Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Kegalauan


__ADS_3

Kafe mungil bernama AK itu gelap, mati, setelah lampu terakhir dipadamkan. Adrian sebagai orang yang keluar terakhir melambaikan tangan pada Kania yang berada di mobil Leo bersiap pulang. Dante secara mengejutkan bersedia mengantar Deandra dan itu sepuluh menit lalu. Pasangan tersisa hanya ia dan istrinya yang duduk diam dengan sikap lebih dingin dari biasanya.


Gadis itu baru saja membangun tembok tak kasat mata baru yang semakin membatasi dirinya dan Adrian. Rasanya mereka terus di dorong menjadi asing setiap waktu dan Adrian masih tidak menemukan apa alasannya. Ia bukan tak berani bertanya tapi ia sudah bisa menduga bagaimana ujungnya. Gadis itu tidak akan menjawabnya dengan suka rela dan kalaupun misalnya ia setuju memberitahu. Adrian yakin itu akan menjadi pukulan lain bagi dirinya.


Adrian baru saja memutar roda kemudi saat suara sang istri yang memutuskan mengunci mulut sejak kafe ditutup terdengar.


"Jadi, ia sang Koki, bukan?"


Pandangan matanya tertuju pada mobil Leo yang membawa Kania di dalamnya, yang baru saja berbelok ke arah kiri.


"Kurasa kau tahu jawabannya."


Sorot mata Adrian goyah oleh emosi asing yang saling tumpang tindih, membingungkan. Sejenak ia terlihat begitu sedih seolah orang yang kehilangan dan kehilangan. Ia sesekali mencuri pandang pada sang istri.


Mulai melangkah ya?


Adrian merasakan hatinya berdenyut mengingat pembicaraan dengan Kania tadi. Sadarkah Kania kalau kata-katanya itu sangat melukai dirinya? Adrian mendesah lelah.


Bagaimana ia bisa melangkah? Kemana ia harus melangkah? Semua orang seenaknya saja memintanya. Adrian juga susah berusaha tapi tetap saja ia masih belum bisa.




Angin sepoi-sepoi menerpa rambut dan wajah cantiknya. Neta membiarkan dirinya tenggelam dalam belain lembut alam. Jam istirahat sedang berlangsung tapi dirinya enggan keluar. Kelas hening ditinggal para penghuninya sementara Neta sendiri sibuk dengan pikirannya.



Satu Minggu tersisa. Setelah itu dirinya akan bebas kemanapun ia inginkan dan badai itu tidak akan menghampirinya. Neta nyaris tersenyum saat memikirkan itu, perasaannya sangat baik sekarang. Ia menatap note yang sudah dibuatnya. Rencana masa depan setelah pernikahan berakhir. Ibunya mungkin marah jika tahu tapi itu tidak akan menghalangi dirinya.



Satu hal terakhir adalah menemukan tempat yang bagus dan Deandra akan mengurusnya. Neta tersenyum lebar menunggu tak sabaran jam pelajaran berkahir. Ia akan memulai langka pertama siang ini.



Deandra yang kebetulan berdiri di depan pintu jadi mendadak berhenti melihat temannya tersenyum sendiri seperti orang kerasukan. Ia sudah sering mendengar kalau gedung sekolah biasanya memilik penghuni ghaib dan suka merasuki orang-orang yang bengong. Ia ingat tadi Neta melamun saat ditinggalkan. Wah, jangan sampai ia benar-benar kerasukan.



"Pergi Lo setan."


__ADS_1


Sebuah teriakan diiringi benda keras yang mendarat di dahi Neta, membuyarkan mood baik yang sedang melanda.



"Lo, tu, yang setan." Neta mendecak menatap buku novel yang dilemparkan Deandra dengan kurang ajarnya itu.



"Ya, abis, Lo senyam-senyum sendiri gitu. Serem tahu."



Deandra ini ya, memang suka merusak suasana. Tidak tahu orang lagi bahagia apa.



"Gimana sama permintaan, Gue kemarin?"



Deandra mendudukkan diri menatap Neta dalam. "Lo, serius mau coba hidup mandiri? Itu susah lo ta. Bahaya juga."



"Hidup Gue sebelum ini lebih susah dan Gue baik-baik aja tu."




Jiwa Neta kecilnya yang meringkuk ketakutan saat orang-orang itu hendak mencelakainya masih bersemayam jauh di dalam dirinya. Bahkan setelah bertahun-tahun Neta masih sering memimpikan dirinya berada di moment itu. Menangis dalam diam tanpa ada yang membantu.



"Oi, malah bengong lagi." Deandra melambaikan tangan yang ditepis kasar oleh Neta. "Iya, Gue udah Nemu satu tempat sih. Tapi beneran mau pindah? Mama Lo setuju enggak?"



"Gue belum ngomong sama dia. Rencananya abis perceraian."



Tidak perlu dipertanyakan, ibunya pasti menolak ide gila itu, bahkan Baskoro tua juga juga bisa saja menolak. Namun perjanjian adalah perjanjian Neta akan menuntutnya sampai akhir. Satu-satunya yang membuat ia agak terbebani adalah sang adik. Nino masih kecil dan ia mungkin akan jadi sasaran mulut-mulut beracun sepupunya yang lain.

__ADS_1



"Tau, enggak? Mungkin Lo satu-satunya perempuan yang ngomongin soal cerai, tu, kayak bahas jenis bunga. Lo tu bakal jadi janda tau."



Neta tersenyum kecil mendengar nada kasihan dalam kalimat Deandra. Setulus hati berterima kasih untuk perhatiannya.



"Santai aja kali, pernikahannya kan cuma di atas altar doang. Adrian enggak mungkin daftarin itu ke pemerintah. Jadi enggak bakal ada jejak. Paling cuma beberapa orang doang yang tau."



Sang kakek bilang ia akan mengurus semuanya jadi Neta hanya perlu duduk santai sampai waktunya tiba. Lagipula Adrian juga sudah menyetujui perjanjian itu jadi tidak ada yang perlu dipikirkan.



Neta hanya harus menata hidupnya sendiri. Toh, setelah ini ia dan Adrian akan menjadi orang asing, ia bahkan bersumpah akan berpura-pura tidak mengenal pria itu kalau tak sengaja bertemu.



"Tapi tetep aja, Gue sedih denger Lo jadi janda. Kesannya itu Lo, enggak banget."



"Bukannya bagus ya? Jadi abis ini Gue cuma perlu mikirin gimana ngejalanin hidup, Ampe umur senja juga enggak masalah. Enggak bakal ada yang nanya kapan nikah. Toh Gue udah janda."



Keduanya kompak tertawa kencang. Manusia yang tidak bisa menjadikan kesedihan sebagai lelucon itu lemah, dan dunia akan mengejek orang-orang seperti itu. Janda di usia muda bukanlah apa-apa dibandingkan label anak kupu-kupu malam yang selama ini di sandangnya. Pandangan merendahkan dari krang lain itu sudah makanan sehari-harinya. Kalimat cacian yang menyakitkan hati itu sudah tidak berpengaruh apapun lagi saking terbiasa dirinya.



Jika diibaratkan sebuah tembok tubuhnya sekarang pasti sudah berlubang di sana sini. Neta tidak akan heran jika sebenarnya ia sudah tidak memiliki hati lagi. Hal istimewa dari manusia itu sudah lenyap bertahun-tahun lalu.



"Dasar!" Deandra menoyor kepala sahabatnya itu tersenyum kecil meskipun matanya menunjukkan hal sebaliknya.



Neta bisa saja berpura-pura kuat, tapi rasa sakit tetaplah tidak menyenangkan. Deandra tidak akan ambil peduli selama Neta baik-baik saja, ia akan menghormati keputusan sahabatnya itu, bahkan jika itu hal paling gila sekalipun.

__ADS_1



TBC.


__ADS_2