
Neta bertopang dagu menatap lampu yang berkelap-kelip di luar sana. Terpesona pada keindahannya yang bagai bintang di daratan bumi gelap. Pandangannya lantas bergeser pada sang ibu yang terpantul di kaca. Ibunya tampak sibuk dengan gadgetnya sesekali membuat ekspresi konyol, adiknya sendiri sibuk dengan kegiatan mengotak-atik rubik warna-warni. Ayahnya belum juga muncul meski ini sudah lewat sepuluh menit dari jam janji temu.
Bosan menatap anggota keluarganya, Neta melarikan mata di sepanjang ruangan, tanpa sadar tersenyum ironis melihat perpaduan warna yang di pilih. Dominasi hitam dengan lentera merah sebagai pencahayaan, bahkan lilin di atas meja juga berwarna senada, langit-langitnya berhiasakan kristal memantulkan warna emas. Kemewahan yang begitu dingin, pikirnya terhenyak menyadari suasana yang ada benar-benar melambangkan hubungan keluarganya.
Neta memerhatikan sang adik yang begitu serius saat bermain rubik. Bocah kecil itu tiba-tiba mengangkat pandangan dan melemparkan pertanyaan yang membuat Neta tersedak napas sendiri.
"Kakak, kenapa tadi enggak nyapa kak Adrian? Padahal kan dia suami kakak."
Dari sudut mata Neta bisa melihat ibunya menghentikan kegiatan buru-buru mencubit pipi bulat sang adik, berikut pelototan tajam.
"Kenapa sih, ma?" Nino protes, pipinya mengembung dengan bibir maju beberapa centi. "Nino kan enggak salah nanya."
"Nino, ada hal-hal yang baik dan tidak baik untuk ditanyakan."
Neta hanya diam menyaksikan perdebatan kecil keduanya dengan senyum tipis. Nino masih terlalu kecil untuk paham dunia orang dewasa jadi ia memahaminya, lagipula memberitahu mengenai perceraian pada anak-anak agak terlalu kejam. Alasannya sangat rasional tapi Neta tahu ada lebih dari sekedar itu mengapa ia tidak mau membahas Adrian. Ada perasaan tertentu yang tertinggal dan tak mau pergi dari dirinya berkaitan dengan pria itu. Perasaan yang membuatnya seperti orang sekarat dan menyedihkan.
"Kak Neta kenapa enggak suka kak Adrian?"
Neta menaruh atensi sepenuhnya pada sang adik. Ia tidak tahu dari mana kesimpulan itu didapat tapi Neta harus meluruskan agar tak salah paham.
"Kakak enggak ada bilang enggak suka. Tapi hubungan kita enggak seperti dipikiran Nino."
Hubungan mereka hanya sebatas mantan suami istri yang terpaksa menikah. Jenis hubungan yang begitu batas waktunya habis maka semua selesai.
"Jadi, ada kemungkinan kamu suka dia?"
Neta mengerenyit berputar menatap sang ibu. Apa ini? Mengapa ia merasa sedang di keroyok? Dan kenapa pula bahasan utamanya jadi Adrian.
"Tergantung apakah Adrian mau membuang sifat dan tingkah buruknya atau tidak." Neta menarik napas panjang. "Lagipula itu enggak penting, ma. Toh Neta enggak ada hubungan apapun lagi sama Adrian."
Pada satu titik Neta pernah berandai-andai. Jika ia tidak memiliki kenangan buruk dengan orang dewasa. Apakah itu akan menjadi menyenangkan? Apakah ia juga akan melihat Adrian seperti saudaranya yang lain? Terpesona, jatuh cinta, pada kerupawanan pria itu. Apakah ia akan melihat dunia dengan cara yang sama sebagaimana anak remaja umumnya?
Cinta, itu kosakata asing yang belum pernah Neta lihat bagaimana bentuk nyatanya. Jadi ia tidak percaya bahwa itu benar-benar ada. Bahkan sang ibu yang dikatakan memiliki cinta sepanjang masa itu pun tak bisa menunjukkan buktinya pada Neta.
Perempuan itu memang memberikan semua hal yang ia butuhkan layaknya seorang ibu tapi terkadang Neta mendapati dirinya lebih seperti ayam yang sengaja diternak agar menghasilkan telur emas di masa depan. Apakah ibunya akan tetap membiarkan ia lahir jika darah Baskoro tidak mengalir dalam nadinya? Neta ingin menangis memikirkan kemungkinan lain.
Bagi beberapa perempuan anak adalah sala satu tangga untuk memanjat strata sosial yang lebih tinggi. Neta tidak akan menganggap ibunya juga demikian tapi dunia tidak pernah setengah-setengah juga ketika membuat seseorang menderita. Manis ilusi itu adalah rasa pahit yang sesungguhnya.
"Maksudmu soal suka bermain perempuan?"
Neta mulai kesal sekarang, mengapa ibunya harus memperpanjang pembahasan?
__ADS_1
"Ya, karena itu membuatnya terlihat seperti papa dan Neta benci itu."
Meskipun dalam kasus Adrian memiliki pengecualian khusus. Adrian hanya mengisi waktu luang karena rasa frustasinya gagal mendapatkan Kania. Pria itu sesungguhnya sangat setia, tipe idaman para perempuan. Kaya, mapan, tampan, dan setia.
"Ma, apakah papa juga punya seseorang? Di masa lalunya mungkin."
"Ya, ada satu sepertinya dan papamu sedang mengejar bayang-bayangnya sekarang."
Alis Neta bertaut melihat bagaimana datar ekpresi itu. "Dan mama baik-baik saja dengan itu?"
"Neta, tidak semua cinta itu akan mendapatkan wujudnya. Ada yang hanya terhubung melalui hati dan sebaliknya. Kurasa kau tahu mama dan papa tidak memiliki itu dalam hubungan rumah tangga ini."
"Kenapa mama enggak berusaha mendapatkan itu dari papa?"
Seharusnya itu tak perlu dipertanyakan. Ibunya tidak peduli pada hal-hal sentimentil yang sangat diagungkan kaum perempuan itu.
"Prioritas perempuan beda-beda sayang. Dan bagi mama pribadi, meminta perasaan itu pada papamu merupakan sebuah keserakahan. Papamu sudah memberikan semua hal yang paling diimpikan para perempuan. Seorang suami, anak, status, dan kehidupan mewah."
Neta mendengarkan perkataan sang ibu selagi menenangkan hati dan logikanya yang berperang sengit di dalam sana. Pandangan ibunya sangat jelas pun cara ia menghadapinya. Perempuan yang pernah menghabiskan malam dengan keringat panas bersama banyak pria itu sangat mengagumkan bagi Neta. Bahkan dengan semua hal buruk yang telah dijalaninya Aluna tidak sedikitpun mengeluh tentang ketidakadilan dunia.
"Aku tidak paham."
"Kau akan paham suatu hari nanti." Aluna tersenyum menutup pembicaraan bersamaan dengan Hazar datang bergabung dengan mereka.
"Maaf, tadi ada urusan."
*
*
Melihat ekpresi janggal dari kliennya itu Rayden sungguh-sungguh heran. Baiklah, terharu bisa bertemu lagi bayi kecil yang ia bantu menuju dunia ini sangat wajar. Namun Rayden yang sudah terlatih dalam membaca eskpresi orang memiliki pandangan lain. Itu lebih dari sekedar terharu oleh pertemuan tak sengaja, ada sesuatu yang lebih mendalam.
"Tante, teman lama nyonya Aluna?"
Rayden membuka bibir memutus atmosfer suram yang sedang menggantung. Matanya sendiri sesekali melirik Adrian yang berusaha keras mengembalikan fokus pada sketsa kasar dari desain bangunan berdasarkan permintaan sang klien. Namun Rayden tau sahabatnya itu membuka telinganya lebar-lebar tak mungkin ia akan melewatkan hal sekecil apapun soal Neta.
"Tidak, itu hanya kebetulan ia melahirkan di klinik tempatku bekerja dulu."
Rayden tidak melewatkan gerakan kecil saat perempuan itu mengusap air di sudut matanya pun raut kosong yang tersaji setelahnya. Pikiran perempuan itu sedang ditarik ke suatu tempat yang jauh di masa lalu.
"Anda kelihatan senang sekali bertemu putrinya tadi."
__ADS_1
"Tentu saja," balasannya cepat dan matanya berkilau dalam sorot percampuran bahagia dan sedih. "Gadis itu satu-satunya peninggalan temanku."
Rayden otomatis melirik Adrian yang saat ini juga balas menatapnya. Dulu sekali Adrian pernah menyinggung soal apakah Neta benar-benar putri Aluna atau bukan dan sepertinya ia akan menemukan sesuatu dari perempuan ini.
"Kupikir Tante barusan bilang kalau tidak begitu dekat dengan nyonya Aluna."
Ada rasa sedih yang begitu dalam di mata Yona ketika ia membuka mulut. "Aluna, aku mengenalnya sebagai pasien tetap yang sebulan sekali berkunjung ke klinik. Awalnya aku tidak tahu apa pekerjaannya, yang kutahu ia datang untuk memeriksa kondisi sang calon bayi."
Pada percakapan pertama Yona mengetahui pekerjaan Aluna dan gadis itu bimbang bagaimana cara membesarkan anak. Ia menemukan gadis itu berjongkok selagi menangis keras. Para pasiennya yang lain enggan mendekati gadis itu karena pekerjaannya dan menganggap dirinya noda kotor. Namun bagi Yona yang memiliki teman yang juga sedang mengandung tanpa seorang suami tau betapa berat itu untuk seorang perempuan.
"Aku punya teman senasib dengannya. Mengandung tanpa kehadiran sosok ayah si bayi. Jadi aku sangat paham bagaimana perasaannya."
Yona bahkan secara gratis memberi vitamin dan konsultasi pada Aluna. Sampai ketika waktunya bagi sang lahir ke dunia. Malam itu ada satu gadis lain yang juga akan melahirkan bayinya, seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Dua gadis yang melahirkan dalam waktu bersamaan. Yona menganggap itu hanya kebetulan semata tapi takdir sepertinya tidak menuliskan demikian, ia punya alasan mengapa membuat bayi itu lahir di waktu bersamaan.
"Mereka melahirkan di waktu bersamaan, tapi temanku meninggal setelah melahirkan sedangkan Aluna kehilangan bayinya. Jadi ..."
Adrian sudah bisa menebak bagaimana kira-kira kelanjutannya tapi ia tetap ingin mendengarkan langsung dari mulut perempuan itu.
"Aku menukar bayinya. Aku memberikan bayi temanku pada Aluna sementara bayi Aluna kukuburkan bersama temanku."
Yona tahu perbuatannya salah tapi ia melakukannya bukan tanpa alasan. Ia ingin peninggalan temannya itu hidup karena jika Yona memberikannya pada keluarga sahabatnya mereka hanya akan membuangnya. Jadi dengan memberikannya Aluna setidaknya bayi itu akan memiliki seorang ibu. Aluna memang seorang wanita penghibur tapi dengan dirinya yang mau mempertahankan bayinya walau ia tak tahu siapa ayahnya. Bagi Yona sudah menunjukkan ia perempuan baik-baik.
"Kenapa Tante tidak merawat sendiri? Kenapa menyerahkannya pada orang lain?"
Rayden tidak bisa memahami pikiran perempuan itu. Jika memang ingin menjaganya lebih baik dirawat sendiri bukannya malah menyerahkannya pada orang lain yang tidak dikenal.
"Aku sudah punya bayi sendiri dan keadaanku sedang sulit saat itu."
"Apa anda tau bagaimana kehidupan gadis itu setelahnya?"
Wajah Yona mendadak mendung mendengar pertanyaan Adrian. Sampai Neta berusia lima tahun Yona masih memantau putri sahabatnya itu. Jadi ia tahu, tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin dirinya jujur pada Aluna setelah semuanya.
"Aku tahu karena itu aku berpikir untuk menjodohkannya dengan putraku, dengan begitu aku bisa menjaganya."
Adrian segera melemparkan tatapan tajam pada Rayden yang menunjukkan gelagat ingin tertawa.
"Kurasa itu bukan ide yang bagus," kata Rayden, kecuali ingin menerima amukan Adrian tambahnya dalam hati.
TBC.
__ADS_1