
Tersenyum puas pada foto yang memperlihatkan dua orang siswi berseragam wisuda dengan latar gerbang besar bertulisan SMA Sentosa itu. Neta meletakkannya pada album, memuji tulus hasil jepretan sang adik yang sulit dipercaya mampu mengambil foto dengan sebagus itu. Itu bisa jadi kenang-kenangan terakhir bersama Deandra karena setelah ini mereka akan terpisah dalam waktu yang cukup lama.
Meneruskan tradisi keluarga, Deandra sudah dipastikan akan berangkat ke Perancis besok guna melanjutkan studinya. Sahabatnya itu akan mengambil jurusan kedokteran sebagaimana seluruh anggota keluarga Pramudiya. Neta sendiri sudah menerima tawaran dari beberapa universitas tapi ia belum memastikan akan memilih yang mana. Ia masih tidak yakin akan melanjutkan pendidikan. Tentu saja pendidikan penting tapi situasinya sekarang mengharuskannya memikirkan matang-matang.
Menutup album, matanya lantas melirik gadgetnya yang berbunyi nyaring dengan nama Vita tertera. Neta tidak bergerak dari posisinya sedikitpun hanya memandangi dalam diam tanpa ada niat menerimanya.
Mau apa lagi medusa satu ini?
Ia punya semacam trauma tersendiri mengangkat panggilan dari Vita. Entah bagaimana biasanya itu berakhir tidak bagus, tapi ketika setelah panggilan ke lima dan Vita tak kunjung menyerah, Neta dengan enggan menggeser tanda terima.
"Dek, bisa anterin high heels kakak enggak? Tadi kakak berangkat buru-buru jadi lupa bawa. Tolong ya, kotaknya ada di atas kasur warna silver ato tanya aja sama mama."
Sebelum Neta sempat mengucap salam sapaan Vita sudah lebih dulu memberondongnya dengan kata-kata. Mendengarkan dengan kening berkerut samar Neta menghela napas lelah.
Kenapa tidak meminta bantuan yang lain saja? Kenapa harus dirinya? Berprasangka buruk itu bukan hal baik tapi dengan Vita Neta kesulitan untuk tidak melakukannya. Ketinggalan heels di hari H padahal perempuan itu sudah menantikannya sejak berhari-hari rasanya agak mencurigakan.
"Neta ..."
Pintu kamarnya dibuka kasar dan wajah Tante Linda ibunda Vita muncul menenteng tas di tangan kanannya. Neta menatap perempuan itu dengan ekspresi masam. Rupanya Vita sudah mengambil langkah untuk mencegahnya menolak, pintar sekali.
"Oke, kirimin aja alamatnya."
Neta berdiri di trotoar tak jauh dari gerbang utama kompleks perumahan Jeikarta menunggu sang sopir yang sedang memperbaiki mobil yang mogok secara tiba-tiba. Sesekali ia bergerak gelisah begitu pesan Vita masuk memintanya untuk segera datang.
"Pak, masih lama?"
Ia melongok pada kap mobil yang terbuka menatap kumpulan mesin dan kabel yang tak dimengertinya itu.
"Iya, non. Kayaknya ada yang rusak."
Melirik jam pada layar gadgetnya yang sebentar Neta menggigit bibir. "Aku naik taksi aja pak."
__ADS_1
Ia baru akan melambaikan tangan pada taksi yang tertangkap matanya ketika sebuah mobil berhenti di hadapannya. Pintu pengemudi terbuka dengan wajah yang Neta kenali sebagai suster yang membantu kelahirannya muncul. Perempuan itu tersenyum selagi menyapa.
"Neta mau pergi? Biar Tante anterin aja."
Di bangku sebelah kemudi Neta mendapati wajah lain, Dhaka putra dari suster Yona. Pemuda itu sedang memandang layar gadgetnya tanpa peduli sekeliling. Neta menanggapi dengan senyuman enggan merasa bimbang. Ia berkejaran dengan waktu tapi Neta tidak mau merepotkan kenalan lama ibunya itu.
"Ayo, enggak apa-apa. Neta kayaknya buru-buru kan?"
"Maaf merepotkan Tante." Neta menyerah bergerak masuk ke kursi penumpang lantas menyapa Dhaka yang belum menyadari keberadaannya. "Hallo, Dhaka. Kita ketemu lagi."
Mereka berkenalan tak lama setelah pertemuan tak sengaja yang canggung malam itu. Dhaka pemuda yang baik tapi sangat cuek dan pendiam, ketika mereka pertama kali bertemu ia nyaris tidak mengatakan satu kata pun kecuali ketika menyebutkan namanya.
"Hm."
Satu kata yang bahkan tidak bisa disebut kata. Neta meringis pelan mendapati respon dingin itu, mengalihkan perhatian pada suster Yona. Sejak pertemuan pertama mereka perempuan itu seperti biasa menatapnya dengan berbinar dan antusias yang kadang-kadang membuatnya risih. Ia nyaris muncul di setiap waktu yang sangat pas jika disebut kebetulan. Suster Yona sangat ramah dan baik.
Kebaikannya agak terlalu berlebihan dan dari bagaimana ia berusaha keras memaksa putranya berbicara pada Neta. Neta menduga ada maksud terselubung di sana tapi sebelum ia mampu membuktikannya adiknya Nino menembak keinginan suster Yona lebih dulu dengan sangat spektakuler. Bocah kecil itu tanpa sungkan berkata bahwa Neta sudah menikah yang secara otomatis membuat perempuan itu mundur. Mengingat moment itu membuat Neta semakin merasa canggung.
"Neta, mau ke mana?"
Butuh waktu nyaris setengah jam hingga akhirnya Neta sampai di lokasi. Itu sebuah gedung bintang lima yang cukup terkenal. Ia mengetikkan pesan pada Vita berjalan masuk selagi menunggu balasan. Mengikuti instruksi yang diberikan Neta berbelok menuju halaman belakang gedung. Vita pasti marah pikirnya setengah berlari tapi apa yang menyambutnya pemandangan lebih buruk dari kemarahan sang kakak.
Di sana Vita terdorong ke kolam renang membuat beberapa pekikan kaget berkumandang. Namun apa yang lebih membuat Neta terkejut adalah seseorang yang mendorong Vita.
Adrian? Apa yang terjadi sebelum kedatangannya?
*
*
Reuni SMA merupakan sala satu tradisi yang sangat di nantikan oleh beberapa orang. Selain jadi ajang berkumpul kembali bersama teman-teman setelah terpisah kesibukan masing-masing. Reuni bagi kalangan elite juga merupakan aksi untuk pamer keberhasilan. Vita tidak peduli dengan apapun alasan teman-temannya datang karena ia punya misi di sini.
__ADS_1
Melepaskan belitan tangan Leo yang sedang berbicara bersama kenalan lamanya. Vita melengkungkan seringai begitu melihat balasan dari pesan yang ia kirimkan. Tubuhnya bergerak lugas mendekati mangsanya yang berdiri di dekat kolam renang dan sekarang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Lama enggak ketemu, Kania." Vita berdiri melemparkan seringai. "Kau masih manja seperti biasa ya."
Vita mengerling pada Adrian yang sibuk berbicara dengan Rayden dan Dante sejenak sebelum mengunci pandangan pada Kania. Dress biru tanpa tali itu melekat erat mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya sendiri digerai lembut dengan pita kecil sebagai pemanis yang menghiasi di bagian kepala. Teman satu kelasnya itu semakin bertambah cantik seiring bertambahnya usia. Wajar saja jika Adrian maupun Leo tergila-gila padanya.
"Dan kau masih licik seperti biasa." Mata Kania melirik Leo di kejauhan, ada kilatan sedih di sana, tapi perempuan itu menutupinya dengan baik. Setidaknya di depan Vita ia tidak boleh memperlihatkan kalau dirinya lemah. "tidak peduli cara apapun yang kau gunakan. Leo tidak akan melihatmu sebagaimana dia melihatku."
Vita tertawa kecil sebagai tanggapan mendekati Kania dengan mata yang dipertajam dengan garis maskara hitam itu menyala penuh ejekan. Perempuan ini sangat kasihan pikirnya.
"Seperti biasa, kau sangat naif." Vita sengaja mendorong bahu telanjang Kania dengan telunjuknya. "Karena itulah kau tidak pernah bisa menang dariku."
Kania menangkap pergelangan tangan Vita mencengkeramnya erat. Matanya sendiri berkilat tajam seolah ingin mencabik-cabik rival bebuyutannya itu dengan tatapan.
"Tidakkah khayalanku terlalu ketinggian? Seharusnya kau berkaca sebelum mengatakan itu padaku," balas Kania dingin. "Jadi karena rotannya gagal kau dapatkan, kau memungut akar yang sudah kubuang. Menyedihkan."
Vita menyeringai tak gentar. "Itu masih lebih baik daripada dirimu hanya bisa menyerang gadis SMA yang tak selevel denganmu. Kania dirimu benar-benar rendah."
Ekspresi Kania menggelap, tangannya terangkat hendak melayangkan tamparan tapi keberadaan Leo yang sedang menatap ke arahnya berada membuat perempuan itu mengurungkan niat.
"Kenapa? Tidak berani? Masih mau mencari muka dari Leo?" Vita tertawa mengejek. "Akui saja Kania kau sudah kalah."
"Bukankah kata-kata itu lebih cocok untukmu?" Kania menolak mundur dari intimidasi, mengangkat dagu angkuh. "Sampai kapanpun kau tak akan bisa mendapatkan Adrian. Dia milikku."
"Milikmu?" Vita satu kepala lebih tinggi dari Kania bahkan tanpa heelsnya bergerak cepat mendorong perempuan itu hingga terjatuh di rerumputan.
"Dia bukan milikmu Kania. Dia ..." Dari sudut matanya Vita bisa melihat Adrian yang berjalan ke arah mereka. Wajah pria itu terlihat sangat marah saat berhenti di hadapannya. Seringai Vita semakin melebar saat matanya menangkap sosok lain yang sudah di tunggu dari sudut berlawanan.
Timing yang sempurna.
"Kau ..."
__ADS_1
Tepat sebelum Adrian menyelesaikan kata-katanya, Vita menjatuhkan diri ke kolam renang.
TBC.