Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Ayah dan anak


__ADS_3

Neta memandang lama pada kalender yang diberi lingkaran dengan spidol merah. Tarikan napasnya menjadi berat ketika angka-angka hitam dalam barisan masih menyisahkan tiga Minggu penuh. Masih selama itu, pikirnya tiba-tiba tak bersemangat.


Sejak penetapan aturan pernikahan dari sang kakek, Adrian tidak pernah muncul dan mengganggu hidupnya lagi. Rasanya seolah keberadaan pria itu hilang ke alam lain. Sedikit sepi sebenarnya mengingat kebiasaan mereka yang suka berdebat hal sepeleh. Namun itu bukan masalah bagi Neta ini hanya seperti kembali ke keadaan semula sebelum insident pernikahan mengaitkan mereka.


Mereka hanya sebatas tetangga tanpa pernah benar-benar saling menyapa. Dekat tapi sangat jauh seolah tembok dimensi tak terlihat membatasi keduanya. Neta meletakkan spidol asal memeriksa chat beruntun yang dikirimkan Deandra. Ia baru saja hendak membalas saat pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Masuk!"


Neta meletakkan gadgetnya begitu saja menanti siapa sekiranya yang berkunjung malam-malam. Kemungkinan besar itu adiknya tapi bisa jadi orang lain seperti terkahir kali.


"Apa kau sibuk?"


Nah, kan. Wajah dari seseorang yang ia panggil ayah muncul. Ekpresinya ragu-ragu.


"Enggak, papa ada perlu apa?"


Hazar memandangi kamar putrinya sekilas melangkah enggan. Baginya ini pertama kali ia masuk kesini dan fakta itu sedikit mencubit hatinya. Masih bisakah ia berpikir dirinya seorang ayah? Sedangkan ia tak pernah sekalipun menaruh peduli darah dagingnya itu. Jangankan mengunjungi sekedar menyapanya saat makan pagi bersama pun tidak.


"Papa, ingin membahas sesuatu kalau kau tidak keberatan."


Neta mengikuti detail setiap pergerakan sang ayah. Tubuhnya bergerak dalam kecanggungan yang begitu kentara seperti boneka yang tali-talinya terlilit.


Apa ini? Pikirnya sedikit heran. Mengapa semua orang dewasa di sekelilingnya bertingkah seolah mereka adalah orang tua yang baik? Pertama sang kakek lalu ibunya dan sekarang ayahnya. Apakah sekarang takdirnya sedang mengarahkannya pada adegan drama penyesalan orang tua pada anak yang terabaikan? Neta tersenyum kecil tanpa sadar.


"Masuk aja, Pa."


Suasana di antara mereka sangat canggung. Terutama sang ayah yang bertingkah seakan sedang disebuah persidangan dengan para hakim tak kasat mata yang siap menjatuhkan putusan padanya. Neta memaklumi mengapa bisa jadi begitu tapi ia tidak berniat memperbaikinya. Hubungan mereka tidak bagus kalau enggak disebut buruk.

__ADS_1


Hazar mungkin seseorang yang telah menyumbang napas kehidupan dan nama padanya tapi hanya sebatas itu. Ia tidak akan pernah lagi menjadi seseorang bagi Neta, tidak setelah ikatan darah mereka mengering bertahun-tahun lalu.


Bagi Neta, memulai menjalin kembali setelah semua pengabaian selama bertahun-tahun rasanya sudah sangat terlambat. Neta sudah menggepakkan sayapnya sekarang dan tinggal menunggu waktu hingga terbang.


Pandangannya berputar acak menjauhi apa saja asal jangan wajah cantik itu selagi menemukan kata-kata di pikirannya yang nyaris kosong. Kemampuannya dalam bermain kata saat merayu para perempuan maupun ketika mengintimidasi para pesaing bisnisnya, entah bagaimana lenyap. Di hadapan sang anak bahkan menyusun kosakata paling sederhana saja rasanya sulit. Matanya kemudian menangkap objek tak biasa di kalender di atas meja.


"Ada apa dengan lingkaran merah di tanggal ini? Apakah itu sesuatu yang special?"


Neta mengikuti objek yang ditunjuk sang ayah, mempertimbangkan pilihan antara menjawab jujur atau tidak sambil mengira-ngira bagaimana reaksinya. Ini agak menarik, sekali lagi ia mengembangkan senyum.


"Itu pengingat, sisah berapa hari sampai pernikahan Neta berakhir."


Dalam sepersekian detik Neta mendapati ekpresi terhenyak di wajah sang ayah. Putra sulung Baskoro yang biasa berwajah angkuh itu mendadak suram.


"Apakah Adrian membuatmu kesulitan?"


"Jika dia melakukan sesuatu tolong beritahu papa. Biar papa yang menanganinya."


Sebelas tahun lalu, kata-kata semacam itu adalah yang paling Neta tunggu. Kalimat penyemangat yang bisa ia banggakan pada teman-temannya, bahwa ayahnya sangat sayang padanya dan akan melakukan apapun untuknya. Namun sekarang ... Setelah ia sudah terbiasa menangani apapun sendirian. Rasanya seperti sia-sia.


"Sudah seharusnya papa, aku seneng banget dengernya. Sayang, papa baru mulai sekarang."


Pepatah bilang lingkungan membentuk kepribadian seseorang. Neta sangat setuju dengan ungkapan itu. Ia telah diabaikan hingga nyaris tidak lagi memilki kepercayaan pada keberadaan orang dewasa. Jadi ia juga akan mengabaikan jika kalimat sindiran itu akan menyinggung hati sang ayah.


"Neta ... " Hazar memijit pangkal hidungnya. "Papa ... "


"Enggak masalah pa, aku ngerti kok." Sulit bagi seseorang seperti Hazar yang berasal dari keluarga terhormat harus menerima kenyataan bahwa ia memiliki bayi dengan seorang debu jalanan seperti ibunya. "Lagipula tidak peduli bagaimanapun, aku adalah darah daging papa."

__ADS_1


Neta masih mempertahankan senyum di bibirnya mengusir jauh kemarahan yang telah ia latih untuk dikendalikan. Ia sudah besar sekarang, ia sudah mampu mengatur emosi kapan harus menunjukkan yang bagaimana sesuai waktunya. Ia bukan lagi gadis tujuh tahun yang hanya bisa menangis ketika rambutnya ditarik untuk uji DNA. Ia bukan lagi anak polos yang tetap tertawa meski orang lain melemparkan kotoran padanya.


"Yah, meski orang-orang meragukannya."


Sebelas tahun lalu Neta masih terlalu kecil untuk memahami apa itu uji DNA yang ketika ia mengetahui maknanya ia sesali. Bagi Neta, ia lebih memilih jika hasil test itu negative jadi dirinya bisa membenci seseorang yang meragukan darahnya itu sesuka hati. Namun Tuhan itu terlalu baik, Baskoro dinyatakan seratus persen ayahnya yang mana membuat dirinya marah dan berhenti berdoa sejak saat itu.


"Apakah seseorang mengatakan hal tidak-tidak lagi padamu?"


Neta menggeleng kecil membuat bahu Hazar yang tegang segera mengendur. "Kali ini agak beda. Ia bertanya apakah aku anak mama atau bukan."


Neta tertawa renyah. "Lucu sekali kan, pa. Bagaimana bisa ia berpikiran begitu."


Seorang ayah normalnya akan ikut mentertawakan hal konyol itu, seharusnya, karena pada kenyataannya Hazar tidak. Ia mengerenyit memandang tawa putrinya dengan perasaan aneh yang mengaliri dirinya.


Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan selama ini. Baginya Neta tidak lebih dari anak yang terlahir karena kecerobohan belaka. Jika saja test tidak menunjukkan darahnya mengaliri tubuh gadis itu Hazar mana Sudi untuk peduli. Memberi kebutuhan untuk agar Neta bisa hidup saja baginya sudah cukup. Kasih sayang dan tugas seorang ayah ada di nomor terakhir.


Namun sekarang ketika seorang itu menyinggungnya Hazar jadi kepikiran. Kalau ia ingat lagi Neta memang tidak memilki kesamaan dengan Aluna baik itu secara fisik maupun perilaku.


Aluna cendrung aktif sedangkan Neta lebih menarik diri dari sosial. Jika ada kesamaan itu hanya pada mulut pedas mereka.


"Dia hanya iseng. Papa rasa."


Neta mengangguk kecil.


"Istirahatlah. Kamu masih harus sekolah besok. Selamat malam sayang."


Hazar berbalik secepat kilat mengubah wajah ramahnya menjadi serius. Percakapan dengan sang putri barusan membuatnya menyadari sesuatu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2