
SMA sentosa berdiri membentuk huruf H capital dengan dua halaman utama. Gedungnya terdiri dari tiga lantai dengan paping blok berbentuk kacang di lapangan depan dan rumput sintetis hijau di bagian belakang. Dindingnya berwarnakan hijau muda pudar berpadu putih susu.
Di sala satu koridor yang mengarah ke area parkir kendaraan dua orang perempuan berjalan. Hak tinggi yang digunakan oleh sala satu dari mereka berbunyi nyaring di lantai keramik. Ia seorang perempuan cantik yang sebentar lagi berusia empat puluh. Rambutnya digelung elegant dengan gaun ketat berwarna marun. Bibirnya sendiri berhiaskan lipstick ungu gelap. Tidak ada yang akan menduga bahwa perempuan itu dulunya seorang penyedia jasa kehangatan bagi pria-pria b*jingan. Di sebelahnya seseorang gadis SMA sedang memasang raut wajah masam.
“Berhentilah merajuk, Neta. Keputusan sudah final, kakek dan papamu menganggap itu hanya kesalahpahaman dan pihak sekolah juga sudah sepakat tidak akan memperpanjang masalah.”
Keduanya baru saja dari ruang guru, menemui wali kelas Neta guna mengonfirmasi insident pelabrakan yang menghebohkan satu sekolah itu. Neta bisa mengerti jika ibunya enggan memperpanjang urusan dengan pihak sekolah, tapi diluar itu. Bisa-bisanya kakek dan ayahnya menutup kasus seolah tak terjadi apapun. Namun yang paling membuatnya kesal adalah hukuman skors selama tiga hari yang ditetapkan padanya. Jadi tidak salahkan jika ia merajuk sebagai bentuk protes.
Mereka tiba di parkiran dengan mobil silver yang menunggu setia.
“Masuk, Neta.” Yang dipanggil bergeming. “masuklah dan mama akan jelaskan semuanya.”
Neta menutup pintu kasar menatap sang ibu dengan pandangan menuntut. Aluna baskoro mendengus melihat sikap kekanakan sang putri. Kelakuan yang cocok untuk orang seusianya. Sejujurnya Aluna lebih senang melihat Neta yang seperti itu ketimbang gadis pendiam yang sering dilihatnya akhir-akhir ini. Tangannya membuka laci mobil melempar sebuah majalah.
“Bacalah, kau akan paham.”
Neta melirik sang mama yang fokus menyetir sejenak sebelum menatap majalah di pangkuannya. Sampul utamanya menampilkan wajah Adrian yang mengenakan jas biru Prusia. Di bawahnya di tulis dengan huruf cetak besar take line utama berita : perpindahan kepemilikan AA group pada Baskoro grub. Hanya dari satu kalimat yang menjadi topic utama headline news majalah bisnis itu, otak pintar Neta sudah mampu membentuk korelasi dari semua kejadian dan membuat satu kesimpulan. Kakeknya menggunakan insident itu untuk menekan Adrian hingga pria itu harus menyerahkan perusahannya.
Tangan Neta yang mencengkram erat kedua ujung majalah hingga kusut. Bisa-bisanya mereka ... Perlakuan itu tak luput dari pandangan Aluna yang hanya bisa menggeleng. Ia juga sama marahnya tapi keputusan ayah mertuanya adalah mutlak.
“Kakek mengambil keuntungan bisnis dari kejadian itu? dan papa menyetujuinya.” Neta tidak pernah lebih marah dari itu.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam penghinaan karena statusnya yang terlahir wanita kasta rendahan. Ia tidak pernah merasa serendah sekarang. Taukah keluarganya betapa itu melukai hatinya?
“Kau seperti tidak tahu pikiran para maniac bisnis saja. Tentu saja semuanya hanya tentang keuntungan.” Aluna mendengus, ia memahami kekecewaan yang putrinya rasakan tapi tak bisa berbuat banyak juga untuk mengubahnya. “kau bisa membalas perempuan itu dengan cara lain. Deandra mengirimkan beberapa opsi pada mama tadi.”
__ADS_1
Neta mengerenyit mendengar nama temannya disebut. Bukan apa-apa Neta cuma tidak ingin Deandra berhadapan dengan Adrian jika sampai temannya itu nekad.
”Kapan mama ketemu Deandra?” tanyanya curiga.
“Kapanpun ada kesempatan.” Aluna mematikan mobil di depan gerbang utama kompleks perumahan Jeikarta .”mama ada urusan, kau tidak keberatan kan jalan kaki dari sini?”
Neta mengangguk sebagai tanggapan. "Langsung pulang ya, jangan keluyuran.”
Aluna melambaikan tangan sebelum melebur bersama kendaraan lainnya. Setelah mobil sang ibu benar-benar menghilang barulah gadis itu memutar arah. Ibunya akan marah jika tahu tapi Neta tidak ingin pulang dan bertemu keluarga Baskoro lainnya saat ini. Jadilah gadis itu berjalan kaki menuju taman tak jauh dari sana.
Suara hiruk pikuk dari orang-orang yang memenuhi sekitaran taman bercampur dalam kebisingan yang memusingkan. Neta memandang jauh ke atas biru cerah yang berhiaskan awan Siprus. Sekarang Desember yang mana seharusnya waktu-waktu mendung berkuasa tapi hari ini langit sangat cerah kontras dengan pikirannya yang suram.
Ia baru saja melanggar janji dengan sang ibu. Neta kecewa atas keputusan keluarganya yang menutup kasus Kania sebagai kesalahpahaman tanpa mendiskusikan terlebih dahulu dengannya. Neta merasa hak dirinya sebagai korban dirampas begitu saja. Mereka tidak tahu betapa banyak cibiran yang ia terima, berapa banyak pelecehan verbal yang diarahkan padanya setelah kejadian itu. Neta bahkan sempat berpikir untuk berhenti sekolah barang sejenak saking tidak nyamannya.
Gadgetnya berbunyi lagi untuk kesekian kali pagi ini. Namun Neta memilih membiarkannya saja, ia sedang tidak dalam perasaan bagus untuk berbicara dengan seseorang sekarang. Bergerak ke dalam posisi rebahan Neta meresapi dingin angin yang menerpanya. Ia tidak peduli jika baju seragamnya akan kotor atau pendapat orang-orang ketika melihatnya sekarang. Neta hanya ingin menjernihkan pikirannya dari segala sentimen negatif yang menguasai kepala dan hatinya.
Kenyataan yang kejam pikirnya selagi memandangi itu semua. Bahkan jika dirinya berpusing ria dalam rasa marah dunia akan tetap berputar pada jalurnya. Neta melambaikan tangan pada sebuah taksi bertepatan dengan gadgetnya berbunyi dengan nama Vita yang muncul di layar.
Apa lagi mau medusa satu ini?
Tanpa Neta ketahui seseorang sedang menatapnya tajam. Gadis cantik yang kini sedang memberontak dari bekapan seseorang itu mengumpatkan serangakaian kata-kata kasar tertahan.
"Tak bisakah kau berpikir dulu sebelum berbuat sesuatu?" Dante melepas repleks bekapan tangannya pada Kania ketika perempuan itu menggigitnya. "Apa kau tahu dampak yang akan terjadi jika kau benar-benar melaksanakan niatmu itu?"
Mereka berada di area parkiran tak jauh dari lokasi Neta berada tadi. Keduanya hendak menemui Adrian guna mengonfirmasi secara langsung mengenai informasi menggemparkan yang menjadi topik hangat di portal berita bisnis pagi ini. Namun ketika melewati area taman kota Kania tiba-tiba saja meminta berhenti. Dante kira ia kebelet ke toilet atau apa tadi. Ternyata ia mau menghampiri Neta dan membuat masalah lainnya untung saja Dante berhasil mencegahnya.
__ADS_1
"Kau ingin aku diam saja? Gara-gara gadis itu Adrian kehilangan perusahaanya dan dipermalukan." Napas Kania terengah-engah saat bicara. Wajah putihnya dibaluri ruam kemerahan. "Kau lebih tahu dari siapapun betapa Adrian menyayangi usahanya itu. Ia membangunnya dari nol tanpa bantuan siapapun dan kehilangan begitu saja gara-gara gadis itu."
"Lalu? Kau berencana melakukan apa? Memukulnya? Memakinya seperti yang kau lakukan waktu itu?"
Dante mendengus tak pernah tahan dengan sikap kekanakan Kania. Kadang ia bertanya-tanya apa yang dilihat Adrian dari perempuan ini hingga rela terjun kubangan sampah demi dirinya. Jika itu dirinya sudah lama Dante mengusir jauh perempuan ini dari hidupnya.
"Sejujurnya Kania, sebagian dari masalah yang menimpa Adrian itu merupakan ulahmu. Pernahkah kau melihatnya dari sudut itu?"
Dante mendecak saat melihat ekspresi keras kepala di wajah Kania. Perempuan ini rupanya tidak pernah sadar diri karena Adrian terlalu memanjakannya dan Dante muak sekarang. Peduli amat jika nantinya Adrian akan menumpahkan amarah padanya.
"Kau pikir Baskoro Grub hanya mengambil sembarangan begitu? Itu penalti yang harus dibayar Adrian agar kau tidak masuk penjara, supaya perbuatanmu pada Neta selesai tanpa perlu ada yang terluka."
Dante memang sedikit banyak sudah memperkirakan kemungkinan yang terjadi tapi tak separah sampai separah ini. Siapa pula yang mengira Baskoro akan memanfaatkan perbuatan Kania untuk menekan Adrian bahkan sampai mencabut sahabatnya itu ke akar-akarnya.
Dante tahu para Baskoro itu licik tapi memanfaatkan penindasan pada anggota mereka sebagai keuntungan bisnis? Demi tuhan Dante belum pernah melihat orang yang begitu dingin pada keluarga sendiri. Dante jadi penasaran bagaimana kira-kira perasaan Neta jika ia tahu masalah ini. Namun Dante berani bertaruh gadis itu pasti tidak akan diberi tahu. Biar bagaimanapun juga itu diluar jangkauannya dan kalaupun tahu ia jelas tidak akan peduli juga.
"Maksudmu gara-gara aku menemui Neta hari itu?" Mata Kania mulai mendung oleh air mata. Suaranya tersendat saat berbicara.
Dante menatap sinis terang-terangan. Menemui? Memaki, menampar, melemparinya dengan telur busuk, bahkan menyewa preman, ia menambahkan dalam hati.
"Ya, kalau kau sudah paham. Kendalikan dirimu dan jangan menambah masalah baru bagi Adrian. Ia sudah terlalu banyak berkorban demi dirimu."
Dante merendahkan tubuhnya menatap Kania tajam, sesaat ia diliputi rasa bersalah saat melihat pipi putih itu basah oleh air mata. Namun Dante perlu memperingatkan perempuan cengeng ini agar tidak gegabah terutama yang berkaitan dengan Neta.
"Dengar kania, ini terakhir kali Adrian harus membayar dosa yang kau buat. Jangan sampai ada lain kali karena jika sampai itu terjadi, aku tak akan segan menjatuhkan tangan padamu."
__ADS_1
Dulu waktu mereka masih SMA Adrian pernah menginap di balik jeruji besi gara-gara Kania dan sekarang ia kehilangan perusahannya. Besok-besok Adrian bisa kehilangan nyawa gara-gara perempuan ini dan Dante tidak mau itu terjadi.
TBC.