Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Rencana Deandra


__ADS_3

Neta menatap lesu pada guru yang menjelaskan mata pelajaran di depan kelas. Berkali-kali menggelengkan kepala guna menyadarkan diri dari rasa ngantuk agar tetap bisa menyimak pelajaran. Kelopak matanya berat seakan ada lem yang memaksa kedua sisinya untuk menyatu. Ini masih pelajaran pertama dan ia sudah kewalahan.


Bangku di sebelah Neta kosong gara-gara Deandra yang terlambat masuk dan harus menjalani hukuman. Beberapa pikiran buruk Neta menduga bahwa itu disengaja.


Di depan kelas pak Rahmat menjelaskan dengan semangat yang sama kendati tak ada murid yang benar-benar mendengarkannya. Bahkan Neta yang katanya siswi teladan, gadis itu baru saja menelan sebuah permen dengan asupan kafein tinggi.


"Hubungan manusia dengan makhluk hidup ..."


Pria yang sebentar lagi memasuki masa pensiun itu mulai menuliskan satu persatu penjabaran dari dalam buku yang ditambah dengan opini pribadinya.


Di sudut bangku nomor dua Neta mengetuk kepala sendiri lantaran mati-matian berusaha untuk menyimak. Jemarinya bergerak lemah menuliskan rangkaian kata dalam buku catatan. Sesekali ia menguap lebar melirik jam yang menempel di dinding dan meringis pasrah saat kecepatan gerak jarumnya setara keong.


Aku butuh alam mimpi rengekknya frustasi.


Bersumpah setelah ini tak akan pernah kehilangan kendali lagi. Ia tidak akan membiarkan hal apapun menginterupsi pikirannya walau itu masalah darurat sekalipun.


Dua jam berjalan dalam siksaan akhirnya berkahir saat Bell berbunyi ke seluruh penjuru SMA Sentosa. Para murid yang sudah sedari tadi bertransformasi menjadi zombie dadakan secara naluriah mendapatkan kewarasn.


Di bangkunya Neta menghela napas lemah meletakkan wajah di atas meja cemberut. Matanya menangkap punggung Pak Rahmat yang meninggalkan kelas. Sejenak ia membiarkan kelopak matanya saling menutup membiarkan alam mimpi menarik dirinya walah hanya sedetik.


Semenit berikutnya ia terbangun oleh gebrakan keras di meja. Lalu wajah Deandra yang cengengesan bahagia.


"Nyonya, Admaja, anda tidak boleh tidur di kelas," kelakarnya menusuk pipi Neta dengan telunjuk. "Emang berapa ronde semalam? Sampai subuh ya?"


Neta terlalu lelah untuk sekedar menyahuti kata-kata bercanda Deandra. Sebagai gantinya ia melemparkan rengutan masam.

__ADS_1


"Bisa jaga omongan Lo enggak? Jangan nebar gossip yang enggak-enggak dong."


"Yah, abis gimana, istri yang kelelahan di siang hari biasanya kerja ekstra di malamnya. Lagian enggak masalah kali, Lo cerita sama gue. Bagi pengalaman gitu."


Deandra menaikturunkan alis secara konstan menggoda sahabatnya yang seperti orang kurang asupan oksigen.


"Pengalaman cara menghukum suami yang ketahuan selingkuh gitu?"


Neta mendengus, teringat lagi moment percakapan bersama Adrian semalam. Bukannya ia tak tahu jika selama beberapa hari setelah perjanjian pernikahan itu dibuat Adrian kerap membawa perempuan ke rumahnya. Neta juga tidak begitu ambil pusing. Mau protes juga rasanya tidak pada tempatnya. Agak janggal jika ia meminta Adrian berhenti dari rutinitas itu hanya gara-gara status istri yang disandangnya.


Toh, Neta juga tidak menjalankan perannya sebagai istri mengapa ia perlu usil dengan urusan pribadi orang lain.


"Buset, serius Lo?" Neta bersumpah biji mata Deandra mendadak jadi lebih besar dari tomat ketika merespon perkataanya. "Baru juga beberapa jam, udah main aja. Lo sih, ngasih pelayanan yang enggak memuaskan."


Deandra terkikik kecil sedangkan Neta memutar bola mata bosan. Tahu bahwa acara menggoda ini tidak akan berakhir dengan cepat.


Neta muak setiap hari mesti ditanyai perihal Adrian. Tidak di rumah, tidak di sekolah. Rasanya seolah Adrian sekarang adalah matahari yang kemana pun ia pergi akan tetap terkena sinar emasnya.


"Yah, abis. Hidup Lo udah kayak kisah-kisah novel romance sih. Wajarkan gue jadi tertarik."


"Yah, tertarik buat meledek."


Sudah beberapa kali Deandra terlibat masalah gara-gara kebiasannya itu. Sudah terlalu sering. Beberapa kali juga Neta ikut memberi pendapat walau caranya lebih sopan dibanding Deandra.


Terkadang Neta merasa kasihan pada orang-orang itu. Para pecinta setia cerita romance tentang pria sok dingin, kaya, punya segudang skill, tapi kerjaannya menempeli perempuan terus itu. Mereka tidak pernah tahu bahwa orang-orang seperti Deandra hanya mencari kesenangan. Mereka tidak benar-benar peduli pada kisah klisenya, yang mereka inginkan hanyalah hiburan dengan menggangu orang. Sayang sekali para fans cerita romance suka terpancing.

__ADS_1


Bagi Neta tidak perlu terbawa perasan. Orang berkelas tidak akan merepotkan diri dengan hal tak berguna semacam mempermasalahkan cerita klise yang isinya sebagian tak layak konsumsi bukan. Lebih baik ia melakukan hal yang lebih sehat.


"Bukan salah gue dong. Siapa suruh mereka nulis kisahnya cuma bisa ah, ih, uh, doang. Jadi keliatan banget kan kualitasnya di mana."


Deandra tertawa kencang tidak menyadari beberapa pasang mata yang tersinggung mendengar kata-katanya. Neta sendiri hanya menarik napas dalam, menggerutu kecil, mempertanyakan mengapa guru yang mengajar belum juga masuk.


"Pikiran model gitu tu, yang bikin Lo dibenci. Enggak semua orang punya mental nerima kata-kata gitu. Inget De, merusak kebahagian orang itu dosa."


Keadaan kelas mereka agak ribut dengan kelompok-kelompok kecil yang tercipta. Sebagian besar yang mengeluarkan suara adalah kaum perempuan sementara pihak laki-laki memanfaatkan moment Jedah itu untuk tidur. Neta juga mungkin akan melakukannya jika tidak diganggu Deandra.


"Dih, yang ada makasih kali. Toh gue udah baik hati meluangkan waktu untuk mengingatkan mereka."


Deandra tak mau kalah, gigih dengan pikirannya. Tangannya bergerak lincah menekan layar gadget sementara bibirnya menyunggingkan seringai bahagia. Di sebelahnya Neta menggeleng pelan Deandra membuat ulah lagi pasti pikirnya lelah.


Kemeriahan kelas baru berhenti saat seorang Bu Maria, guru bahasa Indonesia memasuki kelas. Setelah sebelumnya memukul papan tulis guna menarik perhatian para siswa.


Guru yang terkenal galak itu tersenyum manis melihat respon tahu diri para muridnya yang terdiam. Ia berdeham pelan sebelum memulai pelajaran.


"Sebagai hukuman untuk anak-anak yang mendapat nilai dibawa standar saat ujian harian." Bu Maria menyapukan pandangan ke seluruh ruang kelas." Ibu ingin kalian melakukan tugas wawancara. Dengan siapa orangnya kalian bisa pilih sendiri, tapi ingat dia harus memiliki profesi dan prestasi jelas yang bisa menjadi panutan bagi orang banyak."


Beberapa keluhan mengiringi berakhirnya kalimat Bu Maria. Para siswa yang mendapat tugas tambahan otomatis mengerut masam. Tugas mereka bisa dibilang cukup mudah tapi jika itu menyangkut Bu Maria. Hal sederhana pun bisa jadi malapetaka. Guru satu itu tidak akan meloloskan hasil tugas dengan mudah.


Di bangkunya Neta mulai membuka buku bersiap menerima catatan. Toh, ia tidak termasuk anak yang mendapat tugas tambahan jadi ia tidak perlu pusing mengenai siapa orang yang harus dia wawancara.


Sebaliknya Deandra yang kebagian tugas tambahan itu tersenyum merekah. Ia sudah punya rencana mengenai siapa yang harus ia wawancara dan pikiran itu membuatnya hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


Ia melirik sang sahabat yang menulis dengan tekun. Kena kau, pikirnya dengan seringai lebar.


tbc.


__ADS_2