
Neta mendengarkan dengan hikmat Nino yang mengoceh tentang bagaimana keluarganya menjadi ribut besar. Adiknya bercerita bahwa para om dan Tante mereka saling tunjuk dan berteriak satu sama lain. Ia sedang di kurung sang ibu di kamar ketika menelpon Neta. Situasi keluarganya yang kacau bisa Neta bayangkan tanpa melihatnya dan ia mendesah lelah.
Adrian masih belum memperbolehkan dirinya pergi tetapi sebagai kelonggaran Neta diizinkan menghubungi ibu dan adiknya. Untuk situasi sekarang Neta tidak punya pilihan kecuali menurut mereka baru saja berbaikan.
Setelah mengucapkan kata-kata sayang sebagai salam penutup Neta mematikan sambungan telpon dan menerima panggilan lain yang sudah sedari tadi mengganggu.
"Ada ada, Adrian?"
Terkadang interaksi keduanya masih canggung tapi Neta senang karena Adrian tampak berusaha keras membuatnya nyaman. Ia berjalan ke pintu utama yang berbunyi pertanda adanya tamu yang berkunjung.
"Tidak, itu mungkin papa."
Neta berjalan selagi mendengarkan perkataan Adrian. Ia menekan tombol di samping pintu dan menemukan Kania yang berdiri dengan wajah bengis. Penampilannya pun terlihat mengerikan seolah perempuan itu baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.
"Kania, ada ap ..."
Bunyi gadget yang jatuh menyapa telinga Adrian di sisi lain sambungan. Ia mengerenyit mendengar suara Neta yang tiba-tiba menghilang berganti dengan suara benturan, teriakan, dan pembicaraan yang aneh.
"Neta ada apa? Siapa yang datang?"
Rayden dan Dante yang berjalan di depan Adrian sontak saja berhenti mendengar suara panik temannya. Mereka baru saja akan makan siang setelah menyelesaikan perpindahan kembali AA group dari tangan Baskoro. Keduanya saling berpandangan bingung dengan tingkah Adrian yang tiba-tiba saja berlari.
"Siapa lagi kali ini?"
Dante berkomentar lelah dengan terpaksa membatalkan acara makan siang demi mengikuti Adrian. Di sebelahnya Rayden pun memikirkan hal sama. Akhir-akhir ini hari-hari Adrian selalu dipenuhi hal mengejutkan.
Sementara Dante dan Rayden mencibir kompak kehidupan Adrian yang secara signifikan berubah penuh drama. Neta sedang meringis, merasakan sekujur tubuhnya yang ngilu berat, terutama di bagian tulang belakang. Serangan tiba-tiba dari Kania membuatnya menerima banyak rasa sakit. Kania tidak menahan diri saat mengukir karya di wajahnya.
__ADS_1
"Kau tidak akan mendapat apa-apa dengan melakukan ini. Baik Adrian maupun Leo tidak akan kembali padamu." Neta terengah berjuang menahan pergelangan tangan Kania.
"Oh, aku tidak peduli soal itu lagi." Mata Kania menyorot dingin, hanya ada keinginan egois yang gelap di sana. Tubuhnya sendiri digerakkan oleh rasa kecewa dan benci yang begitu besar. "Aku hanya ingin melenyapkanmu. Itu akan jadi hukuman setimpal bagimu dan Adrian karena memilih merusak hidupku."
Ia menatap Neta layaknya hewan buas lapar yang menemukan mangsa. Kekecewaan dan kebencian telah mengaburkan kewarasannya, mendorong Kania untuk melakukan pembalasan melalui jalur kekerasan. Saat ini pikirannya hanya tentang membalas semua orang yang membuatnya menderita dan gadis ini adalah yang utama.
Tidak peduli berapa banyakpun pertukaran kata yang mereka lakukan atau seberapa keras Neta berusaha menyelesaikan melalui kata-kata. Kania tidak akan mendengarnya, perempuan itu sudah terlalu gelap mata. Merasakan pilihannya tersisah satu, Neta memantapkan hati. Dalam situasi apapun membuat lawan bertekuk lutut melalui pukulan selalu menjadi yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah.
Neta sudah belajar sebanyak itu, di dunia gelap yang terpinggirkan. Ia telah melihat banyak pukulan dari sama orang dewasa bahkan ketika di rumah Baskoro, ia pernah adu jambak denga Gita yang bertubuh lebih besar dari dirinya.
"Kau yang memilih jalan kekerasan ini, Kania."
Neta mendesah, menghantamkan kepalanya pada Kania. Sengatan rasa sakit menyebar dari area benturan, pandangannya sesaat berkunang-kunang, tapi Neta sudah terlalu sering menerima hal semacam itu dan mengatasinya dengan cepat. Menggunakan moment jedah sesaat Kania yang terkejut akibat balasan mendadaknya Neta mengubah posisi dalam sekejap.
"Hanya karena aku tidak membalasmu terkahir kali. Kau jadi besar kepala, ya Kania."
"Aku sengaja mengalah karena aku tidak mau keluargaku berurusan dengan Adrian."
Namun sekarang Adrian dipihaknya. Tangan Neta bergerak menjambak rambut Kania kuat hendak membenturkannya ke lantai saat benda berat menghantam kepala bagian belakangnya. Sesaat pandangannya berputar bersamaan dengan rasa sakit tajam yang menyerang lalu gelap.
Kania sendiri melebarkan mata terkejut menyaksikan Neta tumbang dengan Vita yang berdiri di belakangnya. Di tangannya sisa-sisa guci malang yang tadi menghantam kepala Neta tergenggam.
Rival bebuyutannya itu menyeringai puas melihat hasil perbuatannya. Tidak sia-sia Vita mengikuti Kania tadi. Ini seperti melempar satu batu untuk banyak burung.
"Vita ... Kau ..." Kania tergagap.
"Jangan pikir aku melakukannya untuk menolongmu, Kania." Senyum mengejek terbit di wajah Vita, ia sudah menonton perkelahian keduanya tadi dan berpikir bahwa Kania memang bodoh. Pandangannya bergeser pada Neta yang tergeletak diam. Adiknya memang tak bisa diremehkan.
__ADS_1
"Berikutnya giliranmu, Kania."
Kania masih shock hingga tak menyadari ketika Vita bergerak menodongkan pisau padanya. Menit berikutnya, rintihan ngilu Kania menggema di ruangan ketika kulit wajahnya dipaksa membelah olah Vita. Darah merembes dari daging yang terbuka mengalir di leher mulus Kania lalu menetes di lantai.
"Aku benar-benar membenci wajah ini Kania. Wajah sok cantik busuk ini."
Tak sampai di sana, Vita dengan sengaja menekan kuat bagian wajah Kania yang terluka membuat perempuan itu berteriak kencang. Melihat respon tak berdaya itu Vita tertawa senang. Sudah lama ia menunggu moment ini.
Memainkan pisau di sela jarinya, Vita mengunci pandangan pada wajah yang terlah berlumuran darah itu. Ia berharap itu akan menjadi permanen, Vita menggeleng, masih kurang puas. Kania harus kehilangan wajah cantiknya sepenuhnya. Ia mengarahkan mata pisau pada sisi sebelahnya tapi satu inci lagi itu akan mencapai kulit pipi Kania sebuah tangan menahan Vita.
"Hentikan, Vita." Leo berdiri, menarik paksa Vita dari Kania yang meringkuk di lantai. "Ini sudah keterlaluan, kau ingin jadi pembunuh, hah!"
"Kau masih berusaha melindungi perempuan menjijikkan itu?" Vita berontak menatap Leo ganas. "Jika kau menghalangiku, aku juga tak akan segan menusukmu."
Leo tahu Vita tidak main-main, itu sungguh datang dari hatinya. "Vita sudahi saja semuanya. Melakukan ini tidak akan membuat semuanya kembali seperti dulu."
"Aku tidak peduli." Vita menendang ************ Leo, memaksa pria itu menunduk, lalu kembali mendekati Kania, tangannya terangkat hendak menusuk perempuan itu tapi kalah cepat dengan Leo berdiri di antara keduanya membuat pisau itu merobek kulit perutnya.
"Leo!" Pekik Kania panik, ia menggigil melihat betapa menakutkannya Vita.
"Apakah seseorang harus mati dulu supaya kau puas Vita?" Leo terduduk di lantai dengan wajah sekarat, menatap Vita sedih. "Kumohon, berhentilah Vita. Sudahi saja semuanya."
Vita sendiri jadi membeku melihat pisaunya yang menancap di perut Leo jadi mundur ketakutan.
"Aku tidak melakukannya, aku tidak." Ia meracau panik.
Adrian sampai tiga menit setelahnya dan membelalakan mata terkejut melihat pintu apartemennya yang terbuka. Namun pemandangan yang menyambutnya tak kalah membuat shock.
__ADS_1
Leo terkapar di lantai dengan darah sebagai latarnya. Di depannya Vita yang terduduk meracau tak jelas. Di belakangnya kania dengan wajah berlumur darah menangis ketakutan. Namun yang paling membuatnya terkejut adalah sosok yang terbaring dengan mata terpejam di dekat dinding bersama pecahan guci bertebaran di sekitarnya.