Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Lembaran baru


__ADS_3

Mei masih menyisahkan beberapa hari basah di Minggu awal. Memasuki Minggu kedua keadaan cerah dengan biru lebar yang membentang dari ujung cakrawala ke sisi satunya. Mentari tersenyum lebar, menumpahkan cahaya keemasannya di daratan menyambut musim kemarau yang akan tiba tak lama lagi. Sengatannya mulai terasa ketika waktu memasuki tengah hari tapi itu tak menyurutkan senyum kebahagian di wajah-wajah siswa kelas tiga yang hari ini merayakan kelulusan mereka.


Menjadi sala satu darinya, Neta berdiri di atas podium aula dengan seragam wisuda dan toga yang menghiasi kepalanya, berbicara dalam pidato perpisahan mewakili seluruh siswa sebagai lulusan terbaik tahun itu. Matanya menyala dalam kegembiraan selagi balas menatap pada seluruh orang yang hadir di aula. Kata-katanya dipenuhi dengan ungkapan terima kasih yang besar pada sekolah yang telah memberinya banyak kenangan berharga. Sesekali ia bercerita tentang bagaimana semua kesulitan yang terjadi selama prosesnya.


Di bagian akhir gadis itu menundukkan kepala dan mengucapkan satu harapan agar bisa berkumpul lagi bersama teman-teman seangkatannya suatu hari ini. Gadis itu pamit mundur dari posisinya diiringi tepuk tangan meriah. Di bangku barisan khusus wali murid kedua orang tua berserta adiknya duduk hikmat menatapnya dengan rasa bangga.


Gedung SMA Sentosa berdiri diam, kaku, dan hening sejauh mata memandang. Sisi-sisi koridor yang beberapa menit lalu sepi itu kini ramai oleh para siswa yang tumpah ruah setelah acara perpisahan. Beberapa anak mulai membentuk kelompok memasang berbagai pose di depan kamera sebagai kenang-kenangan. Sisahnya menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang tua mereka.


Di antara riuh kebisingan para murid Neta menyelip mengejar sosok sang ayah yang tiba-tiba meninggalkan sekolah. Kepergiannya yang terburu-buru membuat pria itu tak sadar bahwa ia meninggalkan dompetnya.


"Pa ..."


Neta berteriak memanggil selagi berlari mengajar mobil sang ayah yang mulai meninggalkan gerbang. Gadis itu berhenti kecewa saat mobil itu menghilang di tikungan. Ekpresi Neta menggelap bersama perasaan sesak yang menyelusup. Ayahnya tengah mengejar bayangan samar dari wanita masa lalunya dan menurut sang ibu mereka bahkan memiliki seorang anak.


Saudara lainnya yang keberadaannya tak diketahui. Neta menarik napas panjang dan berat, tinggal menunggu waktu ya, pikirnya muram. Jika saudaranya itu ditemukan maka mereka akan diusir dari keluarga Baskoro, ia tidak masalah dengan itu tapi mungkin akan memberi dampak cukup besar pada Nino.


Tidak ingin merusak hari bahagia yang sedang berlangsung. Neta menguatkan hati berbalik saat gadgetnya berbunyi. Dahinya berkerut dengan perasaan aneh yang memenuhi dadanya ketika melihat dari siapa pesan itu berasal.


'Berbalik.'


Hanya satu kata tertera di sana. Namun tak lama pesan lain muncul dengan satu juga.


'Kiri.'


Mengikuti instruksi yang diberikan gadis itu berputar ke arah yang dimaksudkan dan menemukan seseorang yang tak ia sangka akan berada di sana. Adrian Admaja, sang mantan suami.


Angin berhembus pelan seolah menjadi musik yang mengiringi pertemuan keduanya setelah sekian lama. Adrian melambaikan tangan dengan senyuman sementara Neta diam terpaku.


Kapan terakhir kali Neta melihatnya? Itu sekitar tiga atau empat bulan lalu, ketika ia tak sengaja berpapasan di restoran sebelum tahun baru. Rasanya sudah lama sekali tapi sedikitpun tak ada yang berubah dari penampilan pria itu. Ia tetap mempesona seperti biasa terutama hari ini dengan pakaian kasual dan raut wajah yang seperti kuncup bunga baru mulai mekar.


Sejenak Neta tetap berdiri di atas kakinya menatap dalam diam. Perasaanya agak kacau sekarang dan ia bimbang apakah harus mengabaikan atau menghampiri pria itu.


Gadgetnya berbunyi lagi, sebuah pesan baru dari orang yang sama masuk.

__ADS_1


'Kemarilah'


Neta masih memaku kaki dalam keraguan sampai pria itu memberi isyarat melalui gerakan tangan. Menyadari Adrian tak akan mundur Neta mulai berjalan dan berhenti pada jarak dua langka di hadapannya.


"Ada keperluan apa kau datang kemari?"


Neta mendengus melihat seringai geli di wajah Adrian. Sama sekali tidak berubah pikirnya menguatkan diri. Neta menggigit pipi bagian dalam berjuang melawan gejolak aneh yang timbul dari kehadiran Adrian. Ia meringis kecil melihat seberapa besar dirinya terpengaruh.


"Aku datang untuk mengucapkan selamat karena sudah lulus."


Adrian bangkit dari posisinya yang menyender santai pada badan mobil, berdiri tegak. Matanya mengamati setiap inci wajah cantik di hadapannya tanpa berkedip. Lima bulan lebih ia tidak melihat gadis itu dan sekarang Neta bertambah dewasa atau mungkin karena hari ini wajahnya dilapisi make up. Rambutnya lebih pendek dari yang diingat Adrian tapi masih meluncur lembut di kedua sisi wajahnya kali ini dengan tambahan lekukkan gelombang. Membuat Neta tambah cantik.


"Dan memberimu ini."


Neta mengerutkan dahi memandang bingung pada lembaran kertas putih kosong yang disodorkan itu.


"Apa ini?" Tangannya polos.


"Kau ingin aku menuliskan keinginan di sini?" Tebaknya menatap Adrian yang masih mempertahankan seringai.


"Ya, aku akan mengabulkannya selama itu tidak mengandung perintah untuk hal aneh. Semacam memintaku menghabisi diri atau menyuruhku menjauhimu."


Neta mengerutkan hidung mendengar kata-kata Adrian. Ia masih dalam proses mencerna situasi yang terlalu mendadak ini.


"Baiklah, kau sudah memberikannya dan aku sudah mendapatkannya. Terima kasih atas perhatianmu."


Adrian tertawa kecil mendengar kalimat pengusiran yang sangat halus itu. Kemampuan gadis itu dalam memilih kata di setiap situasi semakin tajam saja. Nah, Adrian penasaran sekarang apakah pertahanan gadis itu masih sekokoh biasanya. Memanfaatkan kelengahan Neta yang berharap dirinya akan pergi secepatnya, Adrian bergerak maju mengurung gadis itu dalam rengkuhan erat dan menyatukan bibirnya. Gerakan Adrian sangat cepat hingga Neta tak sempat mundur atau bahkan berpikir.


Lima detik pertama terlewati dengan kediaman, tapi ketika mulai mendapatkan kewarasannya Neta mendorong dada Adrian dengan sia-sia. Kedua tangan Adrian di leher dan pinggangnya menahannya lebih kuat.


Itu berlangsung cukup lama sampai Adrian merasakan gadis itu mulai kehabisan napas. Ia melepasnya tanpa benar-benar mengurai kedekatan. Di posisinya sekarang Adrian bahkan bisa mendengar betapa cepat jantung Neta berdetak.


"Yang itu hadiah sebagai juara pertama."

__ADS_1


Adrian terkekeh puas melihat Neta terengah-engah dengan pandangan seolah siap mencabik-cabiknya.


"Kau ..."


Neta terlalu marah untuk menemukan kata-kata paling kasar untuk mengumpati Adrian. Otaknya mendadak mengalami kebuntuan.


"B*jingan, tidak berguna, brengs*k."


Seseorang di belakang keduanya berbicara mengambil alih, mewakili pikiran Neta. Menoleh cepat Neta menemukan adik kecilnya berdiri memandang keduanya dengan wajah datar bosan.


"Sejak kapan?"


Oke, ini double nasib buruk. Wajah Neta memerah karena malu menatap adiknya dengan cemas. Kakinya repleks menginjak Adrian yang hanya mengangkat alis sebagai respon.


"Sesi foto angkatan bakal dimulai, sebaiknya kak Neta masuk atau kak Deandra bakal ke sini." Nino melipat lengan menggeleng kecil melihat wajah panik sang kakak.


Neta merapikan penampilan yang agak berantakan gara-gara ulah Adrian tadi. Berdeham pelan menjernihkan pikirannya yang kacau.


"Oke, ayo masuk."


Neta berbalik kasar berjalan diikuti sang adik. Adrian sendiri berdiri sampai keduanya menghilang barulah menjalankan mobil.


Di halaman Neta melirik sang adik agak panik. Kepalanya masih penuh dengan adegan bersama Adrian tadi. Ia mengumpat pelan ketika bayangan itu tak mau hilang. "Yang kau lihat tadi, jangan beritahu siapapun, oke."


"Kenapa?" Nino bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari kamera yang ia pegang. "Bukannya wajar ya suami istri itu berciuman."


Neta mendelik buru-buru mencubit pipi sang adik. Bagaimana bisa bocah itu mengatakan hal dewasa dengan begitu santai. "Jangan bicara sembarangan. Adrian bukan suami kakak."


Nino berhenti menatap sang kakak dengan pandangan heran.


"Bagaimana bisa kakak menjadi lulusan terbaik dengan otak sebodoh itu," katanya mempertanyakan, meninggalkan Neta yang melongo.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2