Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Monster


__ADS_3

Orang bilang fase tertinggi dari rasa benci adalah tidak peduli dan Adrian sedang berada di sana sekarang. Ia sudah sangat muak pada segala tingkah Kania yang semakin menjadi tak terkendali. Adrian akui dirinya turut mengambil alih dalam pembentukan karakter Kania yang seperti itu. Namun ia juga telah berusaha bertanggung jawab dengan cara yang dirinya bisa.


Adrian merelakan perasaannya, berdiri di sisi Kania selama masa berkabung hatinya karena di tinggal Leo. Adrian juga telah membiarkan mimpi masa kecilnya, kerja kerasnya, diambil agar perempuan itu tetap bisa menjalani kehidupan normal. Namun ketika itu masih tidak cukup, Adrian merasa lelah, itu bukan lagi urusannya. Ia tak akan menjadi sekarat, kehilangan masa depan, demi sebuah rasa bersalah.


Adrian bergegas masuk tanpa melupakan pintu yang ditutupnya dengan gerakan kasar. Suara yang ia hasilkan membuat ketiga orang di sana berjengit terutama orang tua Kania. Mereka menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan kesempatan ini dan hancur dalam satu detik.


"Adrian ..." Ayah Kania tergagap, menatap Adrian yang berjalan melewati mereka dengan dingin.


"Saya sudah mengatakannya dengan jelas. Tidak akan ada pembatalan tuntutan. Bahkan jika istri saya memaafkan Kania." Adrian berdiri sebagai pembatas, menatap dingin kedua orang yang sangat ia hormati dulu. "Percobaan pembunuhan, bagaimana itu bisa dimaafkan? Apakah kalian berani menjamin hal semacam ini tidak akan terulang lagi jika saya melepaskan Kania?"


Dari sisi lengan Adrian, Neta menyaksikan dengan tangan mencengkram erat selimut. Ia mengigil oleh betapa tajam dan gelapnya aura Adrian. Seperti gunung es kokoh dengan larva merah yang tersembunyi dan kapan saja siap meledak di bawahnya.


"Putriku juga terluka Adrian." Ayah Kania membuka mulut, betapapun bersalah sang putri sebagai ayah dirinya tetap akan mencari cara untuk membantu atau minimal meringankan beban Kania. "Bukan hanya wajahnya yang rusak, tapi mentalnya juga. Kau sudah melihatnya bukan, bagaimana terpukulnya Kania. Ia bahkan mencoba untuk menghabisi dirinya sendiri."


"Putri anda terpukul tapi istriku nyaris kehilangan nyawa. Jika itu sampai terjadi, bagaimana anda akan bertanggung jawab pada saya?" Ada kesedihan yang terselip dari nada-nada marah Adrian.


"Bukan, Kania yang melakukannya." Monica yang terisak berkata tak terima. "Kania juga korban di sini."


Adrian sangat tahu itu, posisi Kania sangat buruk. Menjadi korban sekaligus pelaku tapi Kania sendiri yang menjebak dirinya ke dalam posisi itu. Adrian telah kehilangan simpati pada perempuan itu setelah usahanya menyelesaikan dengan cara baik diabaikan begitu saja.


"Saya tahu, tapi saya tidak bisa mentoleransi lagi untuk kali ini." Merasa pembicaraan lebih lama hanya akan membuat emosinya semakin terbakar Adrian memutuskan menyudahi. "Jika tidak ada hal lagi, tolong tinggalkan kami. Istri saya butuh istirahat."


Adrian berbalik saat kalimat tajam ayah Kania menusuk pendengarannya. "Apa kau akan melangkah sejauh ini, Adrian? Demi gadis itu?"


Cara bicaranya yang seolah merendahkan pilihan Adrian itu membuatnya marah. Seakan pria itu mengatakan Adrian sangat tidak layak membela sang istri. "Justru karena dia saya hanya berani mengambil langkah sampai di sini. Anda tahu lebih dari siapapun saya bisa mengambil jalan yang lebih dari pada ini."

__ADS_1


"Aldric!" Aditama yang sedari tadi diam di balik pintu mendengarkan dengan baik akhirnya membuka suara. Ia berdiri, menatap Adrian yang nyaris meledak, lalu sang menantu yang mengerut di ranjang. "Bisakah kita bicara di luar? Kamu akan menggangu pasien di sini."


Tadinya ia datang untuk menjenguk sang menantu tapi tak disangka malah menyaksikan perdebatan ketiganya.


Taman yang mereka datangi lenggang karena malam memang sudah agak larut. Aditama menarik napas berat menghadapi permasalahan yang ada. Ia harus bisa menjadi penengah di antara sahabat dan sang putra. Bagaimanapun Aditama tidak mau hubungan baik yang terjalin bertahun-tahun putus begitu saja.


"Mas, bujuk Adrian untuk membatalkan tuntutan pada Kania." Monica berbicara mendahului ia tidak peduli dengan betapa buruk sikapnya. Ia hanya ingin menyelamatkan putrinya.


"Kau tau aku tidak bisa melakukan itu." Aditama melirik Aldric. "Bisakah kita biarkan saja untuk saat ini. Tunggu sampai emosi Adrian mereda baru kita bicarakan lagi."


"Mudah, bagimu berkata begitu, mas." Monica menyalak pedas. "Kamu tidak melihat bagaimana kondisi putriku, seberapa parah Kania rusak."


"Memaksa Adrian yang sedang emosi juga tidak akan menghasilkan apapun, Monica." Aditama melirik Monica yang masih saja emosian, persis Kania. "Kania beruntung, Adrian cuma menuntutnya dengan cara normal. Jika itu Adrian yang dulu kau yakin masih bisa bertemu Kania sekarang?"


"Kau tau, Adrian sudah berubah banyak. Aku yakin keputusannya sudah ia pikirkan dengan matang dengan mempertimbangkan segala resikonya. Setidaknya ia masih bersedia menunggu sampai Kania pulih sebelum memulai proses hukum."


Jika ini Adrian yang dulu, ia bahkan tidak mau repot-repot memberikan kesempatan bagi Kania untuk menerima setetes pun obat. Aditama ngeri membayangkan jika Adrian benar-benar menyeret Kania ke rumah sakit jiwa dan merusak mentalnya di sana.


"Hanya itu yang ingin kusampaikan. Jika kalian tetap ingin keras kepala, aku akan angkat tangan. Silahkan hadapi Adrian sendiri."


Ketika Aditama berjalan setelah pilihan bijaksana yang ia tawarkan pada kedua temannya. Neta yang berada di ranjang rumah sakit menatap Adrian dengan gelisah. Sisi itu, yang tanpa perasaan, mengabaikan apapun kecuali seseorang dalam genggamannya, Neta baru melihatnya sekarang. Sosok monster mengerikan dalam diri Adrian.


Sekarang ia paham dan merasa senang mengapa dulu Neta menjaga jarak dari pria ini. Insting manusia jika itu menyangkut bahaya tidak pernah salah. Entah sebuah kesialan atau keberuntungan Neta berada di pihak yang di lindungi Monster itu sekarang.


"Maaf ..." Adrian melihatnya gerakan itu walau sangat tipis, sikap defensif ketika seseorang berada dalam situasi bahaya. Sorot matanya yang ketakutan, yang coba Neta tenggelamkan dalam emosi lain. "Maaf ,kan aku Neta."

__ADS_1


"Kau mengerikan, Adrian," kata-katanya santai dan ada senyum yang menyertainya, tapi Adrian tahu kalimatnya benar-benar diucapkan dari dalam hati. "Jika aku berada di posisi Kania, kurasa aku akan menangis pasrah sekarang."


Adrian mendengus pada kata-kata yang terdengar sarkastik di telinganya itu. Bahkan dengan matanya yang bersinar ketakutan Adrian bisa melihat perlawanan di sana. Jika posisinya benar-benar terbalik ia yakin Neta tidak akan duduk diam dan memohon seperti keluarga Kania.


"Aku akan mengibarkan bendera menyerah duluan jika lawannya dirimu." Adrian duduk di kursi samping ranjang menatap sisa-sisa memar yang menghitam di pipi Neta. "Tak mungkin menang melawan malaikat kematian itu sendiri."


Alis Neta terangkat."kau sedang mengejekku karena baru saja selamat dari kematian?"


Menggeleng, Adrian mendekat memeluk gadis itu erat. Bahu tegangnya turun ketika merasakan hawa panas dari tubuh istrinya dan tanpa sadar mendesah lega. Dia benar-benar masih hidup, pikirnya, meyakinkan diri sendiri.


Adrian ingat tubuh yang ia gendong hari itu, dingin, dengan napas lemah seolah bisa menghilang begitu saja. Ia mengabaikan segalanya, Leo yang sekarat, Kania yang ketakutan, dan Vita yang menjadi gila. Matanya mengunci pada sosok Neta yang entah sudah berapa lama dibiarkan sekarat tanpa pertolongan itu.


"Aku baik-baik saja Adrian."


Sudut bibir Adrian terangkat mendengar kata-kata itu. Neta selalu mengucapkannya di banyak kesempatan dan bagi Adrian itu adalah mantra keselamatan untuk jiwanya.


"Aku tahu," balas Adrian singkat, mengurai pelukan. Ia menunduk memiringkan wajah sampai suara deheman pelan mengganggu. Keduanya memisahkan diri cepat menolah kesal.


"Maaf, mungkin sebaiknya papa tidak masuk."


Aditama terkekeh kecil melihat ekspresi Adrian. "Kalian bisa lanjutkan, papa permisi," katanya menggoda.


Di posisinya Adrian mendengus, kalau ujung-ujung pergi mengapa tidak sedari awal saja, pikirnya kesal. Sudah jelas ayahnya berniat mengganggu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2