Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Titik akhir.


__ADS_3

Bandara internasional SH begitu ramai dan bising hingga sulit untuk mendapatkan kedamaian. Menjadi sala satu orang yang berada di sana, Kania duduk di kursi tunggu selagi menanti kehadiran sang ibu. Ia mengamati keadaan tanpa minat. Matanya mengarah pada sepasang anak kecil yang tengah di gandeng sang ibu. Satu di antara mereka mengerut dalam wajah merajuk.


"Mama enggak adil. Masa beli satu, aku kan juga mau."


Suara khas anak-anaknya berteriak sementara membalik badan sebagai ungkapan protes. Bibirnya mengerucut lucu membuat Kania tanpa sadar tersenyum kecut.


Tidak adil ya? Tarikan napasnya memberat Kania memandang jauh ke kerumunan. Jika ada definisi orang yang menerima ketidakadilan itu adalah dirinya.


Pantulan wajahnya yang tampak di kaca dinding dan mata Kania mengunci pada liukan panjang yang sudah menghitam di sana. Bahkan setelah satu tahun berlalu bekas itu masih menimbulkan rasa sakit yang teramat setiap kali ia melihatnya. Seolah kejadiannya baru kemarin.


Pandangan Kania bergeser pada tanggal yang tertera di majalah yang sedang di baca orang di sebelahnya. Sudah satu tahun ya, pikirnya bertambah masam.


Kania pada akhirnya dituntut dengan kasus penganiayaan ringan dan kurungan enam bulan penjara. Itu lebih ringan dari ancaman Adrian yang berniat menuntutnya dengan kasus percobaan pembunuhan. Entah bagaimana keringan itu bisa ia terima Kania tidak mau peduli. Toh pada akhirnya ia tetap di penjara.


Padahal dirinya hanya ingin mempertahankan apa yang ia pikir miliknya.


"Ayo, sayang. Sudah waktunya berangkat."


Monica muncul dengan tiket beserta paspor yang tergenggam di tangan, tersenyum lembut pada sang putri. Bangkit dengan malas Kania berjalan mengikuti sang ibu, nyaris melamun di sepanjang jalan. Setelah melewati serangkaian prosedur biasanya Kania duduk di samping jendela pesawat berdiam menunggu waktu keberangkatan.


Ia memandang kota Jakarta dari ketinggian untuk terakhir kali. Sorot matanya menyendu dengan kilasan memori yang menikam hatinya. Akan membutuhkan waktu lama baginya untuk kembali, menginjak lagi tanah yang telah memberinya rasa sakit. Tetesan air mata mengalir deras di pipinya mewakili bagaimana hatinya yang berduka.


Kania mengucapkan selamat tinggal dalam hati untuk terakhir kalinya dan menghilang di balik kumpulan awan.


Tanggal yang sama tiga tahun berikutnya.


Halaman luas rumah keluarga besar Baskoro tampak ramai oleh para tamu undangan. Ornamen lampu hias yang berkelap-kelip terang menambah kemeriahan perayaan.


Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing menyisahkan Adrian berjalan memasuki taman dengan wajah masam. Ia melemparkan tatapan sinis pada kue ulang tahun besar bertuliskan angka tujuh puluh lima di tengah taman.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan keluarga Baskoro dalam hal keanehan."


"Bagaimana bisa kau mengganggap perayaan ulang tahun aneh? Itu sangat kasar, Rayden."


Rayden dan Dante yang tampaknya lupa umur berkomentar sembari menatap gundukan tepung yang dihias sedemikian rupa itu. Kue ulang tahun itu terdiri dari tujuh tingkat dengan lima varian warna yang menghiasi bagian-bagiannya.


"Mari bertaruh, ini bukan murni perayaan tapi lebih ke ejekan," kata Dante masih terpukau.

__ADS_1


Siapa pula yang cukup aneh masih merayakan ulang tahun meski sudah berumur senja kalau bukan Baskoro.


"Tidak perlu dipertanyakan lagi," balas Rayden pendek.


Mengabaikan segala bentuk pandangan aneh yang mengarah pada keduanya, Adrian berjalan menghampiri kedua sahabatnya dan duduk di kursi kosong yang ada. Semua tamu yang hadir sebagian besar adalah rekan bisnis maupun kenalan anggota keluarga Baskoro, Rayden dan Dante termasuk di dalamnya.


"Omong-omong, kau tidak berniat memberi tahu Neta perihal ibu kandungnya?"


Rayden bertanya selagi memandang suster Yona yang juga di undang sebagai tamu. Perempuan itu masih belum menyerah dengan usaha perjodohannya walau tahu Neta sudah menikah.


"Tidak, suatu saat nanti mungkin. Mengatakannya terlalu beresiko, aku tidak mau merusak hubungan Neta dengan ibunya yang sekarang." Adrian menatap sang ayah mertua. "Lagipula ada orang yang lebih berhak dariku untuk mengungkapkan semuanya."


Selain itu ini bisa jadi ajang hukuman untuk Hazar, Adrian menyeringai. Biarkan saja ayah mertuanya yang mengurusnya.


Melihat isi pikiran Adrian yang seperti itu, Rayden hanya bisa mendengus kecil. "Bagaimana kau bisa memenangkan hatinya kalau sikapmu masih saja tak berubah. Dasar bajingan."


Seringai Adrian semakin lebar." Biar saja, berhubung aku sudah dicap bajingan. Mengapa tidak sekalian saja kulakukan. Toh tidak rugi juga."


Menantu kurang ajar, pikir Rayden dan Dante kompak.


Di sudut taman yang tertutupi bunga Bougenville, Neta dan Deandra bercengkrama hangat, melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Deandra sedikit lebih kurus dari yang diingat Neta tapi itu tak mengurangi kecantikannya yang memukau. Pembawaannya pun tampak lebih feminim.


Deandra memerhatikan penampilan Neta yang lebih berisi, terutama di bagian pipi. Ia ingin Neta punya leher panjang yang sekarang agak tersamarkan.


"Ya, akhir-akhir ini, gue banyak makan." Neta mengakui malu-malu.


Sampai saat ini Deandra masih tidak percaya bahwa Neta sudah menjadi istri seseorang. Terlebih pria itu Adrian, orang yang sudah membuatnya banyak mengalami moment buruk.


"Lo belum kasih tahu Gue alasan kenapa bersedia nerima bajingan itu." Deandra cemberut menatap Adrian di kejauhan. "Apa bagusnya sih Adrian itu."


"Jangan gitu, De, biar gimanapun Gue istrinya sekarang." Neta pura-pura tersinggung, mengikuti arah pandangan Deandra.


Jika ditanya apa alasan mengapa ia menerima Adrian, sejujurnya Neta sendiri masih belum tahu. Hubungan keduanya dimulai oleh sebuah keterpaksaan dan selama prosesnya pun tak jauh berbeda. Keduanya terus di paksa terikat oleh konflik aneh yang membuat satu sama lain tanpa sadar menjadi dekat.


Neta yang awalnya hanya melihat Adrian sebagai tetangga bajingan yang sama buruknya dengan sampah harus bersedia melihat kenyataan. Adrian lebih dari sekadar bajingan, ada jiwa pria setia yang terluka oleh sebuah kegagalan di sana, yang terus membusuk setiap waktu.


Ketika Neta menyaksikan bagaimana Adrian berjuang menghindarkan Kania dari semua masalah tanpa mempedulikan harga yang harus ia bayar. Neta pikir itu sangat konyol dan mengejeknya sepanjang waktu tapi tak urung juga merasa penasaran. Ia terus bertanya-tanya adakah pria di luar sana yang seperti Adrian? Atau apakah seseorang yang dikatakan sudah ditakdirkan untuknya hingga akhir hayat nanti seperti Adrian?

__ADS_1


Maukah seseorang itu memperjuangkannya seperti Adrian? Dan tanpa Neta sadari seluruh pikirannya sudah di invasi oleh pria itu. Wajahnya, tubuhnya, sikapnya, bahkan bagaimana cara ia bernapas, Neta hapal semuanya.


Seolah melihat pria itu adalah hal paling menyenangkan di dunia, tapi di balik semua perasaan geli yang ia rasakan. Neta sejujurnya sangat takut, ia sadar dengan bagaimana keadaanya sendiri, latar belakangnya, sikapnya yang buruk, dan hal-hal yang membuatnya insecure.


Ketika melihat Kania atau Vita, Neta merasa dirinya tak layak, bahkan sekedar melihat. Namun ketika Adrian mengungkapkan perasaanya dengan mata yang begitu hidup, Neta merasa semua tidak penting lagi. Ada banyak pria di luar sana yang ribuan kali lebih baik tapi mungkin Neta tidak akan mendapatkan tatapan seperti ketika Adrian memandangnya. Perasaan hangat yang membuatnya nyaman.


"Saat bersamanya Gue merasa hidup. Yah, walau kadang menyebalkan, kalau Adrian mulai bertingkah aneh-aneh."


"Gue ikut bahagia, deh." Deandra ikut tersenyum lembut melihat wajah berseri Neta.


"Lo ada kepikiran buat jodohin anak kita berdua enggak?" Tanya Deandra iseng.


"Bukannya, Lo benci adegan semacam itu ya?"


"Kalo pasangan CEO nya model Adrian, kayaknya enggak apa-apa deh." Keduanya lantas tertawa kencang.


Mata Adrian bergulir mencari sosok yang sedari tadi belum ditemuinya. Namun alih-alih Neta, Adrian malah mendapati sang ayah mertua, Hazar Baskoro. Pria itu tengah menatapnya dingin seolah ia makhluk tercela yang tak layak datang ke acara ini.


Adrian tersenyum geli sebagai respon. Setelah kebenaran perihal ibu kandung Neta yang sebenarnya adalah wanita yang dicari-cari Hazar sampai ke ujung dunia itu terungkap. Ayah mertuanya praktisnya tambah membenci Adrian, kapanpun mereka tak sengaja bertemu.


Hazar akan melemparkan kata-kata pedas seperti saat ia bertemu musuh besar dan bukannya menantu. Hazar juga tampaknya selalu mencari-cari kesalahan Adrian yang mana dimaksudkan agar ia bisa membuat menantunya itu berpisah dari sang putri.


Sayang sekali, pria itu selalu gagal. Adrian melengos kurang ajar, meluruhkan senyum melihat seseorang yang bergabung ke meja mereka.


"Leo, kau benar-benar sudah menjadi ayah."


Seruan takjub Dante membuyarkan pikiran Adrian. Ia menoleh cepat pada sosok yang baru saja bergabung. Leo sedang menggendong putrinya dan Vita.


"Kau sendirian?"


Adrian mencari sosok lain yang sejujurnya masih dibencinya. Bagaimanapun Vita seharusnya mendapatkan hukuman lebih berat tapi karena paksaan Neta juga jaminan dari Leo jika ia akan memastikan bahwa perempuan itu tidak akan menjadi masalah lagi. Adrian terpaksa merelakan keinginan.


"Vita tidak mau bertemu denganmu."


Adrian mengangkat alis mendengar alasan terlampau konyol itu. Seharusnya Adrian lah yang mengatakan itu. Ah, benar bicara soal konyol, hubungannya dengan Leo lah yang sangat mewakili.


Sepanjang waktu yang dihabiskannya bersama Leo, Adrian selalu memandang pria itu sebagai rival, dalam hal apapun. Namun sekarang apa? Mereka malah jadi saudara ipar dan akan bertahan selamanya, mengingat itu Adrian hanya bisa mendesah.

__ADS_1


End.


🤣🤣🤣🤣🤣 Happy ending ya guys.


__ADS_2