
Berbeda dengan suaranya yang acuh tak acuh ketika menyerahkan alamat pada Leo. Neta menangkap getaran emosi lain dalam nada bicara Adrian. Sebuah kecemburuan, yang landaskan pada sikap Leo dan keputusan yang dipilihnya. Bagi Adrian memaafkan orang lain adalah perkara yang sulit tapi ia bahkan berlutut.
Bertentangan dengan kegembiraan sesaat yang begitu kekanakan perbuatan Leo merupakan tamparan keras bagi mentalnya. Meskipun Adrian tak akan pernah mengakuinya.
"Kau melakukan hal benar dengan membantu Leo."
Adrian mendengus pada kata-kata dukungan hangat yang diucapkan Neta. Berjalan kembali ke rumah sakit, Neta sudah diizinkan pulang hari ini dan mereka masih harus berkemas selagi menunggu ibunya. Namun melihat sang ayah yang berdiri di pintu masuk tampak menunggu kedatangan mereka Neta mengerutkan dahi.
Ia melirik Adrian yang tenang seperti biasa, mata Neta menyorotkan pertanyaan yang tak berani ia suarakan. Ayahnya jarang datang menjenguk, ia sibuk mengurus perusahaan sebagai anak tertua menggantikan sang kakek yang masih harus beristirahat. Selain itu ayahnya sibuk untuk hal pribadi juga.
"Papa mau berbicara berdua dengan Adrian sebentar. Bisa tinggalkan kami?"
Ada senyum kecil yang canggung di wajah Hazar, ia menatap putrinya, dan ekspresinya berubah cepat saat mengarahkan mata pada sosok di sebelahnya. Hazar tidak akan pernah menerima pria ini sebagai menantu. Rahang Hazar mengetat mengingat hal itu.
Neta melangkah ragu-ragu, melirik keduanya gelisah. Hubungan Adrian dan ayahnya terus memburuk, baik itu sebagai rekan bisnis maupun secara pribadi. Namun ia belum menemukan solusi untuk mendamaikan keduanya.
"Langsung saja, aku ingin kau bercerai dengan Neta." Hazar duduk di bangku taman sementara Adrian berdiri belakangnya.
Ini adalah sesuatu yang Adrian duga akan jadi masalah juga. Kania dan Vita hanya tangan luar yang menarik keduanya agar berjauhan, mereka cukup mudah diatasi. Namun, Hazar adalah ayah Neta bagaimanapun, gadis itu akan mempertimbangkan nantinya.
"Apa yang akan terjadi jika saya menolak?" Balas Adrian tenang.
"Ya, kau tidak akan mau tahu. Aku tidak punya pilihan kecuali memaksa Neta, lagipula bukti-bukti untuk menggugat cerai sudah cukup."
Bibir Adrian berkedut mendengar kata-kata yang terdengar konyol itu. Matanya menatap jauh dari pandangan yang ada.
"Anda mencari seseorang bukan?" Kartu tersembunyi untuk membungkam Hazar, Adrian merasa itu curang tapi dunianya hal-hal jujur tidak pernah ada. Memanfaatkan apa yang bisa digunakan untuk mendapat keuntungan dan membuang yang tak berguna. Seperti itulah ia menjalani hidup selama ini.
__ADS_1
"Semua tentang orang itu akan anda dapatkan, tapi sebagai gantinya ... Biarkan pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya. Jika anda khawatir soal Neta, kapanpun ia menangis anda boleh memenggal saya."
Perjanjian bisnis, benar-benar anak muda mengerikan, pikir Hazar masam. Ia sudah mendengar bagaimana sepak terjang Adrian dalam dunia bisnis tapi menggunakan metode sama dalam mendapat restu pernikahan sangat tak termaafkan. Seolah pria ini hanya mengganggap putrinya sebagai properti saja, tapi mengingat alasan dirinya membawa Neta ke altar dan menyerahkannya malam itu. Bukankah Hazar sama saja dengan Adrian? Ia tak berhak menghakimi orang lain sementara dirinya melakukan hal yang lebih tercela.
Terlepas dari kejadian buruk yang menimpa Neta belakangan ini, Adrian masihlah lebih baik dari dirinya. Setidaknya Adrian berusaha melindungi gadis itu, bertanggung jawab, sedangkan Hazar sendiri? Apa yang sudah ia lakukan? Bahkan sekarang saja ia masih sibuk memikirkan sosok dari masa lalu yang bahkan entah mengingatnya atau tidak.
"Kau tahu Adrian, inilah alasan mengapa kau tidak pernah menang melawan Leo." Hazar berdiri menatap menantu kurang ajarnya itu dingin.
"Aku anggap itu sebagai persetujuan. Informasi itu akan tiba setelah anda menandatangi perjanjian."
"Bajingan."
"Terima kasih papa mertua." Adrian tersenyum kecut.
Matanya kemudian menangkap mobil petugas kepolisian yang berhenti di depan rumah sakit. Waktu penghakiman untuk Kania rupanya, ia masih diam menyaksikan perempuan itu di bawah, tak lupa juga dengan tatapan permusuhan yang diberikan kedua orang tuanya.
Adrian menarik napas dalam menyesalkan akhir buruk untuk hubungan keduanya tapi mau bagaimana lagi. Kania tidak memberinya pilihan.
Koridor di bangunan serba putih itu cukup ramai. Ia berdiri depan suster yang bertugas menanyakan nomor kamar pasien yang di rawat. Namun alih-alih jawaban suster itu malah diam dengan wajah gelisah, ia tampak ketakutan akan sesuatu.
"Anda yakin ingin menemui pasien itu?"
Menyadari sikap tak biasa itu Leo mendesah, pasti ulah Adrian pikirnya lelah. Siapa lagi yang punya kebiasaan mengancam orang lain demi kepuasan pribadi kalau bukan rivalnya itu.
"Saya sudah dapat izin dari bapak Adrian."
Sesaat suster itu terkejut lalu buru-buru menunduk. "Maaf'kan saya, ini nomor kamarnya."
__ADS_1
Setelah mengucapkan terima kasih Leo berjalan di antara orang-orang yang kehilangan kewarasan mereka. Berjuang keras ketika beberapa di antara mereka mengekorinya dan menggangu.
Leo kemudian berhenti tepat di depan sebuah kamar. Matanya mengintip ke dalam dari jendela kaca kecil yang berada di atas pintu. Senyum miris terbit di bibirnya melihat betapa menyedihkannya keadaan pasien di dalam sana.
Duduk di ranjang dengan kedua tangan mengikat kedua pergelangan tangannya. Vita menunduk dengan rambut seperti baru saja menerima pusaran badai. Bajunya kusut dan wajahnya pucat tanpa riasan. Bibir birunya bergetar tampak menggumamkan sesuatu yang sulit di dengar.
"Vita."
Entah karena suara Leo yang terlampau kecil atau memang Vita sedang terjebak dalam dunia pikirannya sendiri. Panggilan itu berakhir tanpa balasan. Leo melangkah dengan hati terenyuh perih.
"Vita!" Disentuhnya tangan perempuan itu hati-hati dan lembut. "Vita!" Panggilnya lagi.
Namun balasan yang datang padanya sangat bertentangan sangat kasar. Vita menggunakan kepalanya untuk mendorong Leo. Bunyi benturan tulang terdengar menyusul ringisan ngilu.
"Aku tidak gila, keluarkan aku dari sini!" Teriak Vita histeris, ia berontak kasar tak peduli jika perbuatannya membuat tangannya bertambah lecet.
"Vita tenanglah!" Leo bergerak cepat menahan kedua bahu perempuan yang histeris itu. Rupanya Vita masih belum sadar ia sedang bersama siapa.
"Keluarkan, aku. Aku tidak gila." Ia masih meracau dengan pandangan liar. Leo sampai harus menahan wajahnya agar perempuan itu diam.
"Aku tahu, aku tahu, Vita." Tangan Leo memegang kedua pipi Vita mengarahkan perempuan itu menatapnya. "Aku tahu kau tidak gila, tapi berteriak seperti ini tidak akan membuatmu dibebaskan. Kalau kau ingin keluar dari sini kau harus tenang."
Tenang? Bagaimana ia bisa tenang jika setiap malam ada saja hal-hal aneh yang datang padanya. Solah itu sengaja diciptakan untuk membuatnya gila dan obat yang disuntikan para suster sialan itu. Vita tahu itu bukan obat untuk menenangkan tapi sebaliknya itu membuatnya berhalusinasi hal mengerikan.
"Leo, aku tidak gila. Tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau berada di sini."
Jika ia dibiarkan lebih lama Vita yakin dirinya benar-benar akan jadi gila. Ia tahu Adrian penyumbang dana tetap di rumah sakit jiwa ini, dan semua orang sangat menghormatinya di sini.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya, tapi berjanjilah, setelah ini jangan lagi mengusik kehidupan Adrian sedikitpun. Bisakah kau melakukan itu?"
The end.