Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
seseorang dari masa lalu


__ADS_3

Langit Desember di Minggu terakhirnya basah sepanjang waktu, sesekali mendung tapi tetap saja suram. Neta berjalan di trotoar sendirian, di antara keramaian orang-orang yang sedang bersuka cita menyambut perayaan Natal dan tahun baru. Di setiap sudut kota Neta bisa melihat hiasan khas nataru yang dipajang para pedagang. Ia tergoda untuk membeli terompet kecil berbentuk unik tapi mengingat Nino, adiknya sudah jauh-jauh hari memesan Neta secara tak rela membatalkannya. Bahkan di beberapa lokasi panggung perayaan musik sudah mulai dirangkai. Kaki berbalutkan bot hitam miliknya berbunyi 'kecipak' saat meniti genangan air yang tak bisa di hindari.


Kepalanya sendiri berbalutkan rajutan abu biru yang terjalin cantik sedangkan tubuhnya terlindungi jaket tebal tahan air. Ia baru saja mendaftar di sebuah instansi bimbingan belajar sebagai persiapan ujian akhir sekolah agar bisa memasuki universitas impiannya. Neta masih belum menentukan akan mengambil jurusan apa, tidak seperti Deandra yang sedari awal sudah ditentukan kedokteran, mengikuti keluarganya.


Gerbang besar perumahan Jeikarta sendiri tak kalah meriah dalam menyambut perayaan, terbukti dari catnya yang biasanya putih sepenuhnya itu kini telah menambah warna baru. Di sepanjang jalan menuju kediaman Baskoro ia melemparkan senyum pada siapapun yang tertangkap matanya. Lalu pandangannya terkunci pada Vita dan Leo yang baru saja masuk ke dalam mobil di jalanan depan rumahnya.


Hubungan keduanya secara bertahap mulai go publik meski belum menuju jenjang ikatan keluarga. Leo sendiri sudah beberapa kali datang ke rumahnya dan diterima dengan sangat baik. Tinggal menunggu waktu saja sampai mereka meresmikan pertunangan. Sejenak Neta berhenti ketika pikirannya kembali memutar memori beberapa Minggu lalu di kafe. Fakta bahwa Vita merupakan dalang utama di balik insident pelecehan yang menimpanya belum diungkap ke publik. Neta tidak punya cara untuk membuktikan keterlibatan saudarinya itu dan dengan ia putus komunikasi dari Adrian membuat keadaan menemui kata buntu. Neta pikir ia harus mulai merelakan semuanya sekarang. Ia agak kesal setiap memikirkannya tapi dunia ini tidak punya keajaiban sama sekali jadi Neta menutup semua keinginan melihat Vita menerima hukuman.


"Selamat sore, Non, hari ini pulangnya terlambat?"


Pak Norman satpam rumahnya menyapa setelah meninggalkan kopi panasnya.


"Sore, pak. Jangan lupa pakai baju hangat."


Neta membalas selagi menunggu gerbang terbuka. Matanya entah bagaimana terdorong untuk melihat rumah di seberang. Satu-satunya rumah mini dua lantai yang tampak mati ditinggal penghuninya itu.


Adrian menghilang seperti hantu yang tidak meninggalkan apapun bahkan bayangan. Rasanya seperti pria itu kembali keberadaannya yang tak pernah ada dalam hidup Neta. Gadis itu menggeleng kembali meneruskan perjalanan. Untuk apa pula ia peduli, pria itu pasti sedang bahagia menghabiskan waktu bersama Kania tanpa ada halangan sekarang. Lagipula memang itu tujuan Adrian sejak awal kan.


Kilatan petir melintas cepat di langit diikuti suara keras Guntur lalu hujan menyusul beberapa detik setelahnya. Neta mempercepat langkah menuju kediamannya. Ia sempat berpapasan dengan sepupu laki-lakinya saat di ruang tamu. Keduanya hanya saling memandang tanpa berbicara lalu sibuk dengan aktifitas masing-masing.


Sesampainya di kamar Neta segera meletakkan botnya dan segera menjatuhkan diri ke atas kasur. Langit-langit kamar yang familiar segera memenuhi matanya membuat Neta tanpa sadar cemberut. Pada akhirnya hanya dia yang dirugikan, baik Adrian maupun sang kakek sama-sama melanggar janji. Kania tidak menerima hukuman sementara ia tetap tidak dibiarkan bebas dari rumah Baskoro.


Baiklah sudah saatnya menerima kenyataan dan menjalani hidup sebagaimana mestinya.


"Kak, boleh minta tanda tangan enggak?"


Nino, adiknya muncul tiba-tiba, membawa selembar kertas dan pulpen. Ekspresinya agak takut saat menatap Neta.

__ADS_1


"Buat apa?" Neta mengerutkan kening merespon permintaan tak biasa adiknya itu. "Kenapa enggak sama mama aja?"


"Mama enggak kasih izin, tapi aku mau ikut kegiatan itu." Nino mulai memasang tampang memelas duduk menatap sang kakak dengan mata layaknya anak kucing tersesat. "Tolong, ya kak. Tanda tangan doang, di sini."


Melihat ekpresi Nino yang sangat imut itu Neta tak kuasa menolak dan mencoretkan tinta begitu saja tanpa membaca isi dari lembaran.


"Makasih, kak. Nino sayang kakak."


Bocah tujuh tahun itu berlari lincah setelah mencium pipi Neta terlebih dahulu. Neta yang menyaksikan tingkah menggemaskan adiknya itu tersenyum kecil.


"Oh, benar," Nino membalik badan tepat di ambang pintu. "kata mama, malam ini kita ada dinner bareng. Jangan lupa dandan yang cantik."


Neta memberikan jempol sebagai tanda mengerti. Nino sendiri mengatakan 'oke' kecil sebagai respon.


Restoran yang mereka pilih sebagai tempat perayaan berhasilnya Neta keluar sebagai juara satu kelas dan juara dua secara umum, terletak di jantung kota yang ramai. Lokasinya yang strategis serta konsepnya yang classical dan elegan membuatnya jadi favorit bagi kalangan atas untuk menggunakannya sebagai tempat perayaan.


Aluna Baskoro memimpin di depan, tampak cantik dengan gaun satin berwarna merah gelap yang dipadukan bersama handbag hitam bertabur berlian kecil. Bunyi hak sepatunya menggema saat ia melangkah. Rambut yang biasa di gelung tinggi itu sekarang terurai lembut. Bibirnya sendiri berbalutkan listrik merah menyala. Nino sendiri berjalan di sebelah dengan pakaian jas hitam putih yang membuatnya menawan walau masih kecil.


Terakhir Neta, ia mengenakan mini dress putih lembut tanpa hiasan dengan bagian bawahnya mekar seperti bunga. Rambutnya hanya di kepang di bagian depan berbentuk bando. Satu-satunya yang belum terlihat hanyalah sang kepala keluarga, Hazar Baskoro.


Ketiga melenggang mengikuti pelayan yang bertugas menuntun mereka ke meja yang sudah di pesan sebelumnya. Beberapa pasang mata yang kebetulan menatap jadi enggan memalingkan wajah lagi saat melihat mereka. Tak terkecuali Adrian dan Rayden yang saat ini sedang bertemu klien penting mereka.


Takdir? Adrian tidak percaya hal semacam itu. Ia lebih yakin bahwa itu tak lebih dari kebetulan semata. Mereka semua berasal dari keluarga terpandang wajar jika tak sengaja bertemu di restoran elite semacam ini.


Adrian segera memalingkan wajah begitu mata Aluna berpapasan dengannya. Ia akan menganggap itu ketidaksengajaan saja dan berpura-pura tidak melihat tapi rupanya Tuhan sedang ingin mempermainkannya. Entah bagaimana klien barunya merupakan kenalan dari Aluna dan repleks memanggil menantu Baskoro itu.


"Aluna? Itu benar kau kan?"

__ADS_1


Kliennya berdiri sedangkan Aluna sendiri praktisnya segera menghampiri meja mereka, berikut kedua ekornya. Adrian mendesah lemah diam-diam merasa gugup. Sumpah demi apapun skenario macam apa ini?


"Suster, Yona?" Suara Aluna setengah tak percaya saat bertanya. "Itu benar-benar dirimu? Astaga sudah lama sekali."


Adrian menyaksikan adegan itu dengan perasaan kacau, terutama ketika matanya tak mau diatur dan terus-terusan melirik gadis yang berdiri di sebelah sang ibu.


Melepas pelukan kecilnya mata Yona melirik ke arah gadis yang terdiam dengan wajah bingung itu. Wajahnya seketika dipenuhi kekagetan luar biasa.


"Mungkinkan?" Ia melirik Aluna sejenak lalu Neta. "Dia bayi itu?"


Aluna tersenyum kecil melihat reaksi terkejut dari Yona lantas mengangguk. "Ya, dia bayi itu. Neta ini suster yang bantuin mama waktu lahiran kamu."


Neta melirik sang ibu sebelum berbicara. "Hallo, tante ..." Ia agak kebingungan memilih kalimat, biar bagaimanapun dirinya tidak mengenal perempuan itu. "Senang bertemu, terima kasih atas bantuannya."


Neta mengatur suaranya agar terdengar senormal mungkin. Namun dengan pandangan Adrian yang serasa membakar kulitnya itu tidak berjalan baik.


"Astaga! Kau sudah sangat besar." Mata Yona tiba-tiba saja tergenang dengan raut wajah haru seolah ia menemukan barangnya yang hilang. "Dan cantik persis ibumu."


Neta melirik sang ibu yang terdiam, bergerak gelisah. Wajahnya sendiri mengerut masam merasakan atmosfer yang berat.


Rayden sendiri yang diam sebagai pendengar baik mengerenyit heran. Kliennya pasti memiliki masalah dalam penilaian pikirnya, semua orang bisa melihat bahwa tidak ada kemiripan di antara keduanya. Ia melirik Adrian tapi sahabatnya itu masih belum bergerak dari memandangi Neta.


"Mau bergabung bersama?" Rayden bertanya basa-basi sebagai pemecah kecanggungan.


"Terima kasih, tapi tidak. Kami sudah punya janji." Ketiganya pamit meninggalkan Yona, Adrian, dan Rayden yang tenggelam dengan pikiran masing-masing.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2