Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
Saingan


__ADS_3

Leo jelas tidak suka dengan semua usaha yang ditunjukkan Adrian untuk merebut perhatian Kania. Entah itu datang ke kafe atau mengundangnya dalam sebuah acara perayaan. Terlebih itu dilakukan terang-terangan di depan matanya. Seolah Adrian ingin memperlihatkan bahwa ia tidak mengakui pertunangan mereka. Seolah Kania masih dalam genggamannya.


"Sayang, bisakah aku meminta yang biasa? Hari ini kantor sangat menjengkelkan."


Leo melemparkan senyum manis menatap Kania penuh rasa sayang. Ia bahkan mengelus lembut kepala Kania demi menunjukkan betapa hangat hubungan mereka dalam usaha mengejek Adrian. Kafe AK agak lenggang sekarang karena memang bukan lagi jam istirahat, hanya beberapa pelanggan yang acuh pada keadaan kecuali mengisi perut mereka.


Duduk diam di hadapan kedua pasangan di mabuk asmara itu. Adrian menatap tak terbaca perlakuan menantang itu dengan alis berkerut.


Leo sengaja memperontonkan kemesraan untuk memprovokasinya tampaknya? Kekanakan sekali. Adrian menyeringai dalam usaha mencemooh sikap Leo. Tidak perlu melakukan hal itu pun Adrian tahu Kania tunangannya semua orang juga bisa melihat betapa besar gadis itu mencintai Leo. Sikap semacam itu hanya akan mempertegas kenyataan bahwa bahkan setelah status resmi bertunangan Leo masih belum bisa sepenuhnya menyingkirkan Adrian dari hidup Kania.


"Tentu, apapun untukmu."


Kania mengecup pipi Leo sekilas, melangkah semangat ke dalam dapur. Tanpa mengetahui perang dingin dari kedua pria dewasa itu. Gadis itu terlalu sibuk dengan kebahagiannya tentang menyajikan makanan untuk sang tunangan. Leo sendiri sengaja menyeringai pada Adrian seolah mengatakan : lihat siapa yang memilikinya.


Adrian mendengus kecil semaksimal mungkin mempertahankan ekpresi biasa. Jika Leo pikir ia akan terpancing cemburu maka lebih baik pria itu menelan harapannya. Adrian tidak akan pernah menunjukkannya. Beberapa tahun lalu moment seperti ini nyaris terjadi setiap hari. Saat ketika keduanya memperebutkan perhatian Kania tak jarang semua berujung pada adu fisik.


Namun itu dulu, mereka masih dikuasai egoisme remaja yang menggebu-gebu. Ideologi tak mau saling mengalah dan merasa paling berhak atas Kania. Sekarang mereka sudah dewasa bukan lagi masanya untuk saling adu fisik, terutama posisinya sudah berubah. Leo adalah tunangan Kania sedangkan ia sendiri sudah memiliki istri.


Panjang umur, pikir Adrian terkekeh saat melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam kafe.


"Neta, di sini." Ia melambaikan tangan menarik gadis itu secepatnya dari pandangan lapar beberapa pelanggan laki-laki.


Seperti biasa istrinya itu cantik dengan usianya, sederhana, bahkan dalam balutan seragam sekolah yang bagian atasnya ditambah kardigan krem. Adrian tidak benar-benar memperhatikan sebelum ini tapi setelah semua interaksi mereka berdua. Ia tahu istrinya itu punya semacam aura ajaib yang menyihir orang untuk tertarik padanya.


Di sisi lain, Leo yang mendengar nama itu jadi serta merta terdiam. Interaksi terkahir mereka walau cuma berpandangan mata membuatnya merasa sungkan. Dua kali bertemu sudah cukup baginya untuk mendapatkan gambaran mengenai sifat gadis itu. Dia tampak biasa tapi Leo tahu gadis itu lebih dari kelihatannya.


"Maaf, tadi ada urusan sama Deandra."


Ia berbicara dengan suara jernih, lembut, tapi intonasinya sangat datar. Leo tak dapat mengendalikan mata untuk tidak terus memandanginya sampai gadis itu duduk tepat di hadapannya. Keduanya beradu tatap dan sebuah senyum sopan menghiasi bibirnya sebelum mengalihkan perhatian pada sang suami.


"Mas, Adrian sudah lama nunggu?"


Ekpresinya sangat biasa ketika menatap Adrian, seolah pria itu temannya dan bukan pasangannya. Leo memang tidak mengharapkan tatapan mesra ala pasangan yang sudah menikah tapi minimal, terpesona. Bahkan dalam pandangan matanya sebagai laki-laki, Adrian sangat mempesona dalam balutan kemeja biru pucatnya. Namun sepertinya gadis itu tidak melihatnya atau sudah terlalu sering jadi tidak memberi efek lagi padanya.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Adrian.

__ADS_1


"Aku udah makan sama Deandra tadi."


Di tempatnya Adrian melirik Leo yang memandangi istrinya nyaris tak berkedip dengan sorot menilai. Ia sengaja mengundang Neta kemari untuk membuktikan usaha menyedihkannya dalam melupakan Kania pada Leo. Walau sejujurnya Adrian ragu itu akan sukses.


Mungkin seharusnya memang lebih baik Vita saja, pikirnya menyayangkan. Vita tergila-gila padanya dan bahkan jika ia memperlakukan gadis itu dengan buruk, ia akan tetap menyukai Adrian. Jadi Adrian tidak perlu repot-repot mempertahankan rumah tangga mereka karena Vita akan mengusahakannya sendiri. Itulah mengapa ia menyetujui sarat pernikahan dalam bisnis kerjasamanya.


Seseorang seperti Vita yang berniat mengikat dirinya pada Adrian akan jadi tameng yang bagus agar Kania percaya bahwa ia sudah melupakan gadis itu. Namun dengan Neta? Adrian hanya bisa pasrah.


"Jadi, kenapa mas, Adrian memintaku datang ke sini? Ada perayaan kah?"


Neta menggulirkan pandangan dalam usaha membebaskan diri dari hawa berat yang melingkupi meja itu. Kedua pria dewasa itu tampaknya tidak sadar akan situasi.


"Cuma minta ditemani makan siang. Tidak masalah kan?"


Balasan sederhana sangat tidak Adrian itu tak pelak membuat alis Neta terangkat. Ia melemparkan pandangan pada Adrian dengan sorot tak terbaca. Apa yang sedang coba dilakukan pria ini? Pikirnya keheranan. Neta lalu melemparkan pandangan pada Leo yang masih memandanginya tajam.


Jangan bilang kalau kedua pria ini memintanya jadi juri persaingan cinta mereka. Neta menghela napas lemah, mengusir jauh asumsi terlampau konyol itu. Persaingan memang membuat orang lupa usia.


"Tidak, tapi lain kali lebih baik bawa bekal saja, atau aku bisa membawakannya ke kantormu, mas. Makan di luar itu tidak bagus bagi kesehatan."


Terutama untuk kesehatan mental. Sungguh, mengapa dia harus terlibat cinta Piramida orang-orang dewasa ini? Khususnya Adrian, tidak bisakah pria ini bersikap sesuai umur, menghadapi kenyataan dengan gentle. Sebagai orang luar yang baru bergabung Neta sangat menyayangkan sikap memaksa Adrian.


Ternyata pepatah itu tidak pernah salah. Kalau urusan cinta semua orang bisa jadi benar-benar bodoh.


"Ide, bagus, ta. Biar suamimu tidak keluyuran kemana-mana." Leo berbicara tanpa mengalihkan mata dari Adrian. Ia cukup terhibur melihat ekpresi masam di wajah saingannya itu.


"Mas, Leo, juga. Harusnya jangan suruh mbak Kania jualan. Sayang kan kemampuannya jadi dinikmati banyak orang."


Kali ini gantian Adrian yang menyeringai. Istrinya tidak pernah melempar tusukan hanya pada satu orang. Sayang sekali Leo tidak tahu itu.


"Omong-omong, mbak Kania di mana? Dapur ya? Biar aku bantu aja. Mas, Adrian mau di masakin apa?"


Neta yang muak pada persaingan sengit secara dingin itu memutuskan untuk menemui sumbernya saja. Jika beruntung ia akan menemukan solusi agar kedua orang itu berhenti dari sikap puberitas persaingan cintanya.


Adrian menoleh pada istrinya menatap curiga. Ia tidak sedang merencanakan sesuatu kan? Adrian tiba-tiba merasa was-was.

__ADS_1


"Apa aja, asal aman di makan."


Neta mengangguk paham melenggang riang menuju dapur. Di sana ia mendapati Kania yang sedang sibuk memotong beberapa sayuran.


"Mbak Kania." Panggilnya. "Aku bantu ya? Soalnya mas Adrian minta dimasakin sesuatu."


Lanjutnya ke tujuan utama. Neta tidak benar-benar ingin memasakkan makanan untuk Adrian. Ia hanya ingin pergi dari sana meski sejenak.


Kania yang kaget oleh tamu tak diundang itu refleks melompat kecil, nyaris mengiris jarinya. Ia tersenyum lega begitu mendapati Neta berdiri di sampingnya.


"Eh! Biar aku aja. Ini aku udah buat dua porsi. Kamu tahu kan, Adrian itu pemilih." Kania tersenyum riang selagi menumis bumbu utama. Ia bahkan bersenandung kecil.


"Mbak, bikin buat mas, Leo aja. Mas Adrian biar aku."


Neta tak paham mengapa dirinya mengatakan itu. Padahal lebih bagus kalau Kania yang membuatnya. Di tempatnya Kania mendadak berhenti alisnya mengerenyit.


"Aku udah bikin dua porsi. Biasanya juga gitu."


Nadanya berubah agak kasar saat berbicara yang mana mengundang perasaan heran di Neta. Namun ia bisa menutupi dengan baik dengan memilih bahan yang tersedia.


"Nah, sekarang bikin satu aja. Biar aku ...,"


"Neta ..." Kania memotong tajam. Ekpresi ramahnya mendadak lenyap digantikan pandangan tak suka. "Adrian itu ..."


"Suamiku." Neta mengambil tomat segar terang-terangan mengabaikan pandangan jengkel Kania. "Aku yang bakal urus mulai sekarang. Mbak tanganin aja mas Leo."


Ia melewati Kania berdiri di sala satu kompor. Tangannya kemudian memotong tomat itu menjadi beberapa bagian.


"Kamu enggak bakal sanggup. "Neta melirik dalam diam, mempertanyakan mengapa Kania harus begitu keras kepala. Sadarkah perempuan itu dengan apa yang dilakukannya sekarang? " Adrian itu pemilih dan dia cuma suka masakan aku."


Bahkan merebut jamur dari genggamannya.


"Neta ..." Kania bersidekap ekpresi hangatnya telah lenyap entah kemana. "Kamu enggak perlu repot-repot. Jangan sia-sian tenaga kamu sama hal di luar bidang kamu."


"Masak untuk suami itu kewajiban istri mbak. Bagian mana dari itu yang nyia-nyiain tenaga. Selain itu, mbak enggak punya hak ngelarang aku. Dia suamiku."

__ADS_1


Neta mendengus merebut balik jamur dari genggaman Kania. Diam-diam menyeringai, ah, sudah ia duga. Gadis lembut dan anggun itu menyeramkan.


TBC.


__ADS_2