
Tempat para bajingan itu ditahan merupakan sebuah bangunan terbengkalai yang dulunya merupakan sebuah ruko dua lantai. Terletak tak jauh dari kompleks perumahan Jeikarta, bagian terluar dindingnya sudah sepenuhnya diinvasi tanaman rambat, lumut, dan pakis kecil yang menghijau. Area depannya sendiri tak kalah memprihatinkan, kaca-kaca yang dulunya mengkilat telah diselimuti debu dan beberapa tak utuh lagi.
Adrian mematikan mobilnya begitu sampai tapi ia mengunci pintu dan melirik Neta yang duduk manis.
"Aku tidak akan berubah pikiran Adrian."
Neta menghela napas lelah, mereka sudah berdebat nyaris seharian gara-gara masalah ini. Adrian gigih tidak mengizinkannya hingga Neta perlu membawa masalah insident dengan Kania agar pria itu setuju dan sekarang ia berulah lagi.
"Aku akan mulai berpikir kalau kau coba menyembunyikan sesuatu jika tidak segera membuka pintu dan keluargaku tidak akan tinggal diam."
Di kursi pengemudi Adrian mendengus keras. Gadis itu benar-benar di berkahi otak yang cerdas sepaket dengan kemampuan penggunaan yang baik pula.
"Aku tidak melihat ada hal baik dari menemui mereka. Kenapa kau harus memperumit keadaan?"
"Aku bisa menanyakan hal yang sama padamu. Kenapa tidak langsung serahkan pada polisi saja? Kenapa kau harus repot-repot menahannya dulu. Kau tidak memiliki keuntungan dari itu selain kecurigaan." Neta membalas tak kalah menusuk. "Keputusannya sudah final Adrian. Jangan memulai perdebatan baru."
Keduanya saling bertatapan sengit selama beberapa detik hingga akhirnya Adrian mengalah membuka pintu dan menuntun gadis itu masuk. Bukan Adrian sengaja mengalah tapi ia tidak mau bersikap kerasa kepala yang bisa menggiring opini lain. Neta tidak perlu tahu niat sebenarnya dan jika ia memaksa maka itu tinggal menunggu waktu. Gadis itu cerdas dan peka. Adrian tidak mau semua menjadi rumit. Ia masih harus berurusan dengan Kania setelah ini.
"Lewat sini."
Di dalam sana Dante dan Rayden sudah menunggu. Adrian sengaja mengajak kedua temannya sebagai antisipasi ia khawatir terjadi sesuatu. Di balik punggungnya Neta menatap keberadaan tamu tambahan itu dengan kening berkerut.
__ADS_1
Adrian seorang CEO jadi ia bisa bebas mengotak-atik jadwal dan bahkan jika ia tidak bekerja pun dirinya tetap akan kaya. Biar bagaimanapun perusahaan yang dipimpinnya sekarang adalah hobinya. Adrian masih memiliki perusahaan lain yang saat ini ditangani sang ayah. Bisa dibilang profesi arsitek itu semacam kerja sampingan bagi Adrian. Namun Dante dan Rayden? Tidakkah kedua pria itu punya masalah pribadi yang harus di urus?
"Terima kasih sudah menolongku waktu itu."Ia berdiri di hadapan Rayden tersenyum tulus. "Kuharap aku bisa membalas kebaikanmu suatu hari nanti."
Rayden melirik Adrian sesaat. "Aku hanya kebetulan berada di waktu yang tepat. Kurasa siapapun akan tetap melakukan hal yang sama jika ada di posisiku."
Neta tersenyum kecil. Rayden sangat rendah hati, pantas Adrian bisa memperlakukan mereka semaunya.
Perhatian Neta kemudian beralih pada ke empat pelaku. Mereka terikat di kursi dengan kondisi yang menyayat hati. Neta menatap semuanya lamat-lamat menyeringai dengan rasa takjub luar biasa.
Ah, takdir tidak pernah mengecewakan dalam memilih pemain untuk sebuah peran. Lihat para pria ini pikirnya miris. Mereka semua sempurna dalam semua artian. Wajahnya, penampilannya, otaknya, sangat cocok memerankan manusia rendahan yang di setiap cerita selalu berkahir menyedihkan. Sangat berbanding terbalik dengan ketiga pria di belakangnya. Mereka rupawan, mapan, dan menawan, benar-benar mencerminkan kalangan elite, yang selalu dipuja sebagai pahlawan utama atau iblis yang akan selalu dibela meski ia bersalah. Itulah mengapa penampilan selalu jadi tolak ukur dalam segala hal. Sangat tidak adil pikir Neta mentertawakan keadaan.
Di belakangnya ketiga pria dewasa itu mengawasinya dengan bahu tegang dan was-was. Terutama Adrian, ia tahu Neta punya sisi impulsif yang sama mengerikannya dengan Deandra. Dirinya khawatir mengenai apa yang akan gadis itu perbuat.
"Sakit bukan?" Ia serta merta meringis saat Neta menekan telunjuknya di atas matanya yang membengkak. "Aku juga sama waktu itu. Sayang sekali kau memilih menutup telinga walau aku sudah meneriakkannya."
Ia tidak bisa mencerna keadaan karena sekujur tubuhnya ngilu tapi satu hal yang pasti dirinya cemas. Gadis dihadapannya memang berbicara lembut dan bernada simpati tapi entah bagaimana itu lebih menakutinya daripada ketiga pria yang berdiam di belakang sana. Ada kilatan gelap menakutkan dari sorot matanya dan pria itu tanpa sadar mengigil.
"Kau tahu kenapa manusia disebut makhluk istimewa?" Mata bulat itu menatapnya erat dengan intensitas kedinginan yang menakutkan. "Itu karena mereka memiliki banyak sisi di dalamnya. Sayang sekali kau memilih membangunkan sisi yang salah."
Ekpresi Neta hampa seolah jiwanya tidak ada di sana dan tubuhnya hanya digerakkan oleh emosi semata.
__ADS_1
"Kau yang paling bersemangat di antara yang lain kan," bisiknya rendah membuat pria itu menelan ludah tanpa sadar. Perasaan dingin aneh mengaliri tulang punggungnya. "Tanganmu yang menyentuh area sensitifku kan?"
Lalu teriakan pilu menggema seantero bangunan kosong. Neta baru saja menendang tepat di titik hidup seorang pria.
Adrian, Dante, dan Rayden kompak terkesiap. Mereka hanya terlalu terpaku hingga tak menyadari gerakan cepat Neta. Siapa pula yang kepikiran gadis itu akan melakukan hal ekstrem kan?
"Bagaimana sakit kan?" Neta memiringkan kepala memandang polos pria yang mengeliat sekarat itu. Ia sudah membuat rencana dengan Deandra semalam, jika mau membalas dendam bagian mana dari preman itu yang harus dipukul. Deandra berkata itu haruslah posisi yang bisa membuatnya sekarat dalam satu serangan dan langsung berakibat fatal. Neta sudah memilahnya tadi dan memutuskan arena sana. Toh pria itu juga menyentuh area sensitifnya.
"Perbuatanmu bukan hanya melukai fisikku tapi juga merusak mentalku. Kau tau itu menyakitkan tapi kau tetap melakukannya."
Adrian mengumpat pelan menyadari kelengahannya. Adrian marah dan memang berniat memberi pelajaran pada para b*jingan itu tapi tidak sesadis itu. Sebagai sesama pria Adrian agak merasa tak nyaman dengan tindakan Neta barusan. Harga dirinya sebagai pria ikut terusik.
Adrian maju menahan lengan Neta menghentikannya. "Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang? Aku ingin mematahkan satu persatu jarimu yang sudah kurang aja itu."
Dante meringis mendengar setiap kata-kata yang dilontarkan Neta. Di posisinya yang terikat ketiga pria yang tersisa bergidik ngeri saat menyaksikan teman mereka yang mengeliat sekarat.
"Maaf, kami hanya melakukan seperti yang orang itu perintahkan?" Sala satu dari pria itu berbicara dengan wajah takut.
Neta berhenti berontak saat mendengar pengakuan mengejutkan itu. "Siapa?"
"Dia seorang perempuan dan temannya memanggil namanya Kania Anindita."
__ADS_1
TBC.