Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Rumit


__ADS_3

Saat menerima pesan dari Adrian bahwa mobilnya mengalami masalah dan ia meminta dijemput di depan kantornya. Dante berpikir untuk memberikan kejutan pada sahabatnya itu oleh karenanya ia meminta izin pada Neta untuk mengubah rencana sedikit. Untungnya gadis itu setuju tapi alih-alih Adrian yang terkejut keadaan malah berbalik.


Di sana Adrian tengah memeluk Kania yang menangis. Perempuan itu terus mengoceh sambil memukuli dada Adrian yang diam saja.


Dante yang melihat itu mau tak mau jadi berkeringat dingin. Pasalnya istri sah Adrian sedang berdiri di sampingnya, ia bahkan tak berani hanya sekedar melirik. Ah, sial mengapa jadi begini, umpatnya dalam pikiran.


Neta sendiri memandangi adegan itu dengan ekpresi tak terbaca dan kening berkerut. Pandangannya mengenai hubungan keduanya sangat jelas dan ia menyesal telah menghabiskan hari untuk merenung. Kania bisa saja berbicara atau menunjukkan betapa besar perasaannya pada Leo tapi semua orang tahu hidupnya masih bergantung pada Adrian. Di samping itu ia memang terkejut tapi bukan karena adegan picisan yang sudah bisa dimasukkan ke dalam kategori perselingkuhan tahap awal itu. Melainkan karena sikap Adrian yang baru pertama kali dilihat olehnya.


Pria angkuh yang biasa memandang rendah orang lain itu tampak tak berdaya. Oh, jangan lupakan wajahnya yang seolah menahan kepedihan dalam seakan bukanlah Kania yang terluka melainkan dirinya. Neta sampai harus mencubit diri sendiri guna memastikan bahwa apa yang tampak di hadapannya nyata. Pria itu benar-benar orang yang sama dengan yang meninggalkannya tadi siang.


He! Jadi Adrian punya sisi sentimentil juga, pikirnya setengah kagum. Itu memberinya kenyataan lain tentang betapa Kania memang special bagi adrian. Ia mampu mengeluarkan sisi lain dari Adrian yang selama ini tak pernah Neta kira ada.


"Rrr ... Neta ..." Dante menelan ludah suaranya tersendat saat mencoba berbicara. Ia masih belum berani melirik ke samping.


"Kau menyarankan agar kita pulang saja kan?"


Namun rupanya Neta bisa membaca niat Dante yang meringis kecil. Pria itu tak tahu harus merasa sedih atau senang. Situasinya benar-benar merugikan kedua belah pihak dan perkara ini tidak akan selesai dengan muda.


"Begitulah."


Dante kehilangan kata-katanya meskipun begitu ia masih belum bisa bernapas lega. Setidaknya di depan Neta, selain itu perilaku gadis itu yang sangat santai membuatnya agak bergidik. Pasangan lainnya pasti akan langsung mengamuk tapi gadis itu memilih diam dan pergi.


Untuk beberapa alasan Dante merasa cemas, Adrian mungkin belum bisa melepaskan Kania seutuhnya dari hatinya. Namun Dante berani bertaruh kalau Neta sudah memiliki tempat tersendiri juga. Masalahnya adalah apakah Adrian akan bisa mempertahankannya atau tidak. Sikap Neta yang begitu acuh jelas akan merugikan Adrian. Seolah gadis itu bisa pergi kapan saja dan jika benar-benar terjadi itu bisa memberi pukulan besar bagi Adrian.

__ADS_1


Setelah sebelas tahun terjerat perasaan pada Kania, berdiri di sisinya sebagai seseorang yang harus memendam perasaan. Adrian akhirnya bisa melihat gadis lain walaupun belum seperti ia melihat Kania dan itu terancam untuk hilang juga. Dante tidak ingin itu terjadi, Kania sudah memiliki Leo yang mengisi hatinya.


Dante dan Neta baru berbalik badan saat sebuah jepretan terdengar membuat keduanya sontak saja kaget. Mereka sama-sama menoleh dan menemukan Wita sepupu lain dari Neta. Ia berdiri dengan emosi menghiasi wajahnya.


"Heh! Adrian benar-benar kurang ajar."


Ia melemparkan pandangan pada dua orang masih terdiam itu. "Kenapa pulang? Harusnya kamu labrak itu ta. Kalau enggak berani, sini kakak temenin."


Wita menerjang maju tapi dihentikan cepat oleh Dante yang menyeretnya pergi secara paksa. Sudah cukup buruk Neta melihat adegan tak pantas itu Dante tidak ingin menambah kacau keadaan dengan kemarahan Wita. Urusannya bisa lebih panjang. Bukan hanya pernikahan yang terancam hancur tapi bisnis mereka juga.


Neta sendiri tak ambil pusing ia sepenuhnya menyerahkan Wita pada Dante dan hanya mengekor dari belakang.


"Lepasin!"


"Aku tahu kamu marah, tapi tolong tahan ya. Pergi ke sana hanya akan memperburuk situasi."


"Terus? Kita harus diam saja begitu? Membiarkan Adrian bersikap semaunya? Neta lapor sama kakek."


"Eh! Jangan, tolong." Dante mendadak mengerem karena panik. "Adrian pasti punya penjelasan. Memeluk perempuan lain tidak serta merta selingkuh. Kalian tahu kan, Kania sudah seperti adik baginya."


Ini siapa yang istrinya siapa yang mengamuk. Dante melirik Neta meminta bantuan agar menenangkan situasi. Namun gadis itu melengos acuh seolah tak peduli apapun. Ya ampun mengapa para perempuan sangat merepotkan.


Dante menarik napas berkali-kali. Adrian harus memberinya banyak hadiah untuk bantuan kali ini. Ia berjanji akan menagihnya sendiri. Bisa-bisanya pula ia berduaan dengan Kania tadi.

__ADS_1


Sialan!


Dante tak habis pikir mengapa ia harus terjebak dengan situasi ini. Ia mengemudikan mobil sambil menyumpah serapah pada Adrian.


Di tempatnya Adrian sendiri masih mendengarkan tangis kemarahan Kania. Perempuan itu bertengkar dengan Leo yang pemicunya sudah jelas kejadian tadi siang. Ia tidak bisa berbuat banyak sekarang dan berharap Dante bisa membantu menangani situasi.


Ia melihatnya Neta yang berdiri diam dan Wita yang mengamuk. Namun Adrian belum bisa bergerak setidaknya sampai Kania tenang. Perkara ini sedikit banyak disebabkan olehnya ia tidak bisa lepas begitu saja dari resikonya. Kania akan semakin marah padanya dan Leo mungkin bahkan berniat menghabisinya tapi apa yang paling Adrian khawatirkan adalah istrinya. Gadis itu bisa jadi akan lebih jijik lagi padanya.


"Kania, mari kita temui Leo dan jelaskan semuanya."


Walaupun itu artinya ia harus terlibat baku hantam lagi. Leo jelas tidak akan mendengarkan dengan cara biasa.


"Tidak, Leo akan semakin marah. Dia mungkin tidak mau bertemu denganku lagi."


Adrian menghela napas lelah. Berurusan dengan Kania yang sedang dalam fase anak kecilnya sangat merepotkan. Inilah kenapa ia selalu memutuskan untuk mengalah membiarkan Kania dan Leo menjalin kasih walau ia tahu bagaimana sifat buruk Leo. Adrian tahu Kania akan terus dan terus memilih Leo tapi di sisi lain ia juga tak bisa membiarkan gadis itu disakiti.


Tak jauh dari kedua pasangan itu. Seseorang yang sejak tadi menyaksikan dalam kegelapan menyeringai senang. Kena kau Adrian.


Sudah sangat lama ia menunggu moment ini terjadi. Saat di mana Adrian menunjukkan kelemahannya. Pandangan matanya tak pernah sedetikpun meninggalkan pasangan yang baru saja masuk ke dalam mobil itu. Sementara benaknya menyusun berbagai rencana.


Jika bukan dirinya maka ia akan meminjam pisau lain untuk mengoyak Adrian dan kali ini akan sangat menyakitkan.


Pembalasan memang selalu manis.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2