
Menutup pintu setelah menyerahkan paper bag pada Vita. Neta berpaling ke lorong hotel, menarik napas berat, rasa pahit tidak menyenangkan tiba-tiba saja muncul saat matanya melihat seseorang yang berdiri menyandar di dinding.
Ia melangkah dengan berat mendekati pria itu bersama perasaan was-was. Lorong hotel sangat sepi, jika Adrian memutuskan untuk melakukan sesuatu yang buruk maka sangat kecil kesempatan bagi Neta untuk lolos.
"Aku sudah memberitahu kak Vita bahwa akan pulang duluan."
Adrian membuka matanya yang sedari terpejam. Ketika perhatian semua orang tertuju pada Vita ia sengaja menyelinap demi mencegat Neta. Ia bahkan mengabaikan Kania yang berteriak mengkhawatirkannya. Ada hal yang ingin ia beritahukan pada gadis itu sebelum memulainya.
Adrian menyeringai lebar saat menangkap kilatan gelisah dalam sorot mata Neta. Pastilah wajahnya sangat seram sekarang sampai-sampai gadis itu menjadi pucat.
"Masuklah." Pria itu membuka pintu kamar di sebelahnya. "Kita bicara di dalam."
Neta mengeratkan pegangan pada tali tas mininya menguatkan tekad sebelum melangkah masuk. Baiklah, ia harus siap dengan apapun yang akan terjadi. Di dalam kamar sangat gelap seolah Adrian sengaja mematikan semua penerangan untuk menambah ketakutannya.
Mungkin seperti inilah perasaan para tahanan yang akan menjalani sesi interograsi. Neta mengigit bibir tegang saat mendengar suara pintu yang ditutup Adrian.
Ia praktis berjengit saat tiba-tiba ruangan menjadi terang, menyilaukan. Berbalik Neta menatap Adrian yang bersandar pada pintu sengaja memblokir jalan keluarnya. Ekpresi pria itu sangat serius sampai-sampai Neta merasa sesak.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
Neta balas menatap Adrian sebagai upaya pembuktian bahwa apapun yang dilakukan pria itu tidak menakutinya sama sekali. Bertentangan dengan tubuhnya yang menegang kaku. Bayangan saat ia menampar Adrian melintas, jelas pria itu akan membuat perhitungan padanya.
"Aku akan menghancurkan Vita."
Menembak ke point utama, Adrian mengamati wajah yang kikuk itu dengan saksama. Menanti respon dengan sangat sabar, karena Neta terkadang suka berpikir diluar ekspektasi jadi Adrian benar-benar penasaran.
Namun ketika menit berlalu dan gadis itu masih membeku, Adrian segera melanjutkan. Neta mungkin bingung pikirnya.
"Kau tidak bertanya apa alasannya? Mengapa aku ingin menghancurkan kakakmu?"
Firasat menakutkan mendesak masuk, menyelimuti Neta dengan intensitas kedinginan yang membekukan. Ia membuka mulut tapi tak ada sedikitpun suara yang keluar. Kukunya menusuk ke dalam telapak tangan. Neta tahu tentu saja tapi ia tidak pernah berpikir itu akan benar-benar menjadi nyata.
"Kak Vita adalah dalang utama dibalik penyerangan terhadapku." Neta mengumumkan pahit." Ia sengaja memakai nama Kania untuk menyalahkannya."
Sensasi seperti ditimpa benda berat di bagian dada dan tertampar oleh penggaris kayu secara bersamaan melonjak dalam sepersekian detik. Tubuh Neta menggigil, percuma juga menyembunyikannya. Adrian sudah tahu sendiri tanpa ia harus mengatakannya. Perut Neta bergejolak seketika, bukankah ia juga menunggu hal ini? Bagaimanapun juga Vita memang bersalah, ia pantas mendapatkan hukuman.
Pikirannya berperang sengit saat logika dan hatinya yang bertentangan saling mendesak untuk maju, mengklaim keputusan yang benar.
Ia melarikan pandangan secara acak, mengumpulkan kewarasan yang tercerai oleh keseriusan kata-kata Adrian.
"Kenapa kau repot-repot membicarakan ini terlebih dahulu? Bukankah lebih menguntungkan jika kau langsung menghancurkannya saja."
Neta terkesiap menyadari betapa dingin dirinya yang tergambar jelas dari suaranya yang sekaku tembok.
"Karena kupikir kau mau menyumbang ide untuk hukuman apa yang akan diberikan. Bagaimanapun kau sala satu korban di sini."
Neta meringis, ini bisa jadi ajang balas dendam. Ah, mengapa dia bisa lupa, Adrian memang memiliki sisi itu.
"Bagaimana kau akan menghancurkannya?"
Neta menatap bayangan gelap dirinya yang terpantul di lantai marmer. Berimajinasi bahwa siluet dirinya itu sedang tertawa mengejek. Ia selalu bilang bahwa semua orang harus mendapat keadilan, yang bersalah pantas dihukum. Namun ketika dirinya dihadapkan dalam posisi itu secara langsung ia malah tak sanggup.
Setiap kali kejadian itu melintas di benaknya, Neta ingin sekali memukuli Vita, merusak saudarinya itu hingga menjadi serpihan debu. Namun sekarang, ketika kesempatan itu benar-benar datang? Neta malah merasa ragu, ia tahu ia tak akan sanggup melihatnya. Lalu apa bedanya ia dengan Adrian?
"Dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan padamu." Kaki Neta kehilangan tenaga mendengar bisikan Adrian yang berdiri tepat di depannya. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku tidak akan menerima permintaan negosiasi apapun. Vita tetap akan dihukum tidak peduli bagaimana keluarga Baskoro akan berusaha."
Adrian berjalan melewatinya setelah pernyataan singkat itu. Neta sendiri masih belum berani mengangkat wajahnya. Ia menggigit bibir menahan suara yang hendak keluar. Pertentangan ini membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Maaf." Adrian berhenti, menoleh pada Neta yang masih menunduk. "Apakah waktu itu kau juga merasa seperti ini? Saat aku memintamu menghukum Kania?"
__ADS_1
Neta tersenyum ironi, itu tidak sama persis tapi bagaimanapun memiliki makna serupa. Ia juga meminta hal yang sama pada Adrian waktu itu. Menghukum seseorang yang ia sayangi dengan tangannya sendiri. Permintaan sepihak yang sangat jahat berdasarkan keegoisan semata.
Ketika itu berbalik padanya saat ini Neta menyadari betapa kejam dirinya waktu itu. Ia telah sangat buruk memperlakukan Adrian, pria itu pasti sangat menderita, sakit, dan terluka, diserang dari sana-sini, tapi ia tetap menghadapinya dan berusaha menyelesaikannya juga. Namun Neta bahkan belum-belum sudah pusing dan berpikiran untuk meminta Adrian membatalkan esekusinya pada Vita.
"Maaf." Suara Neta nyaris menghilang.
Ia pasrah pada kenyataan bagaimana Adrian akan melihat dirinya sekarang dan diam saat tubuhnya di balik dengan lembut. Wajahnya di angkat dan mata Adrian menunggunya bersama seringai lebar.
Itu tidak seperti yang diperkirakan, mata itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, benci, dan emosi negatif apapun. Hanya ada ejekan murni yang seperti lelucon di sana.
"Kau punya sisi cengeng ini juga rupanya?"
*
*
Ruang private bernuansa Jepang itu terlihat hangat dengan perpaduan cokelat emas yang mendominasi ke empat sisi dinding. Pola penggaris panjang yang disusun simetris membuatnya tampak cantik. Plafonnya sendiri berwarna hitam legam berhiaskan lampu labu gantung putih sebagai pencahayaan. Meja makan kayu hazel dengan dudukan papan beralaskan tatami dari anyaman bambu dan bantal hitam lembut. Di sekelilingnya terdapat ornamen bambu kecil lengkap bersama daun hijaunya menambah kesan segar.
Kania duduk gugup bersama ibu, ayahnya yang berjejer memanjang ke sebelah sisi kiri. Terpisah meja kayu dengan berbagai hidangan laut yang tersaji meriah, Adrian dan ayahnya duduk bersisian. Mereka sedang makan malam sebagai penyambutan kepulangan Aditama Adjama, ayah Adrian setelah satu tahun lebih di luar negeri.
Kania tahu ia terlalu paranoid dan tampak curang menggunakan hubungan baik kedua orang tua mereka demi membuktikan bahwa perkataan Vita salah. Namun ia tidak memiliki cara paling efektif lain karena itu Kania memanfaatkan moment kepulangan ayah Adrian sebagai jalan.
"Kania ke toilet sebentar," katanya sopan, mengerling pada sang ibu yang tersenyum sebagai balasan.
Kania tidak benar-benar ingin pergi ke toilet, itu hanya sebagai alasan agar sang ibu bisa melaksanakan rencana yang sudah mereka susun. Ia berdiri di balik pintu geser, membuka telinga lebar.
Monica berbasa-basi sebentar dengan menanyakan kabar Aditama sebagai permulaan, sebelum akhirnya menatap Adrian.
"Tante tau, membicarakan ini rasanya agak tidak pantas, tapi Adrian, kau dan Kania sudah lama saling mengenal, pun kami sebagai orang tua. Mengapa tidak melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius? Kalian sudah dewasa apalagi yang di tunggu? Benarkan, mas Aditama?"
Pria paru baya yang sebagian rambutnya telah memutih itu tersenyum lembut sebagai tanggapan. Ia melirik Adrian sebelum membuka mulut.
"Dari dulu, aku memang ingin memiliki putri seperti Kania, jadi seharusnya kau tidak perlu bertanya lagi, Monica. Namun bagaimanapun Adrian yang akan menjalani, jadi ya, kurasa pendapatku tidak terlalu penting di sini."
Ia meletakkan sumpit menatap perempuan yang sangat ia hormati itu dengan wajah tak terbaca.
"Tante ..." Moment ini sudah berkali-kali Adrian bayangkan dalam pikirannya dan sudah memiliki rencana akan bagaimana juga harus mengambil sikap. Namun bahkan dengan latihan dan persiapan diri sebanyak itu ia masih saja merasa mulas. Bayangan bagaimana kelanjutan setelah ia memberi jawaban belum-belum sudah membuatnya merasa sekarat.
Di balik pintu geser Kania berdiam hikmat. Tangannya mengepal sementara ritme jantungnya menggila. Ia cukup yakin bahwa Adrian tidak akan mengecewakannya tapi Kania perlu mendengar langsung demi menenangkan pikirannya yang kacau.
Adrian menelan ludah, mengerenyit. "Saya akan melakukannya jika mendapat izin dan jika Kania bersedia menjadi yang kedua."
Ruangan hangat itu dilintasi udara berat dalam sepersekian detik. Adrian merasa napasnya dicuri oleh kedinginan yang tengah berlangsung. Ekpresi terperangah dari wajah kedua orang tua Kania memberikan tekanan lain yang menyesakkan. Adrian tahu ia harus mengakui ini bagaimanapun.
"Adrian sudah menikah."
Kuah sup kerang laut yang mendesis terdengar lebih keras saat keheningan menggantung di udara. Adrian mengamati gejolak airnya yang memaksa cangkang kerang terbuka paksa.
"Tante sudah dengar dari Kania." Monica berdehem pelan, menanggapi santai mungkin bertentangan dengan hatinya yang sudah sepanas uap sup. "Tapi pernikahan itu hanya sebatas atas nama bisnis, maksud Tante pernikahan yang sebenarnya."
Ia masih mengulas senyum menatap Aditama, seolah memaklumi keadaan. Dalam dunia para pebisnis pernikahan hanya bagian lain dari investasi. Bahkan ia dan sang suami pun melakukan hal serupa, tapi beruntungnya mereka benar-benar saling mencintai setelah menjali pernikahan.
Namun rupanya Adrian berpikiran lain. Untuk pertama kali, ia mengangkat wajah membalas tepat ke mata Monica. "Apakah Tante akan rela jika Kania menikah hanya di atas kertas?"
"Tentu saja tidak, apa yang kau bicarakan Adrian." Monica meneguk ocha hijau dengan gerakan anggun.
"Kalau begitu keluarga istriku juga tidak." Adrian menjawab tegas, ada nada tersinggung terselip di dalamnya. "Saya tidak tahu bagaimana pernikahan bisnis atau semacamnya. Namun mengambil anak perempuan orang di atas altar hanya untuk sebuah investasi bisnis sangat tidak termaafkan. Saya tidak ingin menjadi sebajingan itu dan saya tidak tahu Tante menilai saya serendah itu."
Monica terbatuk kecil, ia buru-buru mengambil tisu, mengusap lelehan teh yang meluncur di dagunya. Kedua pria paru baya lainnya tak kalah terkejut, masing-masing dari mereka menghentikan gerakan menatap Adrian dengan dua emosi berbeda.
__ADS_1
Kata-kata Adrian sudah sangat jelas dan matanya yang menyalah dalam kemarahan membuat orang-orang di sana menjadi tak nyaman.
"Itu ..." Monica jadi gelagapan, ia tidak bermaksud demikian, tapi rupanya perkataannya telah menyenggol harga diri Adrian.
Suara langkah yang berlari di balik pintu geser mengagetkan semua orang. Adrian menurunkan bahu, menghela napas. Ia tahu Kania sedari tadi berada di sana dan sengaja juga membiarkannya. Bagaimanapun ia harus menyelesaikannya. Meletakkan sumpit Adrian berdiri.
"Bolehkah, Adrian saja yang mengejarnya?"
Setelah pamit dengan sopan, Adrian keluar mengejar Kania. Ia menemukan perempuan itu di halaman samping restoran, duduk di sala satu batu, menatap kolam ikan mini di sana.
"Kau bilang, kau tak akan pernah melepaskanku, sampai kapanpun."
Kania berbicara selagi mengusap air matanya. Ia merasa dikhianati dan perkataan Vita pada pertemuan terakhir mereka melintas dengan suara mengejek. Adrian bukan miliknya.
"Tentu saja." Adrian berjongkok, meraih jemari Kania dan meremasnya. "Saat ini pun, aku tetap memegang tanganmu Kania." Pandangan Kania bergeser menatap Adrian dengan linangan air mata. "Tapi sebagai teman, aku tidak bisa lagi memberi lebih dari itu."
Kania menghempaskan tangan Adrian kasar, raut wajahnya mengerut murka.
"Kau mengkhianati janji kita," katanya penuh tuduhan. Wajahnya serta merta di baluri warna merah padam. "Demi seorang gadis kecil yang bahkan hanya beberapa hari kau kenal." Kania menatap Adrian marah berteriak saat melampiaskan emosinya. "Bukankah kau bilang mencintaiku?"
"Ya, aku mencintaimu." Menghadapi Kania yang sedang marah adalah makanan sehari-harinya dulu tapi belum pernah Adrian merasa seberat ini." Tapi beberapa pernikahan berhasil tanpa harus dilandasi cinta."
"Persetan, bagaimana bisa kau bicara mencintaiku sementara tindakanmu tidak sejalan?" Kania meledak dalam emosi memukul Adrian selagi menatapnya sengit.
"Kania ... Dengarkan aku ..." Adrian memegang bahu Kania tapi lagi, perempuan itu mendorongnya kasar.
"Sudahlah, kau tidak bisa dipercaya. Kau sama saja dengan Leo."Kania histeris dalam tangisan yang menyayat. Ia memalingkan wajah dari Adrian yang meringis pedih. Hatinya terluka melihat perempuan yang dulu sangat ia cintai menangis terlebih dirinya sebagai penyebab utama. "Aku tidak akan memaafkanmu, tidak akan."
Adrian mengetatkan rahang saat raungan Kania bertambah nyaring. Gadis itu terus meracau mengungkapkan semua isi hatinya. Adrian hanya menatap diam tahu persis betapa dalam ia telah melukai Kania. Namun ia sudah bertekad menyudahi semuanya seperti apapun resikonya. Sesaat ia memejamkan mata menarik napas panjang dan berat.
"Kania, aku juga belum memaafkanmu karena menyerang istriku." Tangisan Kania mendadak berhenti, ia membeku mendengar kata-kata yang sangat menusuk itu. Terlebih Adrian mengatakannya dengan wajah serius Adrian.
"Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik, tapi jika kau bersikeras, kurasa aku tidak punya pilihan. Kau bebas membenciku dan semuanya berakhir."
"Mengapa?" Suara Kania bergetar matanya bersinar dalam rasa sakit yang teramat. "Mengapa gadis itu? Dari semua orang, bagaimana ia bisa menarikmu dari sisiku. Kau mencintainya?"
"Aku tidak tahu." Adrian berkata lelah. Bayangan Neta mendadak melintas di benaknya pun kebersamaan mereka. "Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaanmu."
Sejak kapan? Dan bagaimana, Adrian sendiri tidak tahu. Pada awalnya mereka hanya sepasang orang asing yang tak sengaja terikat pernikahan. Bagi Adrian ia hanya gadis kecil bermulut tajam yang selalu menatapnya sebagai musuh. Alih-alih merasa tersinggung Adrian malah menganggap perlakuan itu sebagai berkah. Berhubung gadis itu sudah tidak menyukainya jadi Adrian tidak perlu repot-repot memainkan peran suami istri sebagaimana seharusnya.
Namun malam itu ketika pertama kali mereka berbicara di bawah cahaya bulan pucat. Saat gadis itu dengan santai bertanya tentang bagaimana rasanya berhubungan dengan lawan jenis dan Adrian membalas tanpa rasa khawatir akan penilaian orang. Ia merasa aneh, itu sangat konyol, bagaimana bisa seorang istri bertanya hal tabu begitu pada sang suami yang baru saja membawa wanita lain ke ranjangnya.
Adrian tahu di antara cucu perempuan Baskoro, Neta yang paling tidak pernah peduli pada keberadaanya, tapi rupanya ada lebih dari sekadar ketidakpedulian di sana. Gadis itu merasa jijik pada para pria sejenis itu tapi konyolnya ia malah bersedia membahasnya pada Adrian yang sejatinya sala satu dari mereka.
Itu hanya permulaan, pada waktu berikutnya ketika mereka bertemu dan mulai saling berbicara. Adrian menemukan sesuatu yang tak ia dapatkan dari orang lain.
"Aku hanya ingin bicara padanya."
Sederhana saja, saat ia terpuruk atau ia pusing dari semua masalah yang menimpa. Berbicara pada gadis itu adalah satu-satunya obat yang secara ajaib mampu membuat dirinya tidak lari ke hal negatif lain. Hal yang belum pernah ia dapati dari sosok manapun bahkan Kania sendiri. Sosok yang bersedia mendengarkan dirinya, ya walaupun ujung-ujungnya gadis itu mengomentarinya dengan pedas dan tatapan jijik.
"Saat berbicara padanya adalah satu-satunya moment di mana aku menjadi manusia. Bukan sebagai Adrian Admaja yang mapan, tampan, dengan segala kelebihannya. Bukan pula seorang bajingan kotor yang menghabiskan malam bersama banyak wanita demi kepuasan sendiri. Hanya seorang pria biasa."
Dan mata itu, Adrian tersenyum kecil. Mata yang memandangnya lembut dan mengatakan bahwa ia bangga pada Adrian ketika ia mengakui kesalahannya. Rasanya seolah semua hal tidak penting lagi selama mata itu menatapnya hangat dan ketika Adrian sadar gadis itu sudah menempati posisi istimewa di hatinya.
"Maafkan aku Kania."
Di posisinya Kania terdiam merasa tertampar. Ia tertawa kecil, pedih, benar. Ia tidak punya itu, selama ini ia hanya menangis, berteriak, mengadu pada Adrian setiap kali sesuatu terjadi, tapi tak pernah sekalipun mendengarkan isi hati pria itu.
Ia tak bertanya bagaimana perasaan Adrian ataupun peduli berapa banyak rasa sakit yang diterimanya. Bahkan sekarang saja ia sesuka hati memaki dan menuduh pria itu tanpa mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkanmu, sampai kapanpun."
Kania menggeleng kecil, berlari menjauh dari sana.