Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Kejutan yang membuat spot jantung


__ADS_3

Ponsel silver yang tersembunyi dibalik sebuah saku rok lilit itu berkedip- kedip pelan, bergetar setelahnya sembari menyuarakan bunyi khas, yang mana menandakan sebuah pemberitahuan.


Sang pemilik, Neta meraih cepat, mengusap layar pada detik berikutnya. Mata besarnya memantulkan layar gadget yang menampilkan deretan tulisan. Sepasang alis indah yang menghiasi dahinya serta merta melengkung saat otaknya selesai memproses informasi.


'Kau punya waktu lima menit atau pernikahanmu bakal jadi hot gossip besok di sekolah. Salam cinta Deandra.'


Tulisan di layar atas muncul menyusul sebuah gambar seorang gadis berlatarkan gerbang yang ia kenal.


"What the ..."


Sepuluh detik adalah proses yang dibutuhkan Neta untuk membuka sekaligus menutup pintu mobil setelah ia keluar. Ia menghambur berlari secepat kilat menerobos kerumunan kendaraan yang berdesakan di jalan raya. Titik fokus pikirannya adalah secepatnya untuk sampai ke rumah.


"Non ... "


"Ta ... "


Panggilan dari Vita dan sang sopir dari dalam mobil berlalu tanpa didengar. Kedua orang itu memasang ekpresi berbeda memandangi Neta yang perlahan mengecil tertelan jarak. Mereka sedang ada di jalan utama tak jauh dari gerbang utama kompleks perumahan Jeikarta.


"Dea ..."


Bunyi khas pertanda panggilan telah ditolak terdengar di sepanjang langkah yang mengiringi larinya. Neta mengerang frustasi meningkatkan laju lari saat dirasa waktunya semakin terkikis.


Benaknya meluncurkan serangkaian makian kasar pada sang sahabat yang dengan terniatnya membuatnya spot jantung. Angin malam menampar wajahnya, memainkan anak rambutnya dengan nakal tak ia hiraukan. Prioritas adalah sampai ke tempat itu secepatnya dan menghentikan niat kelewat gila Deandra.


Mewawancarai Adrian? Neta melepaskan napas tak percaya. Bagaimana ia bisa melewatkan niat itu dari Deandra. Pantas saja kemarin-kemarin Deandra bertingkah aneh saat mendapat tugas tambahan. Rupanya ia sudah menyusun rencana untuk menjadikan Adrian sebagai target.


Sifat nekat berpadu dengan kekanakan dari Deandra bisa jadi sangat berbahaya jika itu digunakan untuk mengusili orang. Rasanya urat malu Deandra telah memutuskan diri sendiri dan sialnya saat ini dirinyalah yang menjadi korban.


"Dea sialan!" Neta berteriak kencang. Untung saja suasana kompleks perumahan sedang lenggang.


Bangunan mewah perumahan Jeikarta berlalu seperti kilatan petir. Neta berbelok cepat melintasi halaman tanpa gerbang Adrian. Menggedor kasar begitu mencapai pintu sembari bersumpah akan membuat perhitungan pada Deandra.

__ADS_1


Suara langkah kaki tak sabaran terdengar dari balik pintu sementara gedoran tangan Neta sendiri tak kunjung berhenti.


"Apa ya ..."


Adrian terpaksa menelan kata-kata kemarahan yang siap meluncur, mengerenyit heran ketika mendapati siapa yang berdiri di depan pintu. Kerutan di selah kedua alisnya terbentuk sedangkan memicing tajam pada penampilan liar yang dipertontonkan sang istri.


Kaos oblong oversize biru pucat yang berpadu rok pendek abu-abu setengah paha. Rambutnya dikuncir kuda memperlihatkan leher jenjang yang mengkilap. Ia tampak menawan dan erotis di saat bersamaan.


Demi Tuhan mengapa gadis ini harus tercipta dengan bentuk yang begitu menggoyahkan pikiran laki-laki. Ia mungkin masih belasan sekarang tapi beberapa tahun lagi istrinya itu akan melebihi Vita. Adrian menarik napas dalam guna mengusir jauh hasrat aneh yang timbul tenggelam bersama rasa kesal yang mendadak muncul. Sadarkah gadis itu jika penampilan kacaunya bisa memicu pikiran liar para lelaki?


Tak perlu mendengar kata-kata langsung untuk mendengar jawabannya. Semua sudah tergambar dari ekpresinya yang jelas-jelas seperti induk burung unta yang siap mematuk orang.


"Deandra mana?"


Neta bertanya ditengah usaha menstabilkan napasnya yang berantakan akibat berlari. Matanya sendiri balas menatap tak kalah tajam dari Adrian.


"Deandra ma ... "


Adrian membalas datar, mengumpat dalam pikiran saat bagian tertentu tubuhnya bereaksi ketika mendapati keringat yang mengalir deras di dahi dan leher sang istri.


"Jangan bohong. Mana Dea ... "


Sepertinya kekurangan pasukan oksigen telah mengaburkan kewarasan Neta. Ia meringsek kasar memaksa maju guna melihat ke dalam ruangan mencari sosok sahabat. Neta sudah siap memberikan segala macam ceramah padanya. Namun alih-alih wajah Deandra yang ia pikir akan cengegesan saat berhasil mengerjainya.


Neta malah mendapati beberapa sosok asing yang wajahnya sulit dilihat. Mereka sedang sibuk menyantap beberapa kacang di atas meja.


Dalam beberapa detik kesadaran memukul keras dirinya. Neta diliputi rasa malu, kesal, dan bingung secara bersamaan. Ia meringis mengalihkan pandangan cepat antara Adrian dan orang-orang di dalam ruang tamu.


"Maaf, tadi ..."


Adrian diam menunggu sang istri menyelesaikan perkataan. Gadis itu datang seperti orang gila jelas alasannya pasti sangat penting.

__ADS_1


Neta meraih gadgetnya cepat, memperlihatkannya tepat di wajah Adrian sebagai penjelasan. Pandangan Adrian bergeser dari wajah berkeringat sang istri ke layar yang menyala terang itu. Sebuah notifikasi baru saja masuk dari nama bertuliskan Deandra.


Adrian menekan layar sesaat memerhatikan barisan tulisan yang menyertai video yang masih belum terdownload. Ia melirik sang istri yang menunggu tegang kemudian menyeringai.


"Sepertinya aku harus berterima kasih pada temanmu itu."


Respon Neta seperti yang ia duga, masam dan matanya melotot.


"Karena sudah memberiku pemandangan yang menarik."


Memanfaatkan kelengahan Neta beberapa detik itu, Adrian menarik pinggang istrinya lebih dekat. Kehangatan dari tubuh mungil dipelukannya menghantam pikiran Adrian tanpa ampun. Ia sekuat tenaga menahan diri agar tidak melanggar aturan pernikahan mereka. Jika ia kebablasan Baskoro tua itu akan menang besar.


Neta berontak sudah pasti, tapi Adrian lebih bisa mengantisipasinya ia mengeratkan belitan lengannya. Menunduk menatap dalam sang istri.


"Lepas."


Neta menarik napas dalam. Memantrai dirinya untuk tetap terkendali dan membuat pengingat penting agar tidak lupa untuk membalas Deandra. Berani sekali anak itu mengerjainya.


Adrian masih berniat bermain dengan istrinya. Sementara di dalam, Dante yang menyadari Adrian izin terlalu lama segera menyusul.


"Tetangga kurang ajar yang mana itu ... Eh!"


Dante muncul dari balik bahu Adrian segera terdiam terkejut melihat tamu yang tak diundang. Sesaat matanya memindai posisi keduanya yang mengundang pikiran nakalnya untuk berkomentar. Ia bersiul pelan.


"Aku akan berpura-pura tidak melihat." Ia mundur perlahan dengan tawa tertahan sementara matanya dipenuhi kilatan rencana jahat. "Oh benar, Neta boleh gabung kok. Kita lagi ngerayain ultahnya Adrian."


Masih dalam posisi intimnya, Adrian mendengus kesal mendengar kebaikan hati Dante yang memberitahu istrinya mengenai hal tak penting itu. Seperti gadis ini bakal peduli saja, pikir Adrian sinis. Ia melirik sang istri yang telah berhenti berontak dan kini tengah tersenyum manis.


Adrian mengerenyit melihat perubahan suasana yang mendadak itu. Gadis ini pasti ... Pikiran Adrian terputus saat merasakan benda hangat yang menempel di bibirnya hanya sedetik tapi mampu membuat semua otot ditubuhnya berhenti bergerak.


"Happy birthday my dear husband."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2