Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
insident


__ADS_3

Neta masih ingat jelas bagaimana hari ini dimulai dan apa saja yang berlangsung dan itu mendefinisikan satu kata yaitu buruk. Ia pikir perlakuan Kania sudah menjadi akhirnya tapi nyatanya itu hanya sebagian kecil, seperti batu yang telah menjegalnya. Nasib buruknya baru datang ketika hari sudah sepenuhnya gelap.


Mengapa mereka ada di sana atau apa tujuannya, awalnya Neta tidak peduli. Mereka sepenuhnya orang asing dan hanya sedikit mencurigakan. Ia berniat melewati mereka tapi itu tak semulus yang dikira, para bajingan itu menjegalnya membawanya ke sebuah bangunan kosong berdebu di pinggiran gang yang tak terjamah.


Mengesampingkan rasa sakit dari perlakuan kasar yang diterima. Neta menggigil saat tubuhnya di seret secara brutal, di dorong paksa ke lantai berdebu, membuat bahunya terantuk kayu runcing dan berdarah. Tak sampai di sana, tangan-tangan itu secara kurang ajar menyentuh setiap bagian tubuhnya. Teriakannya hanya di sambut tawa bahagia seolah melihat ia tersiksa adalah hal paling menyenangkan di dunia. Mata-mata liar itu yang menatapnya penuh napsu ketika bajunya dirobek kasar.


Neta bukannya tak memberikan perlawanan tapi dirinya kalah dalam segala hal. Berhadapan satu lawan satu saja ia jelas kewalahan apalagi dengan empat sekaligus. Selain itu perlakuan mereka membangkitkan kembali kenangan kelam masa kecil yang berusaha dilupakannya.


Waktu itu juga sama, orang-orang itu menyeret tubuh kecilnya, memasukkannya ke tempat gelap, dan mulai melecehkannya. Tangannya yang hanya sebesar ikat pinggang, tipis dan rapuh, meronta tanpa daya. Jika saja para pria itu tidak terlalu mabuk hingga tak sadarkan diri dengan sendirinya, ia mungkin sudah rusak.


Orang dewasa memang mosnter. Ia benar dengan tidak mempercayai mereka terutama laki-laki. Mereka hanya tahu cara melukai dan menyakiti.


Gadis itu menggertakkan gigi saat sala satu pria itu menyentuh area sensitif perempuannya. Kemana ini akan berujung Neta sudah mendapatkan gambarannya dan menyerah untuk menghabiskan tenaga lebih lama untuk melakukan perlawanan sia-sia. Ia hanya memejamkan mata tersenyum miris.


Dalam diam tanpa dayanya, Neta berpikir mungkin ini hukuman karena dirinya telah menghancurkan hubungan orang lain.


Air matanya mulai menetes, mematikan semua indera perasaanya, dan membiarkan semuanya .


"Tidak ada yang akan datang," bisiknya kecil, nyaris tak terdengar di tengah gelak bahagia para bajingan itu. "Pada akhirnya semuanya sama. Dunia hanya dihuni para brengs*k."


*

__ADS_1


*


Adrian menginjak pedal gas dalam melaju kencang di antara puluhan kendaraan yang berlalu lalang. Tangannya mencengkram erat roda kemudi mengumpati pengendara lain yang menghambatnya walau hanya sedetik. Ia memanuver mobilnya secara ekstrem saat memasuki kawasan gedung terbengkalai di sebuah gang sepi di pinggir kota.


Ban mobilnya berderit nyaring, menimbulkan sekumpulan asap tipis saat tiba-tiba berhenti. Wajahnya mengkerut seolah ia siap meremukkan sesuatu, berjalan dalam langka lebar memasuki sebuah gedung tiga lantai yang dindingnya telah di makan lumut. Sekilas matanya melirik mobil lain yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Rayden!" Panggilnya bersama emosi tertahan, matanya mengarah cepat pada sosok yang baru saja mengikat beberapa pria berwajah lebam. "Apa yang terjadi?"


Adrian sedang melakukan pertemuan penting dengan sala satu kliennya saat pesan dari Rayden masuk, menginformasikan hal yang sangat membuatnya marah. Nyaris saja ia kehilangan kendali diri di tempat dan mengacaukan pertemuan. Kalau ia tidak ingat berapa banyak masalah yang akan timbul di kedepannya jika pertemuan itu berkahir buruk. Adrian pasti akan meninggalkannya begitu saja.


"Pertama-tama kau temui dia dulu."


Untung saja ia datang tepat waktu kalau tidak, Rayden enggan memikirkan akan bagaimana kejadiannya. Bukan apa-apa tapi ia tahu persis bagaimana Adrian jika sedang kalap dan empat pria bodoh itu memilih sasaran yang salah.


Samar Adrian masih bisa mendengar rintihan pilu dari kedua pria itu sementara dua lainya sudah tak sadarkan diri. Pandangannya kemudian mengarah pada sosok lain yang sedari tadi berdiam di kegelapan.


"Kurasa dia sangat terguncang."


Adrian berbalik cepat menatap pada sosok yang membisu sedari awal. Berjalan perlahan mendekat dengan kemarahan yang meluap-luap. Rahangnya semakin mengetat, bahkan dalam penerangan minim bulan pucat, Adrian bisa melihat jelas betapa memprihatinkan keadaannya.


Gadis itu duduk menatap lantai dengan berantakan. Rambutnya semerawut seolah itu telah pintal angin badai hingga sangat kusut. Sudut bibirnya berdarah dengan jejak air mata yang masih tertinggal. Terdapat beberapa baret panjang di bagian kaki yang telanjang, mengindikasikan perlawanan dari gadis itu dalam usaha menyelamatkan diri. Sebelah sepatu gadis itu sudah menghilang entah kemana sementara pakaiannya. Adrian menarik napas sangat dalam, saat ini jas Rayden menutupinya sekarang tapi bahkan dengan membayangkan saja, ia bisa menebak bagaimana kondisinya.

__ADS_1


Sialan! Adrian mengumpat pelan, bersumpah akan membuat para pria bajingan itu menerima hukuman menyakitkan atas perbuatan mereka. Hampir saja ia goyah, memutar haluan dan menghajar para pria bajingan itu. Namun ia harus mengesampingkan itu dulu, prioritas saat ini adalah sang gadis.


"Neta!" Panggilnya rendah, tapi tak mendapat respon apapun. Gadis itu diam seolah terdistorsi dari dunia. "Neta!"


Adrian melarikan jemarinya di sepanjang rambut yang terurai dengan hati-hati. Selembut yang ia bisa agar tidak membuat gadis itu merasa tak nyaman. Jantungnya mencelos saat menyadari ada lebih banyak warna yang menghiasi wajah yang sepenuhnya pucat itu.


"Tidak apa-apa. Kau sudah aman sekarang."


Siapapun yang mendengarnya bisa mencecap nada getir dalam suara Adrian. Ia menyentuh wajah beku yang seolah telah kehilangan kemampuan gerak itu dengan perasaan nyeri dan marah di saat bersamaan. Seberapa parah kejadian itu telah merusaknya?


"Neta!" Panggilnya lagi, mengarahkan wajah bersorot mata hampa itu untuk menatapnya. Namun seakan itu hanya raga kosong, Adrian hanya menerima kebisuan memilukan.


"Tidak apa-apa. Ada aku di sini." Tangan Adrian perlahan membawa tubuh kaku itu ke dalam pelukannya.


Di belakangnya, Rayden menyaksikan pemandangan itu dengan raut muka tak terbaca antara kagum dan prihatin. Baginya, melihat Adrian mau menahan emosi dan memprioritaskan kenyamanan gadis itu adalah hal menakjubkan, tapi di sini lain, ia prihatin pada keadaan Neta. Gadis itu benar-benar terguncang hebat sampai-sampai tak kunjung bergerak dari fase statisnya.


"Adrian!" Panggilannya sungkan merusak moment yang terjadi. "Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit, lagipula para pelaku sudah tertangkap. Serahkan saja semuanya pada polisi."


Masih dalam posisi memeluk Neta Adrian menjawab dingin. "Tidak, jangan libatkan polisi, aku sendiri yang akan menghukum bajingan itu."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2