
Hawa dingin datang dan pergi bersama hembusan angin. Adrian berjalan memasuki restoran setelah kepergian Kania. Wajahnya tampak lesu seolah ia telah berjalan dalam waktu yang lama dan apa yang menunggu di ujung jalan tak sesuai harapan.
Tangannya menggeser lembut pintu kayu dan berhadapan dengan tiga pasang mata, menggeleng pelan sebagai konfirmasi. Adrian tak berani beradu pandang dengan Monica yang berdiri kasar. Mata yang dipertajam dengan maskara gelap itu menyipit. Bahkan tanpa perlu kata-kata Adrian tahu ia telah mengecewakan perempuan yang sudah menjadi ibu kedua baginya itu. Monica melewati Adrian tanpa satu kata pun. Tak berselang lama, ayah Kania ikut berdiri.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi Adrian, om tak suka ada yang membuat Kania menangis."
Pria itu berdiri mengejar sang istri. Adrian sendiri perlahan duduk mengusap wajah kasar. Pada akhirnya pilihan yang diambilnya tetap saja melukai pihak lainnya. Ia menarik gelas ocha hijau menyesapnya pelan.
Pahit, pikirnya muram. Memutar ulang percakapan dengan Kania beberapa waktu lalu. Tangisan Kania masih terngiang di telinganya, membuat robekan lain dalam hatinya yang sudah tak berbentuk. Bodoh, wajah Adrian berubah sendu. Hati yang ia korbankan untuk mendapatkan hati lainnya sangat tidak seimbang. Harga yang harus ia bayar sangat mahal. Padahal ia bisa langsung mendapatkan Kania tapi malah melepasnya begitu saja hanya demi Neta yang bahkan belum tentu menerimanya.
Melirik sang ayah yang tak kunjung bersuara Adrian memasrahkan keadaan. Toh, semua yang terjadi memang karena ketidakmampuannya.
"Sepertinya sekarang bukan hanya umurmu yang dewasa." Aditama berkata tanpa melirik sang putra, tangannya menyendok kuah sup panas sebelum membawanya ke mulut.
"Ayah, tidak marah?" Adrian mengerutkan dahi bingung menatap ayahnya dengan rasa penasaran. Ia pikir dirinya akan dinasehati kalau enggan disebut dimarahi.
"Untuk apa marah pada perkembangan sebagus itu." Aditama mengunyah pelan menatap Adrian, ujung terluar matanya berkerut saat ia tersenyum. "Jadi kapan kau akan mempertemukan ayah dengan menantu? Kurasa ayah harus memberi hadiah istimewa padanya karena sudah membuatmu tumbuh sebesar ini."
Adrian tiba-tiba tersedak, itu tidak masuk dalam skenarionya. Mempertemukan Neta dengan sang ayah belum terpikirkan olehnya. Adrian tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti. Neta bahkan tidak akan pernah mencoba untuk mengambil hati ayahnya, dan jika Adrian membawanya sekarang. Bisa-bisa Adrian akan dipermalukan.
"Tidak bisa untuk saat ini." Neta atau Hazar, sala satu dari keduanya pasti akan melemparinya dengan sepatu jika tahu masalah ini. "Masih banyak hal yang perlu Adrian selesaikan sebelum membawanya pada ayah."
"Kenapa? Kupikir dengan mengatakannya pada Kania semua berakhir. Apalagi penghalangnya?"
__ADS_1
"Banyak." Adrian mendesah lemah." Adrian tidak bisa menggenggam tangannya tanpa terlebih dahulu membersihkan sampah-sampah masa lalu yang berserakan. Itu bisa melukainya lagi."
Adrian menarik napas dalam, pikirannya berkelana pada pertemuan beberapa bulan lalu.
"Langsung saja."
Aluna Baskoro duduk anggun dengan wajah angkuhnya menatap Adrian dingin. Ia meletakkan selembar kertas dan mengisyaratkan Adrian untuk membacanya.
Awalnya Adrian sempat dibuat kebingungan dengan angka dan huruf yang terisi di dalam kolom-kolom tabel itu. Daftar pelanggaran siswa. Ia tahu itu, tapi lebih sering mengabaikannya dulu. Matanya melirik nama yang tertulis di pojok kiri atas dan terdiam. Banyaknya warna merah di sana menandakan seberapa sering pelanggaran itu dilakukan dan melihat kapan itu dimulai, Adrian merasa lehernya tercekik.
"Berapa lama lagi kau berniat menarik waktu berharga putrinya hanya untuk membantu penyelesaian masalah kekanakan kalian? Bagaimana kau akan bertanggung jawab atas itu."
Adrian tidak menemukan satu kata pun untuk memberikan pembelaan bagi dirinya. Kemarahan yang diberikan Aluna padanya adalah hal yang sudah sepantasnya. Bahkan sebenarnya ia berhak lebih dari sekedar menerima sebuah kemarahan.
"Saya tidak butuh kata-kata maaf darimu."
Aluna memandang sosok tampan kuyuh, yang tampak lebih tua dari usia seharusnya itu. Wajah yang biasanya angkuh itu kini dipenuhi bekas-bekas pukulan yang telah menghitam. Bahkan sudut bibirnya yang pecah masih menunjukkan sisah seberapa parah bagian itu terkena dampak. Namun di dalam sana Aluna tahu kerusakan yang diderita lebih parah.
Ia telah mengamati Adrian semenjak ikatan paksa itu dimulai dan terus mengumpulkan semua hal tentang pria itu. Menilai hanya untuk menentukan beberapa hukuman yang akan ia berikan pada Adrian jika ia membuat putrinya dalam masalah.
"Kau pasti sudah mencari tahu bagaimana kehidupan masa lalu kami. Jadi aku tidak perlu menceritakannya." Aluna mengamati saksama ekpresi Adrian yang terkejut. "Aku hanya meminta satu hal, aku tidak bisa menyelamatkan masa kecilnya dari kehidupan suram. Jadi tolong jangan hancurkan masa depannya juga."
Aluna tidak pernah membicarakan ini pada siapapun. Betapa ia merasa bersalah karena sudah membuat Neta terlahir dari perempuan seperti dirinya. Membuat gadis kecil yang pendiam, berani, dan sedikit gila itu, terus mengisi memori otaknya dengan hal-hal negatif. Kekerasan, pelecehan, jenis kehidupan yang sangat tak layak bagi jiwa kecilnya.
__ADS_1
Di malam-malam ketika ia melihat luka baru yang menghiasi kulit muda Neta, Aluna sering menangis, meminta maaf karena tidak bisa melindungi putrinya. Terkadang ia menyesal mengapa mempertahankan bayi itu, jika saja ia membuatnya pergi sewaktu masih kandungan. Neta tidak akan perlu mengalami hal-hal yang menyakitkan.
"Aku tidak akan ikut campur dalam urusan pribadimu, tapi jangan ganggu sekolah Neta. Sekolah adalah tempat satu-satunya di mana ia benar-benar hidup sebagai dirinya sendiri. Jangan ambil itu darinya Adrian. Hanya beberapa bulan tersisa, dan setelahnya aku tidak akan menghalangi."
Bahkan di hari-hari setelah mereka resmi menjadi bagian keluarga Baskoro. Penindasan itu tak serta merta berhenti begitu saja. Memang tidak separah waktu mereka di dunia pinggiran yang gelap. Setidaknya fisiknya tidak terlalu sering terkena pukulan tapi mentalnya, Aluna tidak bisa membayangkan seberapa parah itu rusak.
"Neta tidak pernah memperlihatkannya tapi aku tahu ia punya trauma tersendiri pada orang dewasa. Trauma yang bahkan tidak ia sadari ada di sana dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya."
Jika saja Neta tidak bertemu dan berteman dengan orang dengan pemikiran gila seperti Deandra. Aluna yakin ia akan membawa putrinya ke psikiater dan berakhir di rumah sakit jiwa.
"Jika anda tahu bahwa keadaanya separah itu, kenapa masih bertahan di sana? Bukankah lebih baik membawanya pergi dan memulai kehidupan lain?"
"Aku ingin ia memiliki kehidupan yang lebih baik dariku." Aluna tersenyum sendu, ada kepahitan di sana. "Selain itu, aku tidak ingin menghancurkan usahanya yang begitu keras dalam menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Berpura-pura tidak tahu apapun adalah cara bagaimana aku menghargainya."
Aluna telah memberi tahu Adrian semua hal yang perlu ia sampaikan. Bagaimana Adrian menanggapinya setelah ini itu bukan urusannya lagi.
"Selain itu, kupikir kau harus mulai bersikap baik jika ingin Hazar benar-benar menerimamu sebagai menantu." Aluna tersenyum kecil melihat ekspresi terperangah Adrian. Oh, pria ini bisa bersikap layaknya orang biasa juga rupanya. "Aku tahu kau sudah mendaftarkan pernikahan itu ke kantor catatan sipil."
Seringai kecil penuh ejekan mengakhiri pertemuan mereka dan Adrian menggeleng mengusir ingatan hari itu, menatap sang ayah yang sudah lama terabaikan. "Adrian punya janji dengan seseorang, tidak akan memberikan luka lainnya."
Namun dengan keberadaan Kania, kebencian Vita padanya, serta masalah lain. Adrian tahu itu tidak akan berjalan mudah, karena itulah ia menunggu sampai Neta menyelesaikan pendidikannya dan mulai bergerak. Sekarang ia tidak punya hal yang harus ia jaga lagi.
"Ayah benar-benar tak sabar ingin bertemu dengannya." Seseorang yang sudah membuat putranya mau bersusah payah sekeras itu.
__ADS_1
TBC.