudah bisa ditebak siapa. Ia berbalik perlahan memoles senyum sopan sekali lagi.
"Suruh pemilik kafe menemui saya. Penting."
__ADS_1
TBC.