Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Hadiah ulang tahun


__ADS_3

Neta mencengkram erat kedua sisi wastafel, memuntahkan napas kosong yang sedari tadi menyiksanya. Tetes-tetes keringat bermunculan dari celah pori-pori dahinya mengucur pada detik berikutnya. Napasnya tak peraturan, menumpukan tenaga sepenuhnya pada kedua lengan. Kakinya sudah selembut jelly nyaris melorot ke lantai dingin.


Benar-benar sialan!


Pikirannya berkecamuk oleh serangkaian emosi yang menderanya secara beruntun menghasilkan denyutan nyeri di bagian belakang kepala. Rasa jengkel akibat ulah iseng Deandra, rasa malu dari pandangan aneh teman-teman Adrian, bergumul jadi satu.


Wah! Neta melepas napas kasar. Bibirnya menipis sementara alisnya bertaut. Kau sangat berhasil Deandra pikirnya masam, bersumpah akan memberi sahabatnya itu hadiah manis atas usaha kerasnya kali ini.


Neta menatap wajahnya sendiri di kaca, pucat, awut-awutan, tak ada bedanya dengan orang gila. Wajar jika teman-teman Adrian menatapnya aneh tadi. Mungkin ada baiknya Neta langsung pulang begitu masalah Deandra selesai dan bukannya dengan bodohnya malah masuk.


Mengapa aku begitu ceroboh?


Penyesalan yang datang terlambat itu kian memperburuk suasana hatinya. Padahal ia sudah berjanji tidak akan kehilangan kontrol diri lagi. Bersikap implusif hanya akan berujung pada hal tidak menyenangkan.


Neta telah belajar sebanyak itu, tapi mana bisa ia bersikap tenang jika itu menyangkut Deandra. Selagi berlari tadi ia telah memperhitungkan kemungkinan bahwa Deandra hanya mengerjainya, tapi mengingat sifat Deandra yang kerap kali bersikap spontan tanpa memikirkan resiko jangka panjang. Pikirannya menjadi kabur dan begitu sadar ia sudah menggedor pintu rumah Adrian.


Haruskah ia menjalankan ritual mandi kembang pengusir kesialan? Rasanya semenjak malam pernikahan ia terus-terus diberi kejutan yang membahayakan jantung. Ada saja hal-hal yang membuatnya harus berhadapan dengan Adrian. Padahal dirinya sudah berusaha untuk tidak terlibat lebih jauh dengan pria itu.


Bagaimana ia bisa menghormati pria itu sedangkan kesialan terus menimpa dirinya sejak berstatus sebagai istri sahnya. Jangan bilang Adrian itu memiliki semacam kutukan dan telah menulari dirinya sekarang.


Neta mengusap wajahnya kasar terlalu tenggelam dalam lamunan tidak menyadari sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya.


Adrian melipat lengan menyandarkan tubuh pada kusen pintu. Ia sudah cukup lama berdiri di sana memerhatikan keadaan sang istri yang sangat kacau. Gadis yang selalu menampilkan sorot mata memusuhinya itu sekarang tampak menyedihkan.


"Aku akan memberitahu yang lain kalau kau tidak jadi bergabung."


Neta mengangkat kepala cepat menatap pantulan Adrian di kaca. Sejak kapan pikirnya terkejut.


"Tidak, aku baik-baik saja." Neta buru-buru membekap mulut menyadari perutnya bergejolak lagi. Deandra kurang ajar ia jadi menelan banyak angin. "Aku cuma perlu istirahat sebentar."


Alis Adrian terangkat menantang. Ia menelusuri penampilan sang istri yang agak terbuka.Tentu saja bisa masuk angin, pikirnya.

__ADS_1


"Aku tidak memberimu izin."


Ia menahan lengan Neta yang hendak melewatinya, mengerenyit saat merasakan betapa dingin tubuh gadis itu.


"Hari ini special untukmu dan aku ingin ikut merayakannya." Sudut bibir Neta tertarik niatnya untuk menyeringai tapi terlalu lemah." Adrian, aku tidak menjalankan kewajiban istri di ranjang, jadi biarkan aku melakukannya dalam bentuk lain."


Dalam kondisi begini? Masih sempat-sempatnya gadis itu berkelakar. Adrian mendengus mengapa ia sangat keras kepala.


"Tidak. Lebih baik kau pulang dan tidur."


Neta menyipitkan mata mendengar pengusiran itu. "Kenapa? Kau tidak ingin teman-temanmu tahu siapa aku? Atau kau berusaha mengusirku untuk sesuatu? Kalian akan mengadakan pesta ranjang berpasangan begitu?"


"Dante dan Angela sudah tau, aku tidak perlu menyembunyikannya. Tidak seperti seseorang."


Neta memutar bola mata melihat bagaimana Adrian menyeringai ketika menyindirnya. Oh tentu saja pria pendendam ini tidak akan melewatkan kesempatan untuk membalasnya.


"Dan lagi, dunia orang dewasa tidak selalu dipenuhi hal-hal kotor seperti pikiranmu itu."


"Rekam jejakmu menunjukkan sebaliknya." Neta tersenyum sangat manis kontras dengan matanya yang mencemooh.


Sudah lama Adrian memikirkannya, mempertanyakan mengapa gadis ini selalu memasang sikap defensif dan begitu memusuhinya. Sejauh yang mampu diingatnya Adrian merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang menyinggung ataupun merendahkan Neta. Bisa dibilang di antara cucu-cucu perempuan Baskoro istrinya inilah yang paling jarang berinteraksi dengan dirinya. Jadi mengapa dia terus memperlakukan Adrian seolah sampah hina yang bahkan tak layak untuk dilihat?


"Aku tidak akan merubah image b*jing*n yang sudah tertanam di otakmu itu, tapi setidaknya sesuaikan dirimu. Gaun waktu itu ada di lemari."


Neta menatap Adrian yang menjulang dihadapannya berjuang mati-matian agar tidak terintimidasi. Pria ini jadi menakutkan kalau sedang marah.


"Baiklah, beritahu mereka aku akan tiba dalam sepuluh menit."


Neta mengibarkan bendera menyerah, mendorong jauh seluruh keinginan untuk mengonfrontasi emosi Adrian. Jangan sampai membuang terlalu banyak tenaga, ia masih harus berpura-pura dan menyesuaikan diri setelah ini.


Sekali lagi lengan Neta ditahan Adrian memaksa gadis itu diam di tempat. Neta menahan napas selagi menunggu. Ini bukan sentuhan pertama mereka tapi tidak bisa menahan rasa cemas yang muncul. Adrian dalam mode dingin itu mengerikan.

__ADS_1


"Apa lagi?"


"Kau belum memberiku hadiah ulang tahun."


Oh, Neta diam-diam menarik napas lega, merilekskan ototnya yang mengencang. Mana sempat ia memikirkan itu, tidak ada yang memberitahunya kalau Adrian ulang tahun.


"Aku akan memberimu nanti."


Neta memikirkan beberapa pilihan hadiah normal di samping hadiah aneh.


"Aku akan mengambilnya sendiri sekarang."


Membiarkan sang istri tenggelam dalam kebingungan Adrian menutup jarak mereka. Meraih pinggang dan belakang leher Neta dalam satu gerakan cepat menyatukan bibirnya. Neta membeku terkejut karena tidak memperkirakan hal itu.


Adrian mengerang tertahan selagi ******* bibir gadis itu baru menyadari jika tubuh sang istri mengigil. Berapa lama lagi ia berencana menyembunyikannya? Saking keras kepalanya gadis itu bahkan mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri? Adrian kehilangan kata-kata. Mengapa anggota keluarga Baskoro suka sekali menyiksa diri sendiri?


Semenit kemudian Adrian mulai merasakan perlawanan. Tubuh dalam dekapannya itu mengeliat pelan memaksa Adrian melepas tautan bibir mereka. Neta selalu punya pikiran ekstrim untuk menghentikan keintiman mereka. Ia tidak ingin menerima hadiah tambahan lain yang tidak diperlukan.


"Dunia orang dewasa tidak selalu dipenuhi hal kotor, heh!" Neta mencibir, mendorong paksa tubuh Adrian. "Kau harus belajar bertanggung jawab lebih keras lagi, tuan Adrian. Ini baru semenit Lo."


Neta melewatinya menggumamkan kata-kata acak. Gadis itu pasti mengumpatnya pikir Adrian tak peduli.


"Sejak kapan kau punya hobi mengintip orang, Dante?"


Sialan! Dante mengumpat, keluar dari persembunyiannya. Ia tidak bernia mengintip, semata-mata kebetulan karena Adrian terlalu lama. Siapa yang menyangka ia akan menyaksikan adegan live action begitu. Walau ini bukan pertama kali tetap saja ia merasa tak nyaman.


"Kalian terlalu lama, Kania memintaku untuk memeriksamu."


Tak di sangka malah disuguhi pemandangan luar biasa. Adrian bisa saja menyangkal tapi tubuh dan perilakunya menunjukkan sebaliknya.


"Omong-omong, kau yakin itu sekedar tertarik?"

__ADS_1


Dante melemparkan seringai mengejek pada Adrian yang menatapnya tajam.


TBC.


__ADS_2