Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
CEO, jenis?


__ADS_3

Minuman dingin rasa mangga baru meluncur satu detik lalu di tenggorokan Deandra hanya untuk keluar pada detik berikutnya. Ia terbatuk kecil meringis saat tenggorokannya sakit. Penyebab insident kecil itu adalah pemandangan yang tampak dihadapan matanya.


Eh! Apa ini? Wah, wah.


Deandra gagal menahan pikiran liar yang bermunculan di kepalanya. Seorang gadis turun dari mobil mewah? Orang-orang akan berpikiran yang aneh-aneh. Jika ini negara sakura maka sudah dipastikan itu papa manis tapi yang sedang dibicarakan itu bungsu Baskoro. Sala satu keluarga kaya yang tidak kekurangan uang sama sekali. Jadi apa sekiranya alasan di balik itu semua?


Deandra terkikik sendiri memikirkan kemungkinan paling besar, paling klise, dan paling konyol. Perjodohan bisnis. Demi Dewi bulan penguasa negeri dunia bawah.


Realita macam apa ini?


"Jadi, CEO jenis mana itu?"


Deandra meledak dalam tawa mendengar pemilihan kata pertanyaannya saat menghampiri Neta. Orang-orang di sekitarnya menoleh memberikan pandangan aneh. Oke, itu bukan jenis pertanyaan yang umum bagi anak sekolah tapi Deandra tidak bisa memikirkan hal lain. Asumsi itu sudah tersusun dalam benaknya dan tak mau lepas.


Sungguh, ia tidak menyangka hal semacam itu bakal benar-benar ada di dunia nyata. Deandra kira itu hanya ada di pikiran liar para perempuan belum cukup umur yang direalisasikan dalam tulisan online.


Namun siapa sangka, ia bisa menyaksikan secara langsung. Hal yang patut untuk di tunggu kelanjutannya. Bahkan Deandra bisa membayangkan bagaimana sahabatnya mengatasi ini. Deandra hanya bisa berdoa semoga siapapun pemilik mobil metalik merah itu bukan pendendam karena ia yakin orang itu pasti akan cepat mati. Tak sanggup menghadapi sifat asli Neta yang jauh dari karakter luarnya.


"Yah, jenis yang urat sarafnya bengkok gara-gara kebanyakan desah."


Deandra sekali lagi meledak dalam tawa nyaring mengundang banyak perhatian. Ia teruduk di koridor sekolah saking tak kuatnya menahan tawa.


Demi apa? Lucu sekali. Ia tahu kadang-kadang otak Neta itu suka melihat sesuatu dari sudut pandang yang tidak dimengerti orang normal. Namun, serius? Bagaimana ia bisa memilih kosakata paling kocak itu? Pria tadi pasti kena serangan stroke mendadak jika mendengarnya.


"Jadi, dirimu yang mana? Dijual? Diminta melahirkan anaknya? Ditunangkan? Dinikahkan? Atau? Tak sengaja ditiduri?"


Deandra melepas semua kata dalam pikirannya tanpa filter. Oke, otaknya mungkin sudah terlalu banyak dijejali kisah klasik dari genre romansa itu, tapi sungguh dia tidak bisa menahan perasaaan geli dalam dirinya. Dari semua orang? Mengapa tipe gadis macam Neta yang harus menjalaninya?


"Dijadikan janda dalam sebulan ke depan, puas?"


Deandra membekap mulutnya guna menahan suara tawa yang mungkin akan menimbulkan kekacauan lagi. Mereka di dalam kelas sekarang dan sebagai gantinya ia memukuli tas yang barusan ia lemparkan ke atas meja.


Deandra tidak bisa lagi mengendalikan diri tubuh dan pikirannya merespon suka cita lucu dari derita konyol sang sahabat.


"Diem, deh, Lo." Neta menyenggolnya cemberut. Yakin seratus persen ini akan terjadi bila sudah berurusan dengan sang sahabat.


"Simpati dikit kek, sama orang yang lagi mengalami musibah."


"Dih, enggak bersyukur banget. Dapet suami ganteng, kaya, secara cuma-cuma, malah dibilang musibah," Deandra terkikik geli. "Di dunia peromansaan ada banyak cewek Lo yang ngantri buat jadi pasangan pria model itu. Ampe banyak yang rela ngambil peran kupu-kupu liar. Lah, Lo, malah sebaliknya."


Neta mendengus sinis.


"Sorry, ya. Jangan samain Gue, sama cewek yang halunya melebihi para pemakai barang haram itu."

__ADS_1


Ogah bener di sama-samain, pikir Neta. Masih mending sama fans negara ginseng yang hobi teriak-teriak gaje itu. Setidaknya mereka menyukai hal nyata. Lah, itu? Pria tukang desah yang kerjaannya udah kayak petani aja tanam bibit di mana-mana. Mana songong pula.


Neta benar-benar heran bagaimana susunan saraf otak para perempuan yang menyukai bahkan mengharapkan suami semacam itu. Padahal jelas-jelas kebanyakan bikin sakit hati. Sudah diabaikan, dilecehkan, masih saja mau. Sungguh, miris sekali melihat kiblat panutan para perempuan sekarang. Hobinya kok yang bagian merendahkan derajat sesama wanita.


"Awas, Lo ntar kena karma, jadi beneran ngalamin nasib sama kek cewek-cewek yang Lo hina."


Neta mengangkat alis, melipat lengan, bibirnya mengerut. Keprihatinan tinggi menghiasi wajah putihnya.


"Lo bisa milih kata kutukan kreatif dikit enggak? Jangan jadi otak udang ya, milih kosakata aja itu-itu aja."


Lagipula itu tidak akan terjadi. Adrian tidak sama dengan para pria dalam novel-novel picisan itu. Adrian tidak dingin, cenderung ceriwis, ia juga sebenarnya bukan CEO, cuma nampang nama doang. Aslinya yang CEO bapaknya. Jika ada kesamaan antara Adrian dan pria-pria cool tapi kelakuan cabe-cabean dalam novel itu, ya, hobinya yang suka desah, itu saja.


"Ngikutin selera pasar lebih enak Ding. Enggak repot dan terbukti berhasil."


Neta memutar bola mata bosan. Kalau lagi model menyebalkan Deandra ini bisa sangat menakutkan. Emosi orang bisa tidak turun-turun.


Pembahasan mengenai nasib konyol Neta terus berlanjut. Bahkan ketika jam istirahat siang Deandra masih saja menggodanya. Neta sampai harus pura-pura sakit dan menghabiskan sisah pelajaran di ruang medis sekolah.


Garis waktu sudah bergeser ke arah senja saat Neta keluar dari gerbang sekolah. Ia sempat ketiduran gara-gara terlalu lama bersembunyi dan sebagai akibatnya dirinya pulang sangat terlambat.


Bicara soal pulang, Neta merasa bingung sekarang. Apakah ia masih harus kembali ke rumah Baskoro atau Adrian. Ia sudah jelas lebih memilih rumah keluarga tapi entah bagaimana ia mendapat firasat Adrian tidak akan mengizinkannya.


Oh, benar, selain ceriwis Adrian juga punya sifat pemaksa.


"Neta, masuk. Kakak mau ngomong sesuatu."


Senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia sudah sengaja mengosongkan jadwal di rumah sakit hanya demi menemui sang sepupu dan harus menunggu berjam-jam pula. Vita ingin sekali memaki sepupu kurang ajarnya itu tapi ia punya agenda lain yang perlu di prioritaskan.


Di lain pihak, Neta sejenak ragu. Apa lagi yang direncanakan Medusa satu ini? Masih segar dalam memorinya bagaimana menakutkannya Vita ketika sedang dikuasi amarah. Perempuan anggun itu tak segan menyakiti secara fisik. Bagaimana jika kali ini Vita berniat memutilasinya? Orang yang lagi dimabuk cinta itu benar-benar harus dijauhi.


"Kakak, cuma mau ngomong. Enggak bakal ngapa-ngapain kok."


Vita masih mempertahankan wajah ramah, menyadari keengganan sang sepupu. Semalam ia kehilangan kendali diri dan memperlihatkan wajah lain dari dirinya. Ia sangat menyesal atas kejadian itu oleh karenanya ia harus memperbaiki keadaan. Terlebih sekarang adiknya itu istri dari pria yang ia cintai.


Jika Neta menetapkan dirinya sebagai musuh maka kesempatannya untuk mendapatkan Adrian akan jauh lebih sulit.


"Kak Vita, enggak ada praktek? Tumben udah pulang."


Bau semerbak bunga lavender dari pewangi yang menggantung di atas dasboar langsung menghantam hidung Neta begitu memasuki mobil. Ia duduk tak nyaman, tangannya bahkan sangat ragu saat memasang tali pengaman.


"Iya, udah beres semua. Kita mampir di kafe dulu ya."


Neta mengerti itu bukan sekedar ajakan makan. Niat lainnya terlihat jelas tapi meski begitu ia tetap mengikuti alurnya saja. Vita tidak akan bisa berbuat sama seperti terakhir kali.

__ADS_1


Mobil silver itu bergerak menjauhi area sekolah menuju jalan utama kota. Sinar matahari yang menyengat membuat pantulan menyilaukan di kap mobil Vita. Keduanya masih dalam mode hening selama beberapa saat sampai Vita membuka pembicaraan.


"Kakak, mau minta maaf, soal yang kemarin malam." Ia melirik Neta dari sudut mata. "Pasti sakit ya? Kakak terlalu terbawa emosi."


Neta tidak lantas menjawab memerhatikan pemandangan di hadapannya. Ekpresinya tak terbaca yang mana membawa rasa was-was dalam hati Vita.


"Yah, enggak bisa nyalahin kakak juga. Namanya juga batal nikah." Neta mengerenyit menampar diri dalam imajinasi. Bisa-bisa dia berkata begitu bijak.


"Tapi kakak benar-benar keterlaluan kemarin." Vita bersikeras merasa salah. Ia bahkan melunakkan nada bicaranya demi menunjukkan penyesalannya. "Seharusnya kakak cari tahu dulu yang sebenarnya."


Jika saja Neta tidak tahu tabiat asli yang kakak ia pasti akan luluh. Vita benar-benar pandai berpura-pura.


"Enggak usah di pikirin." Neta melemparkan senyum." Omong-omong, apa yang terjadi? Kok kakak bisa menghilang gitu?"


Cengkraman erat tangan Vita pada roda kemudi tak luput dari pandangan Neta. Ia melirik sekilas sebelum memusatkan perhatian ke jalanan yang penuh sesak.


"Seseorang yang enggak suka pernikahan itu terlaksana, dia menggunakan cara licik untuk memancing kakak keluar dan menyekap kakak di gudang hotel."


Mengingat kejadian itu membuat emosi Vita tersulut. Ia ceroboh sangat hingga tidak mewaspadai hal semacam itu, dan pelayan hotel sialan itu. Vita menggerakkan rahang, ia bersumpah akan membuat gadis itu menyesal.


Pastinya, Neta mengangguk maklum. Di balik gemerlap harta orang kaya ada banyak persaingan yang terjadi. Baik itu secara pribadi maupun bisnis. Hanya saja ia tidak bisa memastikan apakah insident yang menimpa sang kakak itu perbuatan saingan bisnis keluarganya atau orang yang tidak suka pernikahan itu secara pribadi.


Yang manapun masuk akal. Keluarganya punya banyak rival dan ada banyak juga orang yang tidak menyukai Vita secara pribadi. Bahkan mungkin itu datang dari sebelah Adrian. Pria itu tak mungkin tidak memiliki pembenci.


"Kakak udah tahu dalang utamanya?"


Vita menggeleng pelan.


"Kakek yang ngurus. Orang itu enggak bakal lolos."


Neta sekali lagi mengangguk. Semua urusan akan beres jika sudah ditangani sang kakek. Vita hanya perlu duduk manis menunggu laporan. Menculik dan menyekap cucu kesayangan Baskoro adalah kesalahan besar.


Sepuluh menit kemudian mereka tiba di sebuah kafe mewah bernama Mizue yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan anak-anak muda di sosial media. Kafe berpaping blok buntalan yang diperuntukan bagi kalangan elite itu mengkilat diterpa sinar matahari.


Neta sejenak mengkhawatirkan menu hidangannya. Takut porsi yang disediakan tidak cukup memenuhi lambungnya. Semua orang tahu Kafe elite biasanya pelit dan ia sangat kelaparan sekarang.


Memimpin di depan, Vita melenggang anggun. Gaun biru tosca ya melambai lembut tertiup angin. Seringai senang terpoles indah di bibirnya saat memikirkan apa yang sebentar lagi akan terjadi. Di tempat ini ia akan memberi pelajaran pada sepupunya itu. Membuatnya menyadari di mana tempat seharusnya ia berada.


Seringainya semakin lebar manakala matanya menangkap sosok tampan di bangku sebelah kiri. Pria itu belum menyadari kehadiran dirinya, sibuk melempar kata pada seseorang di depannya. Adrian admaja sedang makan bersama seorang perempuan.


Sempurna! Vita bersorak riang menantikan drama sebentar lagi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2