
Ada banyak pikiran yang membebani kepala Adrian sekarang. Ia mengambil napas panjang dan berat mati-matian menjaga ketenangan pikiran agar bisa mengurai satu persatu persoalan yang tengah menderanya. Dengan Leo yang masih tidak bisa dihubungi sejak tiga hari lalu, terhitung dari siang konfrontasi mereka secara praktis telah membawa dampak besar pada Kania. Perempuan itu terus-terusan merasa bersalah dan menangis kapan pun kesempatan sendiri mendatanginya.
Lebih parah lagi keluarga Baskoro kembali merundungnya perihal rancangan taman yang tak kunjung Adrian selesaikan. Rasanya seolah dunia tengah mengirimkan cacian pedas lewat tangan orang-orang di sekelilingnya.
Adrian nyaris menenggelamkan diri dalam pengaruh alkohol lagi malam ini jika saja Rayden tidak menghubunginya memberitahu soal keberadaan Leo. Bersamaan dengan itu bel rumahnya berbunyi dan sang istri berdiri sebagai tamu.
"Untuk apa kau datang ke sini?"
Adrian bahkan lupa mengenai keberadaan gadis ini saking menumpuknya permasalahan yang ada.
"Kakek ingin bicara sekarang juga."
Ekpresi Adrian berubah lebih gelap dari biasanya dengan tambahan aura mengintimidasi yang kuat.
"Aku tidak punya waktu."
Adrian tahu ia agak kasar pada gadis itu tapi sekarang ada hal yang lebih perlu di prioritaskan. Ia harus menuntaskan masalah dengan Leo terlebih dahulu.
Adrian melewati begitu saja Neta yang mematung berdiri menatap kepergiannya. Sesaat Adrian melirik gadis itu dari kaca spion mengusir pelan perasaan bersalah yang timbul. Ia akan mengurus gadis itu lain waktu.
Rayden menemukan tatapannya berkeliaran di antara kerlap-kerlip cahaya lampu, di antara para penikmat dunia malam yang mencari penghiburan palsu dari kenyataan menyakitkan. Ia memaksakan diri menyelip di antara orang-orang dewasa yang setengahnya telah di pengaruhi alkohol. Berjuang sebisa mungkin menghindari kontak fisik berlebihan dari para perempuan yang sedang mengeliatkan tubuh mengikuti hentakan keras musik yang dimainkan sang DJ.
"Semua orang mencarimu," katanya disusul helaan napas berat. Berdiri di depan sosok tubuh yang telungkup di meja bar.
Matanya secara miris menyaksikan beberapa botol minuman kosong yang berserakan di meja. Sudah berapa lama Leo di sini? Ia duduk di bangku kosong tersisa mengusir bartender yang hendak mendekatinya dengan gelengan kecil. Ia tidak akan heran jika yang berada di hadapannya itu Adrian ataupun Dante. Kedua sahabatnya itu memang gemar menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bila ada kesempatan.
Namun ini Leo, seseorang yang bahkan belum pernah sekalipun menyentuh gadis dalam konteks dewasa termasuk tunangannya sendiri Kania. Bocah paling teladan di antara mereka berempat tapi ini? Rayden menggelengkan kepala menepuk pelan bahu Leo yang setengah sadar.
"Kau membuat semua orang khawatir." Rayden repleks menjauhkan wajah saat Leo mengangkat kepala.
__ADS_1
Wajah sahabatnya itu kusut dengan pandangan tak fokus tapi yang paling membuat Rayden terkejut ialah jejak air mata yang di pipinya. Bagaimana bisa ada orang yang menangis sambil mabuk?
"Semua orang?" Leo membalas terkekeh kecil. "Siapa? Kania? Adrian?"
Cara Leo menyebutkan nama-nama itu dengan begitu pahit membuat Rayden terhenyak. Ia sudah mendengar permasalahannya dari Dante tapi tidak menyangka akan separah ini. Padahal ini bukan kali pertama ia terlibat pertengkaran dengan Adrian gara-gara Kania tapi tak pernah sampai membuat Leo kehilangan kontrol diri.
"Aku lelah." Leo berkata sangat pelan. "Mungkin sebaiknya aku memang tidak pernah memasukinya, Kania itu milik Adrian."
Sejak pertama kali melabuhkan mata pada Kania Leo sadar bahwa ada rintangan besar yang akan menghalanginya. Ia tahu akan ada banyak badai yang menghampiri hubungan keduanya. Namun mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menentukan hatinya akan jatuh pada siapa. Jika bisa memilih Leo tidak akan mau menaruh hati pada Kania jadi ia tidak perlu berurusan dengan Adrian juga.
"Aku tidak akan menghalangi jika kau mau berpikir begitu, tapi Leo ...". Rayden merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. "Sudah terlambat untuk mundur sekarang. Jika kau melepaskan Kania yang sudah susah payah kau genggam itu akan membuat masalah lebih besar."
"Aku tahu, tapi aku sudah sangat lelah."
Leo menatap botol minuman di depannya berharap alkohol akan benar-benar membuatnya kehilangan diri. Namun nyatanya tidak demikian bahkan setelah lima botol dihabiskan pikirannya masih sejernih biasanya. Kejadian di kafe siang itu tak mau menghilang dari pikirannya.
"Semua orang terus saja mengejekku tidak peduli betapa keras aku berusaha. Aku tak akan pernah bisa menyamai Adrian." Leo tertawa getir.
Puncaknya siang itu, saat gadis kecil itu membagi makanan. Leo seolah di tampar oleh kenyataan dengan cara memalukan. Bahkan orang luar seperti gadis itu saja bisa melihat jelas hubungan kusut di antara ketiganya. Kania bisa saja bilang mencintai dirinya bersedia berkomitmen dalam status tunangan dengannya. Namun Leo juga tahu setengah dari diri Kania belum mau melepaskan Adrian pun sebaliknya.
"Aku merasa sangat bodoh, terus memaksa masuk sebagai pihak ketiga. Jika aku tidak ada maka Adrian dan Kania akan menjadi pasangan sempurna."
__ADS_1
Rayden mendengar ungkapan jujur itu prihatin. Leo mungkin mengatakan akan itu dengan mudah tapi Rayden tahu betapa itu mengoyak dirinya sendiri. Sebagai sahabat dari keduanya Rayden tidak bisa membantu banyak. Tidak peduli siapa yang salah ataupun menjadi korban. Rayden akan tetap mendukung keduanya sebagai teman.
"Ya, ya, kau bebas melakukan apapun sesuka hati tapi setelah keluar dari sini."
Rayden agak kepayahan menyeret tubuh Leo melewati manusia-manusia kehilangan akal yang semakin bringas setiap detiknya itu. Ia bahkan terpaksa melemparkan pandangan membunuh pada beberapa wanita bayaran yang mencoba mengambil keuntungan dari situasinya.
"Kalian menyusahkan tau."
Rayden baru saja menutup pintu club malam saat mendengar bunyi pukulan. Berbalik ia mendapati Adrian yang menjulang di atas Leo yang terkapar di lantai parkir mobil.
"Kau bajingan!" Adrian melayangkan satu tinjuan pada Leo yang tak berdaya. "Kau membuatnya menangis lagi. Kau melukainya lagi."
Pada awalnya Leo hanya diam menerima setiap luapan emosi Adrian membiarkan dirinya dihancurkan oleh pukulan demi pukulan. Sudut bibirnya berdarah sementara bagian rahangnya yang dihantam membiru. Adrian tampaknya sepenuh hati ketika memukulinya.
"Kau pikir itu salah siapa?" Leo pada akhirnya mendapatkan tenaganya setelah sekian lama berdiam. "Kaulah yang membuatnya jadi begitu."
Kini gantian Leo yang memukuli Adrian. "Kalau saja kau tidak terus ikut campur ke dalam hubungan kami, semua itu tidak akan terjadi. Kaulah yang bajingan di sini. Dia tunanganku seharusnya kau tau diri."
Berdiri di tempatnya Rayden hanya melipat lengan menyaksikan perkelahian itu dalam diam. Biarlah kedua orang itu saling menghajar sampai puas. Kapan terakhir kali ia melihat adegan semacam ini? Rasanya sudah lama sekali.
TBC.
__ADS_1