Menikahi CEO Tukang Desah

Menikahi CEO Tukang Desah
penghianat


__ADS_3

Neta bersenandung kecil menyantap hidangan yang tersaji dengan lahap. Merasa senang karena akhirnya bisa mengisi perut dan tak ambil pusing pada atmosfer berat yang melingkupi keadaan. Baik, Adrian, Vita, maupun perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Angela itu makan dengan canggung.


Tampak urat wajah mereka mengencang seakan menarik dirinya secara berlebihan, pun rona yang mewarnainya. Mereka nyaris transparan hingga Neta perlu mencuri pandang sesekali guna memastikan bahwa mereka masih bernapas dengan baik atau tidak.


Apa masalah orang-orang dewasa ini? Tidakkah mereka khawatir mengenai pandangan orang ketika melihatnya. Neta tahu sedari tadi sudah banyak mata-mata penasaran yang mengarah ke meja mereka. Aroma gossip hot bertebaran di udara tercium oleh dirinya.


Seorang pria dengan tiga perempuan? Jelas akan menimbulkan banyak asumsi di kepala orang-orang. Apalagi dua di antaranya cukup dikenal masyarakat luas.


Neta baru saja hendak menyelamatkan diri dengan pergi ke toilet saat tiba-tiba sebuah dering gadget terdengar. Sang pemilik, Adrian segera memeriksa miliknya, membaca tulisan yang tertera di sana. Dahinya berkerut sangat dalam jelas tidak senang dengan informasi apapun yang ia terima. Ia menyimpan gadgetnya cepat menatap ketiganya.


"Sorry, ada urusan mendesak. Saya duluan ya."


Setelah mengumumkan keinginannya Adrian berdiri, mendekati Neta dan secepat kilat mengecup bibirnya. Hangat dan basah. Neta yang menerima serangan mendadak hanya bisa diam melongoh selama beberapa detik sampai kewarasan menyadarkan dirinya. What the ...


Wajahnya memerah campuran antara rasa malu dan marah.


Oke, pria ini mendeklarasikan perang rupanya. Neta mendelik ganas menipiskan bibir masam. Garpu malang yang tergenggam tangannya hampir bengkok saking eratnya ia memegangnya. Berani-beraninya pria kurang ajar itu menodai bibirnya lagi. Neta menyebutkan segala macam makian paling kasar yang ia bisa dalam pikiran. Ingin sekali melakukan beberapa tindakan kekerasan sebagai peringatan. Ingatkan dirinya untuk membasuh bibir dengan buah tujuh macam nanti sebelum tidur.


Di lain pihak, Adrian menyeringai matanya berbinar penuh kemenangan. Balasan yang indah untuk istrinya yang manis.


"Sampai nanti di rumah," bisiknya mesrah semakin membuat panas suasana.


Wah, Neta merasa mual mendadak, melepas dengusan tak percaya. Dalam diam membuat catatan untuk tidak lengah lagi. Setelah ceriwis, pemaksa, rupanya Adrian juga pendendam, dan itu perlu diwaspadainya.


Di sisi lain Vita yang menyaksikan adegan romantis itu tak pelak merasa panas. Dadanya berdentum-dentum oleh emosi yang tersulut. Apa-apaan itu? Seorang Adrian mau mencium gadis yang masih bau kencur? Dan mengabaikan dia yang jelas-jelas lebih dalam segalanya? Benar-benar penghinaan.

__ADS_1


Kepalan tangannya menguat hingga urat-uratnya bertonjolan mengancam akan keluar. Kurang ajar, ia terus mengumpat, melayangkan tatapan membunuh pada sang adik.


Di tempatnya Angela tertegun kaku. Butuh beberapa menit baginya untuk mencerna situasi. Adrian yang dingin? Pemilih? Baru saja menciumnya gadis seumur jagung dihadapannya? Astaga, ia menarik napas dalam menetralkan paru-parunya yang menyempit. Bagaimana bisa orang-orang menyebut itu pernikahan bisnis? Jelas-jelas Adrian menginginkan gadis itu.


Merasa ditampar secara memalukan. Angela berdiri pamit meninggalkan kakak beradik Baskoro yang masih bergelut dengan pikiran masing-masing.


"Sepertinya hubungan kalian lebih akrab dari yang kakak kira." Vita mati-matian menyingkirkan amarah yang bergeliat dalam dadanya, menahan hanya sebatas kepalan tangan.


"Yah, dalam konteks yang sebaliknya."


Neta meringis menyadari aura gelap yang memancar dari tubuh sang kakak. Cukup dipukuli dengan tekanan emosi saja. Jangan sampai mata pengutuknya keluar dan membuat ia jadi batu, harap Neta dalam hati.


Tolong, Dewi keberuntungan, atau siapapun yang bertugas memberikan berkah nasib baik, berikan tameng ajaib perseus agar bisa menangkis laser Medusa di yang akan segera diarahkan pada dirinya.


"Kakak tau, kan. Adrian itu gimana, dia cuma main-main. Kayaknya, dia enggak terima pengantinnya diganti."


"Udah, kita pulang."


Vita berdiri dengan gerakan kasar. Berjalan dalam langkah satu dua yang teratur. Tumit sepatunya berdentang nyaring seperti lonceng kuil saat peringatan kematian.


Di belakang Neta yang menyaksikan itu semua hanya bisa mendesah lelah. Orang-orang dewasa dengan harga diri setinggi dewa, mereka sungguh merepotkan.


Di dalam mobil, situasi tidak lebih baik kalau enggan dikatakan sangat buruk. Vita diam fokus menyetir dengan garis bibir lurus. Tidak ada yang berniat membuka percakapan. Sesekali Neta mendapati sorot mata tajam sang kakak dan refleks berpegangan saat Vita memanuver mobil secara ekstrim saat mendahului kendaraan lain.


Neta tidak bisa menahan laju ngeri dalam dirinya ketika menyaksikan cara Vita mengemudi. Rasanya seolah di sedang berlari menuju kematian.

__ADS_1


Kompleks perumahan elit Jeikarta tampak di depan mata. Gerbang besar yang menjulang sebagai penanda berdiri gagah. Rumah-rumah beraksitektur Eropa berjejer rapi dipinggir jalan menawarkan pemandangan menakjubkan. Keindahan dalam kedinginan.


Mobil silver itu kemudian berhenti di depan rumah besar yang satu-satunya memiliki gaya desain yang berbeda. Rumah keluarga besar Baskoro.


Neta turun dengan gerakan lambat mendesah pelan sebelum memasuki gerbang. Vita sendiri melajukan mobilnya ke dalam garasi.


Di dalam rumah keduanya di sambut anggota keluarga lain yang sedang berkumpul. Semuanya bahkan sang ibu yang duduk di ujung kursi terjauh.


Apalagi sekarang?


Pandangannya tertuju pada seseorang yang jadi pusat dari itu semua. Cucu perempuan ketiga keluarga Baskoro, Nagita, terduduk dengan wajah seperti habis dipukuli. Rambutnya awut-awutan, mata sembab, dan ekpresinya ketakutan.


Di depannya, sang tuan rumah, Baskoro, duduk angkuh dengan wajah geram. Pandangannya tajam menatap gadis yang bersimpuh seperti akan mencincang-cincang cucunya itu atau mungkin sudah dilakukannya.


Ekspresi serupa pun terpoles di wajah Baskoro lain termasuk ayahnya. Hanya ibunya Gita yang memasang raut kasihan. Ia terdiam dalam kekangan sang suami.


Kekacauan apa lagi yang diperbuat kakak sepupunya itu?


Neta berjalan di belakang Vita mendekati ruang tamu yang diubah menjadi ruang persidangan. Ini adalah biasa bagi keluarga Baskoro, siapapun anggota keluarga yang berbuat masalah ia akan di sidang dan diberikan hukuman.


Itupulah alasan yang melandasi mengapa Neta selalu berusaha untuk tidak terlibat dalam masalah, ia tidak suka duduk dipermalukan seperti itu.


"Ada apa ini, kek? Kenapa Gita menangis?"


Neta berdiri di jarak teraman, menantikan kelanjutan dari persidangan keluarga ini. Ia tidak bisa menemukan satupun pikiran mengapa Gita duduk sebagai tersangka itu.

__ADS_1


"Adikmu ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya," suara Baskoro bergetar akibat emosi saat berbicara. "Dialah dalang dibalik kacaunya pernikahanmu dengan Adrian."


TBC.


__ADS_2