
Selalu ada resiko dari setiap perbuatan, Neta telah belajar itu sedari kecil dengan cara paling tidak layak untuk anak seusianya. Akibatnya ia mengembangkan semacam kebiasaan menamengi diri agar terhindar darinya dan terus berupaya melakukannya sampai sekarang. Namun rupanya kadang ia masih tak cukup handal dan menyebabkan kekacauan.
Butterfly effect, domino effect, Neta tidak tahu yang terjadi sekarang tergolong ke dalam kategori mana. Namun satu hal pasti dirinyalah yang telah memicunya dan karena alasan itu ia bersedia datang ke mari, malam-malam begini.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu tapi kami tak bisa mengatasinya."
Dante berdiri dengan raut wajah bersalah besar ia membuka pintu kamar apartemen miliknya mempersilahkan Neta masuk.
"Jangan terlalu berharap."
Langkah kaki Neta agak goyah saat masuk. Sejenak tertegun saat memperhatikan wajah Adrian dengan tatapan kosong. Penampilan pria itu benar-benar kacau dengan berbagai luka robek dan memar di seluruh wajahnya. Bahkan Neta bisa melihat lipatan merah yang sudah mengering terutama di sudut bibir dan pelipisnya. Napas Adrian teratur tapi Neta tahu pria itu tidak tidur.
Beberapa waktu lalu Dante menelpon memintanya untuk datang. Ia mengatakan kalau Adrian dan Leo berkelahi parah dan butuh penanganan khusus.
Neta sendiri bukannya tidak menolak setelah mendengarnya tapi ketika ia mengingat kemungkinan besar apa yang melandasi pertengkaran adalah gara-gara kejadian siang itu. Neta mau tak mau merasa bersalah ikut bertanggung jawab ia turut andil di dalamnya.
Neta sudah mencoba meminta maaf tadi tapi Adrian menolaknya dengan dingin. Dari lubuk hatinya Neta agak merasa takut Adrian mungkin akan mengabaikannya seperti tadi atau paling buruk mengusirnya pergi.
"Berapa kali kubilang, aku ingin sendirian, Dante."
Suara Adrian sangat kasar saat berbicara nyaris membuat Neta mundur tapi ia berhasil mengumpulkan keberanian dan membalas.
"Aku juga sudah bilang begitu, tapi Dante tetap bersikeras untuk memaksaku masuk."
Neta berdiri di tempatnya mengunggu reaksi Adrian dengan bahu tegang. Di posisinya berbaring, Adrian sontak saja membuka mata setelah mendengar suara istrinya.
"Kau ..."
Adrian menekan kejengkelan yang tersulut. Dante selalu tak pernah mengecewakan jika itu untuk membuatnya sakit kepala. Padahal Adrian sudah berusaha sekuat tenaga agar tidak melibatkan gadis itu lebih jauh.
__ADS_1
"Kau seharusnya menolak lebih keras."
Adrian mengubah posisi jadi setengah berbaring yang mana diartikan Neta sebagai lampu hijau. Gadis itu beringsut maju duduk di tepi ranjang. Tangannya dengan sigap membuka kotak P3K meneteskan obat dan mengoleskannya lembut pada wajah Adrian yang terluka.
"Ya lain kali."
Tapi tiba-tiba saja Neta tersadar. Tidak ada lain kali, ini bisa jadi yang pertama dan terakhir. Mereka akan menjadi asing setelah perceraian. Fakta itu membuatnya malu karena sudah menjawab seperti tadi.
"Maaf, sudah merepotkanmu," suara Adrian lemah saat berkata, matanya sedetikpun tak pernah beralih dari fitur cantik di hadapannya.
Di balik selimut tangan Adrian mengepal erat ketika perasaan malu menyelusup masuk tanpa permisi. Padahal Adrian sudah sangat kasar memperlakukannya tadi tapi gadis itu tetap bersedia datang menawarkan bantuan.
"Tidak," Neta menggeleng kecil, mengunci pandangan pada memar di pipi Adrian. "Sudah tugasku melakukannya, sebagai istri, manusia, dan tetangga."
Sudut bibirnya tertarik saat melanjutkan. Neta merasa geli mendengar kata-katanya yang garing sangat tidak cocok dengan situasi melankolis yang ada. Namun ia butuh lelucon untuk mengusir hawa aneh yang ditimbulkan dari cara Adrian memandangnya. Sorot mata sendu yang menyimpan banyak emosi gelap, penyesalan, kepedihan, dan rasa takut luar biasa, membuat Neta kesulitan bernapas.
Adrian melarikan pandangan pada garis gelap di antara flapon putih kamar apartemen yang tak terkena cahaya. Seperti rasa egois dalam diriku, pikirnya getir. Tipis nyaris tak terlihat tapi tetap saja memberi batas pada warna lainnya. Tanpa sadar Adrian tersenyum miris menyadari betapa menjijikkan dirinya.
"Syukurlah, kau menyadarinya." Neta tersenyum lembut sebagai tanggapan, menutup luka yang terbuka dengan plaster. "Aku sangat bangga padamu."
Ia ingin mengucapkannya dengan nada mencemooh tapi yang keluar terdengar sebaliknya sangat tulus. Seolah itu benar-benar mewakili hatinya yang memuji keberanian Adrian bersikap jujur.
"Kurasa kau tau apa yang harus dilakukan selanjutnya."
Adrian terdiam pandangannya pias menatap Neta yang sedang membersihkan luka-luka lain di tubuhnya. Adrian tahu, sejak dulu, tapi ia terlalu angkuh untuk melakukannya. Harga dirinya menolak.
Menyadari Adrian sama sekali belum menjawab satu patah kata pun Neta mengangkat kepala.
"Kau tidak mau melakukannya?"
__ADS_1
Adrian menyeringai. "kau banyak bicara, seperti bukan dirimu saja."
"Lalu bagaimana diriku?" Tantang Neta balik, ia cukup penasaran bagaimana sosoknya di mata Adrian.
Seringai Adrian menghilang berganti ekspresi rumit. Pikirannya berkelana mengingat satu persatu moment kebersamaan mereka.
"Kau, menyebalkan, sangat."
Neta tertawa kecil. "Itu bagus. Sudah selesai."
Neta menarik diri menjauhkan kedekatan jarak tubuh mereka saat pekerjaan mengobati luka Adrian selesai. Ia sudah membalut semua bagian yang cukup berbahaya, tersenyum puas saat melihat hasilnya. Tangannya dengan telaten mengembalikan perlengkapan ke dalam kotak obat hendak beranjak meletakkannya di nakas ketika jari Adrian menyentuh dagunya.
Sejenak Neta terdiam matanya terkunci pada mata Adrian yang menatapnya dalam. Dalam satu detik wajah Adrian tampak lebih besar dan jelas saat ia mengikis jarak. Neta bahkan bisa melihat bulu mata Adrian pun napas hangatnya yang terhembus di atas bibirnya. Kurang dari satu inci keduanya akan bersatu atau setidaknya begitulah harapan Adrian tapi pengendalian diri Neta yang tersisa menyadarkannya. Ia menjauhkan wajah tanpa harus mendorong balik Adrian.
"Kau selalu bisa memanfaatkan moment untuk mencuri ciuman setiap kali ada kesempatan he!" Neta tersenyum kecil. Memperlebar jarak dengan berdiri.
Di posisinya yang tertolak Adrian terhenyak tak bergerak selama beberapa detik. Apa yang hendak kulakukan? Pikirnya kacau. Adrian tidak benar-benar sadar dengan perbuatannya, semata-mata murni dari dorongan keadaan. Ia repleks mengikuti naluri saat melihat wajah lembut Neta.
"Apa yang salah dengan mencium istri sendiri?" Kepada siapa sebenarnya kata-kata itu ditujukan? Adrian seperti tertampar saat pikiran itu melintas.
"Mendengar itu dari suami yang babak belur gara-gara perempuan lain rasanya agak ... " Neta menarik kalimatnya, menyadari dampak yang mungkin ditimbulkan setelahnya. Ia tidak boleh lagi sembarangan mengeluarkan pikiran. Sudah cukup kerusakan yang diciptakannya.
"Kau bisa istirahat. Aku akan memberitahu yang lain."
Pikiran Neta teralihkan oleh beberapa hal saat ia berdiri tak menyadari gerakan Adrian yang menahan lengannya. Sedetik kemudian menariknya cepat dan menenggelamkannya dalam perlukan erat. Napas hangat pria itu menerpa perpotongan lehernya yang terbuka membawa sensasi asing baru.
"Sebentar saja." Suara Adrian rapuh dan tersendat. "Sebentar saja, tolong biarkan seperti ini."
TBC.
__ADS_1