
Adrian tidak menyangka dirinya akan mengalami situasi ini. Saat di mana dua orang gadis yang memiliki ikatan sama kuat dengan dirinya akan berdiri di tempat yang sama, menatapnya dengan ekpresi berbeda. Kania seperti biasa, lembut, anggun, yang mana menyejukkan hati siapapun yang memandangnya. Lalu Neta, si gadis yang bahkan berdiri diam saja sudah membuat orang jantungan, atau sebenarnya itu hanya dia pribadi.
Adrian menghela napas lelah, terjebak pada situasi canggung. Mengapa pula kedua gadis itu harus datang bersamaan tadi.
"Silahkan menikmati."
Itu istrinya, meletakkan menu pesanan, berbicara sangat sopan, yang mana agak membuatnya terkejut setelah terbiasa dengan nada-nada tak bersahabat dan pedasnya. Mulutnya tidak seberacun Vita tapi masih berbahaya bagi orang-orang sumbu pendek.
Ekspresi yang ditampilkannya tidak kalah mengejutkan, ramah, dan lembut, tapi masih jauh dari kelembutan Kania. Namun tetap saja Adrian tidak terbiasa, rasanya ia melihat orang lain yang mana membuatnya sedikit khawatir. Gadis itu dalam wajah biasa saja bisa membuat orang menganga apalagi ketika versi dewasa ini. Adrian yakin ada banyak mata liar yang mengawasinya sekarang dan itu benar-benar mengganggunya.
"Terima kasih."
Dante mengambil inisiatif saat sang sahabat tak kunjung menjawab. Ia diam nyaris tidak berkedip menatap istrinya itu. Sedikit banyak ia bisa memahami mengapa tapi bukan berarti harus jadi mengabaikan yang lain pula.
Yang begitu, bilangnya cuma tertarik, tapi suka lupa tempat dan diri kalau sudah melihatnya. Dante menggeleng kecil tersenyum pada Kania yang sesaat terabaikan itu.
"Kania duduk deh."
Kania sendiri tampaknya merasakan hal serupa. Ia bergerak ragu dalam keanggunan yang menggetarkan jiwa para pria. Sesaat matanya mengikuti arah pandang Adrian yang masih memandangi istrinya seolah tidak ingin melepasnya barang sedetik.
"Neta bilang ada yang mau dibicarakan."
Kania tidak bisa berhenti merasa takut dengan topik yang mungkin keluar. Apakah ini masalah Neta yang mendadak jadi pelayan atau hal lain. Terkadang Adrian sangat susah ditebak.
"Apa maksudnya semua itu?"
Kata-kata Adrian jelas dan langsung pada poin utamanya. Matanya bahkan menyipit tajam sekarang.
__ADS_1
"Karyawanku tiba-tiba berhalangan hadir dan kebetulan mereka ada. Jadi aku meminta mereka sebagai pelayan pengganti hanya malam ini saja."
Adrian sudah bisa menebak itu, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Selalu ada sebab akibat dari semua hal. Karyawan yang berhalangan hadir mungkin kebetulan murni tapi kesediaan dua gadis itu terlalu mencurigakan.
"Dan imbalannya?"
Kania meringis, Adrian sangat jeli melihat segala sesuatunya. Tidak heran mengapa ia begitu ditakuti lawan-lawan bisnisnya. Bahkan terhadap Kania saja ia bersikap begitu kritis.
"Dirimu, mereka bilang ingin informasi soal dirimu." Ekpresi Kania agak menciut saat berbicara terutama saat mendapati wajah Adrian yang semakin keruh." Maaf, aku seharusnya berkonsultasi denganmu dulu.
Kania merasa sangat menyesal tapi sedetik kemudian ia menyadari hal yang janggal dari sikap Adrian. "Tapi Adrian, kurasa tidak apa-apa. Neta istrimu kan, sudah sewajarnya ia ingin tahu soal dirimu."
Adrian sepenuhnya mengalihkan pandangan pada wajah cantik yang sangat dikaguminya itu. Tentu saja, tapi masalahnya hubungan mereka tidak seperti pasangan normal. Menceritakan hal sekecil apapun pada sang istri bisa jadi pukulan mematikan di kemudian hari. Siapa yang bisa menebak jalan pikiran gadis itu? Kadang ia dewasa, kadang ia kekanakan, kadang pula ia, seperti tak peduli pada orang-orang.
Rasanya dunia dalam pandangan Neta itu sangat rumit yang bisa berubah secepat kedipan mata. Tidak akan ada yang bisa menebak dirinya yang mana akan ia tampilkan dan Adrian tidak menyukai hal itu.
"Aku tidak masalah, tapi aku lebih senang mengatakannya sendiri. Maksudku seharusnya ia bertanya padaku."
Kania tersenyum manis mendengar pengakuan Adrian. Sama sekali tak menyadari mata Leo yang memandangi interaksi itu dengan marah. Pria itu memukul kasar dinding dapur.
Di lain sisi Neta yang berusaha untuk tidak peduli pun kesulitan mengendalikan diri. Matanya tetap saja melirik ke arah mereka.
Namun yang paling malang adalah Dante, ia terjebak tanpa bisa menghindar. Matanya bergulir liar dengan berbagai asumsi di kepalanya. Adrian benar-benar konyol, pikirnya. Satu sisi ia mati-matian menjaga Kania agar tak terluka, merelakan dirinya menjadi korban, bahkan jika itu artinya membuka aib masa lalunya. Namun di sisi lain ia terus melemparkan pedang permusuhan pada pria manapun yang memandang istrinya.
"Aku sangat senang." Kania menyentuh tangan Adrian membuat pria itu agak terkejut. "Kamu akhirnya mau mulai melangkah."
Senyum Kania begitu tulus sampai menggetarkan jiwa Adrian. Bagaimana ia bisa melangkah kalau malaikat di depannya ini terus saja menarik dirinya dalam pesonanya.
__ADS_1
"Pose yang bagus."
Bunyi khas jepretan saat mengambil foto terdengar menarik perhatian Neta yang tanpa sadar berdiri terpaku. Ia melirik cepat asal suara dan mendapati wajah Deandra yang cengengesan. Jemari lentiknya bergoyang pelan memainkan gadget yang baru saja mengabadikan moment manis Kania dan Adrian.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mengambil bukti perselingkuhan," jawab Deandra enteng, memeriksa hasil jepretan kelewat niatnya. "Lo bisa gunain ini sebagai senjata di persidangan ntar."
Neta mengerenyit melemparkan pandangan tak percaya pada kelakuan Deandra. Serius?Bahkan dalam situasi seperti ini masih sempat-sempatnya ia membuat lelucon.
"Lo, mau ngelakuin peran melabrak pelakor enggak sih? Gue usah siap action ini. Gimana?"
Deandra mengerjapkan matanya polos memasang senyum jahil. Neta menarik napas dalam berteman dengan Deandra berarti harus siap dengan segala hal-hal aneh yang bisa membuat jantungan.
"Jangan mulai deh ya. Gue udah cukup sabar ngeladeni ide-ide gila Lo." Bahkan sampai harus merelakan waktu belajarnya. "Udah mulai kerja. Tuh, pelanggannya udah mulai berdatangan."
Ia menggeleng pelan mengingatkan segala keabsuran Deandra yang benar-benar mengkhawatirkan itu. Terkadang Neta bertanya-tanya bagaimana ia bisa tahan berteman dengan Deandra. Namun mungkin itu juga sala satu kelebihan Deandra ia bisa membuat situasi tegang menjadi garing dengan kelakuan konyolnya.
"Ah, Neta, Lo enggak asik." Samar Neta bisa mendengar rengekan Deandra.
Ia berbalik badan hanya untuk disuguhi ekpresi gelap di wajah Leo. Pria itu tampak benar-benar marah. Sedetik kemudian keduanya beradu tatap. Hanya sedetik tapi Neta bisa melihat angin kecemburuan yang bergulung dalam sorotnya.
Sekarang saja ia sudah merasakan efek anginnya yang berhembus ke arahnya. Neta cemberut memilih memfokuskan diri pada pelanggan yang baru saja datang. Ia mulai menata ekpresi memasang senyum seramah mungkin.
Ini sih bukan badai pasti berlalu tapi badai pasti menghampiriku.
TBC.
__ADS_1